Home / HEADLINE / Kami Bukan Humba Yang Menuju Kemusnahan
Foto: tokoh adat Sumba

Kami Bukan Humba Yang Menuju Kemusnahan

Waingapu, VoxNtt.com-Festival Wai Humba V sudah digelar di Kampung Lai Wotung Desa Kadahang, Kecamatan Haharu, Kabupaten Humba Timur pada 26-29 oktober 2016 lalu.

Dalam press release yang diterima VoxNtt.com terdapat beberapa catatan penting  festival ini bagi kehidupan orang Sumba khususnya dari empat gunung di Sumba (Gunung Wanggameti, Tanadaru, Yawilla, Gunung Porunombu) serta kaum muda Pulau Humba (Waingapu, Waibakul, Waitabula, Waikabubak).

Foto: tokoh adat se-pulau Sumba berkumpul dalam festival Wai Humba V
Foto: tokoh adat se-pulau Sumba berkumpul dalam festival Wai Humba V

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama festival; pertama, pentas seni budaya, napak tilas ke Tanjung Haharu, Kampung Wunga, Mananga Kadahang, Danau Wai Mulung,  tempat peradaban orang Humba dimulai.

Kedua, Diskusi kampung tentang tata kelolah lahan, air, hutan, dan Pulau Humba Tanpa Tambang serta investasi penghancur lingkungan dan sosial budaya lainnya.

Ketiga,  Ikrar Persaudaraan Satu Humba. Ikrar ini hendak menunjukkan bahwa masyarakat Humba adalah satu. Perbedaan wilayah administratif hanyalah upaya pemerintah untuk mempermuda pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk mengkotak-kotakan masyarakat Humba.

 

Keempat, Penandatanganan dukungan Tanjung Haharu dan sekitarnya menjadi cagar budaya Humba.

Kelima, Lomba permainan tradisional lokal ma’ka (gasing Sumba).

Menolak Lupa

Selain rangkaian kegiatan tersebut, ada pula pembelajaran penting semenjak Festival Wai Humba digelar (2012 – 2016); pertama, Menolak Lupa terkait Perjuangan Tiga Umbu.

Pada tahun 2010 – 2011 lalu, perusahaan tambang PT Hillgroves Resources dan anak perusahaanya PT Fathi Resources mengobrak-abrik Pulau Humba dengan eksploitasi tambang.

Tiga Umbu di Humba Tengah (Umbu Djanji, Umbu Mehang, Umbu Pindingara) yang rela dipenjara hanya karena mempertahankan tanah dan ruang hidupnya dari gempuran perusahaan tambang.

Foto: Wisatawan asing yang ikut meramaikan Festival
Foto: tamu asing yang ikut meramaikan Festival

Festival ini memberikan pembelajaran kepada generasi muda Humba untuk merawat tanah dan air dari praktek-praktek penghancuran. Artinya, festival ini merupakan festival refleksi perjuangan, bukan festival wisata sebagaimana yang marak dilakukan di Tanah Humba.

Kedua, Keswadayaan.  Festival Wai Humba yang lahir dari suatu perjuangan bersama masyarakat yang menolak pertambangan masuk dan menghancurkan Bumi Humba hingga proses perjuangan penolakan tambang itu yang menyebabkan tiga Umbu asal Sumba Tengah masuk penjara.

Selama tiga Umbu dipenjara, begitu banyak dukungan dan solidaritas dari masyarakat luas, baik berupa pikiran, waktu, dan tenaga hingga harta benda.

Ketiga, Solidaritas. Festival Wai Humba V sengaja dibuat di Tanjung Haharu untuk mengingatkan masyarakat Humba bahwa di tempat ini peradaban Humba dimulai.

Sudah seharusnya generasi muda dan masyarakat Humba mengetahui itu dan bersatu padu merawat dan melindungi Tanah Humba dari ancaman penghancuran.

Oleh karena itu, visi solidaritas tersebut tergambar dalam tema Festival Wai Humba V yakni ‘Kita Terhubung’ dalam mencegah musnahnya ruh peradaban kebudayaan Humba.

Adapun ruh dari Festival Wai Humba dari tahun ke tahun adalah ‘Kami Bukan humba Yang Menuju Kemusnahan’.

Ruh ini menegaskan kepada siapapun bahwa pembangunan dalam bentuk dan dalam bidang apapun tidak boleh menghancurkan peradaban kebudayaan orang Humba.

Rekomendasi

Rekomendasi dari Festival Wai Humba V menghasilkan tujuh butir desakan.

Pertama, menjadikan Kawasan Tanjung Hahar dan sekitarnya menjadi Cagar Budaya Humba yang diakui dalam bentuk kebijakan dan regulasi Pemerintah.

Kedua, tidak boleh ada investasi pertambangan Minerba dan investasi penghancur daya dukung lingkungan dan kebudayaan orang Humba

Foto: tokoh adat Sumba
Foto: tokoh adat Sumba

Ketiga, memberikan beasiswa bagi muda-mudi Humba yang ingin bersekolah di ilmu budaya, antropologi, dan arkeologi agar proses pelestarian budaya Humba makin menguat.

Keempat, pemerintah dan pihak terkait segera mengentikan model pariwisata yang berbasis investor. Pulau Humba membutuhkan investasi pariwisata berbasis kerakyatan

Kelima, menolak segala bentuk penjarahan lahan wilayah produksi rakyat atasnama pembangunan atau investasi

Keenam, Menjadikan Bahasa Humba menjadi salah satu mata pelajaran di semua sekolah di Sumba

Ketujuh, Menggalakan dan melindungi wilayah tutupan hutan serta sumber air di Humba

Kedelapan, Inventarisasi dan melindungi tanah ulayat dan hutan di Humba. (Umbu Wulang/VoN)

 

Komentar

comments

VOX Share Button

Check Also

Kadis Nakertrans Matim Bantah Erlina Tak Diberi Upah

Borong, Vox NTT- Kepala Dinas Nakertrans Manggarai Timur (Matim) Zakarias Sarong membantah Erlina Ekawati (22) …