Home / Gagasan / Bagaimana Nasib PSN Ngada Pasca Liga Nusantara?

Bagaimana Nasib PSN Ngada Pasca Liga Nusantara?

Oleh: Evan Lahur*

Profisiat untuk tim Persatuan Sepak Bola (PSN) Kabupaten Ngada yang sukses menjadi runner up Liga Nusantara 2016.

Meski kalah di laga final oleh Perseden Denpasar, tim yang dibesut oleh Kletus Gabhe sukses mencatat sejarah baru bagi sepak bola NTT.

Tentunya prestasi yang ditorehkan oleh tim PSN Ngada patut dicatat dalam sejarah persepakbolaan NTT.

Di Liga Nusantara sendiri, PSN Ngada  berhasil mengalahkan tim-tim yang sudah berpengalaman di kancah sepakbola nasional yakni GAMA FC Yogyakarta, Persipal Palu, PU Putra Palangkaraya, Mamuju Utama FC dan di semifinal mengalahkan Blitar FC.

Lebih membanggakan lagi ketika di jajaran pencetak gol, terdapat nama pemain PSN Ngada Yohanis Cristo yang sukses meraih gelar top score dengan torehan 5 gol.

Untuk prestasi ini, patutlah kita menaruh hormat setinggi-tingginya kepada tim PSN Ngada karena telah mengharumkan nama NTT.

Linus vs PSSI

Judul item ini sederhananya menggambarkan PSN Ngada di tengah himpitan hingar bingar liga tertinggi sepak bola Indonesia.

Mari kita telusuri apa itu Liga Nusantara? Liga Nusantara sejatinya adalah kompetisi sepakbola amatir nasional yang sebelumnya dikelola oleh Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) yang sudah dibubarkan sejak Kongres Tahunan PSSI di tahun 2014.

Liga ini berada di kasta ketiga di bawah Indonesia Soccer Championship (ISC) B.

ISC A, ISC B maupun Liga Nusantara sendiri merupakan kompetisi yang digelar oleh PT. Gelora Trisula Semesta (GTS) ketika Indonesia mendapat sangsi dari FIFA.

ISC ini bukan bentukan PSSI layaknya Indonesia Super League (ISL). ISC  berstatus independen tidak seperti PT. Liga yang berada di bawah PSSI.

Sehingga kita pun dapat menjelaskan urutan liga di sepak bola Indonesia (dengan operator GTS tadi) yakni ISC A, ISC B dan Liga Nusantara.

Dalam gelaran Liga Nusantara yang telah berlangsung, kita dapat memastikan posisi PSN Ngada berada di kasta ketiga sepak bola Indonesia.

Melalui ulasan  ini, penulis ingin mengajak seluruh pecinta sepak bola Ngada, Flores dan NTT seluruh untuk sejenak berjaga-jaga tentang nasib PSN Ngada pasca Liga Nusantara.

Mari kita berpikir realistis bahwa konsep liga di tahun 2017 bentukan PSSI era Pangkostrad TNI Letjen Edy Rahmayadi  belum sepenuhnya disahkan dalam rapat Exco PSSI.

Sehingga sungguh realistis, setelah ini akan ada pembahasan mengenai konsep liga di tahun 2017. Pertanyaannya ialah bagaimana dengan Liga Nusantara? Apakah Liga Nusantara masuk dalam kasta liga tahun depan? Apakah Liga Nusantara masih berada di kasta ketiga liga sepakbola Indonesia (sesuai konsep GTS)?

Kita tentunya berharap agar Liga Nusantara masih masuk dalam kasta sepak bola Indonesia.

Jika hal ini benar-benar terjadi maka patut bersyukurlah kita karena ada tim sepak bola asal NTT akan berada sejajar dengan tim-tim dari pulau Jawa untuk berjuang memperebutkan tiket ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Namun sebaliknya jika Liga Nusantara dihapus maka nasib sepak bola NTT khususnya PSN Ngada tak jelas. Berkaitan dengan dua pilihan ini penulis menaruh harap lebih pada kepengurusan PSSI yang baru.

Semangat reformasi PSSI di tangan ketua PSSI dan Sekjen PSSI yang reformis diharapkan menjadi angin segar bagi tata kelola persepakbolaan NTT.

Untuk itu, harapan pertama yang perlu kita tempatkan di posisi  utama adalah kejelasan posisi Liga Nusantara di tahun 2017 nanti.

Di balik keyakinan akan semangat reformasi di tubuh PSSI, ada satu bacaan menarik untuk diketahui oleh seluruh pecinta sepak bola NTT Ngada khususnya PSSI NTT.

Bacaan itu mengarah kepada kekuatan lobi PSSI NTT di pusat lebih khusus kepada tim Exco PSSI.

Sederhana saja, apabila tim asal Jawa Timur, Jawa Barat maupun DKI yang lolos ke final Liga Nusantara 2016, maka dipastikan kekuatan lobi mereka  di tingkat Exco PSSI akan lebih kuat.

Kekuatan lobi beberapa provinsi ini tidak dapat disangkal lagi. Kekuatan dana, infrastruktur, pembinaan usia muda, maupun kedekatan emosional petinggi-petinggi PSSI dengan tokoh-tokoh sepakbola di beberapa provinsi tadi memberi jalan mulus bagi lobi-lobi strategis termasuk nasib Liga Nusantara maupun nasib dari klub-klub di beberapa provinsi tadi.

Pertanyaan lebih lanjut, bagaimana dengan kekuatan lobi PSSI NTT? Apakah PSSI NTT selama ini memiliki kekuatan suara untuk mengubah atau membuat keputusan strategis di tingkat Exco PSSI? Ataukah PSSI NTT selama ini hanya sebatas pemilik suara yang tak berpengaruh apa-apa pada berbagai keputusan strategis PSSI?

Menatap Ke depan

Kini PSN Ngada akan selalu dikenang sebagai satu-satunya tim asal NTT yang mencatat prestasi nasional. Mungkin butuh waktu lama untuk meruntuhkan kenangan ini.

Pertanyaannya ialah bagaimana ke depannya? Pertanyaan ini sekiranya menjadi ujian terberat bagi PSN Ngada dan dunia persepakbolaan NTT.

Meraih prestasi merupakan pekerjaan berat namun mempertahankan prestasi menjadi pekerjaan yang lebih berat. Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis memiliki beberapa pikiran strategis yang dapat menjadi pijakan berpikir menuju tindakan strategis bagi PSN Ngada maupun bagi dunia persepakbolaan NTT.

Pertama, kita perlu menjadikan kesuksesan PSN Ngada ini sebagai kesuksesan rakyat NTT. Penulis yakin, nama Ngada akan menyibak perhatian insan sepakbola Indonesia sejenak ke pulau Flores, NTT.

Kedua, hendaknya pemerintah kabupaten dapat membuka mata demi kemajuan permainan bola sepak ini. Memang benar, statuta FIFA tidak membenarkan adanya keterlibatan pemerintah dalam mengurus sepak bola. Sangsi FIFA tahun ini bagi sepak bola Indonesia hendaknya menjadi pelajaran berharga untuk kedepannya.

Namun demikian, di ranah pemerintah kabupaten keterlibatan pemerintah menjadi salah satu oase di tengah padang gurun. Hal ini berkaitan dengan penyediaan infrastruktur pendukung yakni lapangan sepak bola. Di NTT sendiri, belum ada stadion sepak bola yang telah memenuhi standar FIFA. Bahkan standar liga profesional Indonesia pun belum ada. Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri.

Ketiga, sudah saatnya NTT memiliki liga sepak bola bergengsi. Selain Piala El Tari yang sudah digagas selama beberapa tahun terakhir, penulis berpikir sudah saatnya liga sepak bola digelar.

Untuk itu, penulis mengusulkan mengadakan liga dengan nama Liga Flores atau berbagai nama yang diusulkan dan disepakati bersama.

Pesertanya adalah dua tim dari masing-masing kabupaten di pulau Flores. Pulau Flores memiliki 9 kabupaten, masing-masing kabupaten mengutus dua tim maka jumlahnya 18 tim.

Jumlah ini ideal untuk mengadakan sebuah liga profesional. Berkaitan dengan dana, bisa memanfaatkan kerja sama dengan swasta baik yang ada di pulau Flores maupun di pulau Jawa.

Ketika tahun pertama dengan konsep dua tim dari setiap kabupaten di pulau Flores telah berjalan dengan lancar, selanjutnya memangkas perwakilan setiap kabupaten menjadi satu tim dengan maksud mengundang satu tim dari berbagai kabupaten di pulau Timor, pulau Sumba, pulau Alor maupun pulau Rote.

Efek positif dari kehadiran liga ini dapat merambah ke berbagai sektor misalkan tumbuhnya kelompok-kelompok suporter kreatif, kehadiran usaha-usaha ekonomi kreatif maupun kehadiran sekolah sepak bola.

Pertanyaanya ialah apakah PSSI NTT mau menangkap peluang ini?Jika ya, perbaiki bahkan bangun stadion berstandar nasional, para wasit di regional NTT diberi pelatihan dan mulailah merintis sekolah sepakbola di berbagai kabupaten.

Keempat, promosikan NTT sebagai gudang sepak bola berbakat. Pikiran ini terinsipirasi dari antusiasme warga diaspora mendukung PSN Ngada menjelang final Liga Nusantara.

Seluruh suporter PSN Ngada (Ngada Mania) dari berbagai daerah di pulau Jawa rela melakukan perjalan jauh demi mendukung PSN di Stadion Manahan Solo Minggu 11 Desember 2016 lalu.

Berbagai foto maupun video memenuhi beranda media sosial seperti facebook, instagram maupun media sosial lainnya. Pertanyaanya ialah apakah antusiasme ini masih bertahan ke depan? Penulis meyakini antusiasme ini akan mulai meredup.

Memang tak dapat disangkal, redupnya antusiasme ini berbanding lurus dengan prestasi yang ada maupun gelaran turnamen yang ada pula.

Namun kita dapat melanjutkan antusiasme ini dengan strategi lain yakni mempromosikan NTT sebagai gudang sepakbola NTT melalui kreatifitas kita.

Kelima, kepada PSSI NTT untuk memberi peringkat sepak bola bagi seluruh kabupaten di NTT dari peringkat pertama hingga terakhir.

Ide ini untuk memacu setiap kabupaten agar berprestasi hingga mampu menempati peringakat pertama. Tentunya PSSI NTT mesti memiliki standar tinggi untuk memastikan tim mana yang duduk di puncak peringkat.

Saya  mengusulkan standar tersebut dari prestasi tim, memiliki tim usia muda yang berjenjang, infrastruktur sepak bola maupun keuangan klub.

Jika PSSI NTT memiliki persyaratan tersendiri lebih baik lagi. Inilah yang dinamakan sebagai persaingan positif. Gengsi peringkat pertama tentu menjadi perhatian semua kabupaten.

Ide ini akan melahirkan berbagai tim baru di berbagai jenjang usia, kemandirian keuangan dan masih banyak lagi.

Lima pokok pikiran ini hanyalah beberapa masukan yang sering menghiasi diskusi warung kopi pecinta sepak bola NTT. Penulis yakin, masih banyak masukan yang sangat strategis tentang cara memajukan sepak bola di NTT.

Untuk itu, kita semua untuk turut serta membangun sepak bola NTT lebih maju dari sebelumnya.

Terim kasih PSN Ngada telah memberi inspirasi kepada kami. Semoga tetap jaya dalam memberi prestasi kepada kami insan sepakbola NTT. Salam hangat untuk seluruh tim kabupaten di NTT. Kapan kita bertemu di stadion Gelora Bung Karno? Salam olahraga.


Foto: Evan Lahur
Foto: Evan Lahur

Penulis adalah Penyuka sepak bola,

Suporter Inter Milan – ICI Moratti Ruteng,

Sekarang sedang berkuliah di Yogyakarta.

 

Komentar

comments

VOX Share Button

Check Also

Minat Kaum Muda Untuk Bertani Menurun

Oleh: NEY DINAN Peneliti di lembaga Sunspirit for Justice and Peace, Labuan Bajo Pada bulan …