Home / NTT NEWS / Ada Monopoli Air Dibalik Kekeringan Dua Desa di Sumba Timur

Ada Monopoli Air Dibalik Kekeringan Dua Desa di Sumba Timur

Waingapu, VoxNtt.com-Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini petani Wanga dan Petawang, Kabupaten Sumba Timur mengeluhkan berkurangnya debit air hingga kekeringan di saluran irigasi yang selama ini menjadi andalan untuk pengairan di sawah mereka.

BACA: Investasi PT. MSM Berdampak pada 583 Ha Sawah Warga Sumba Timur

Fakta ini merupakan hasil temuan WALHI NTT melalui press release ke media ini, Kamis (05/01)

Dalam catatan WALHI, petani biasanya panen dua kali dalam setahun dengan area sawah produktif seluas 780 Hektar.

Dengan hitungan minimalis setiap hektar menghasilkan 2 ton padi, WALHI mencatat warga mengalami kerugian milyaran rupiah.

Dari hasil investigasi lapangan, WALHI  mendapati beberapa fakta yakni

Pertama, irigasi milik Pemerintah Kabupaten Sumba Timur kering kerontang bahkan tembok irigasi telah banyak mengalami kerusakan akibat kekeringan.

Menurut WALHI atas kekeringan terebut Pemerintah Daerah Sumba Timur tidak pernah melakukan upaya serius untuk mengatasi kekeringan yang terjadi.

BACA: Bupati Sumtim: PT. MSM tidak ditolak warga

Akibatnya, petani kini banyak menggunakan sumur bor untuk sekadar menghidupi kebun sayurannya.

Kedua, telah terjadi monopoli sumber daya air oleh PT. Muria Sumba Manis di kawasan hulu yang sama dengan sumber air dari irigasi untuk petani.

Berdasarkan pantuan Walhi, pihak perusahan maupun pemerintah setempat memanfaatkan isu perubahan iklim El Nino dan pemanasan global untuk membenarkan kekeringan irigasi untuk warga.

Padahal di saat bersamaan perusahan memiliki embung dengan sumber daya air yang melimpah.

Selain itu, adanya investasi di kawasan hulu oleh PT. MSM atas seijin Pemda Sumba Timur telah menimbulkan kecemburuan di tingkat petani karena air untuk perusahan justru berlimpah.

Hal ini diperparah dengan sikap pemerintah Kabupaten Sumba Timur dimana dalam dua tahun terakhir ini seakan melakukan pembiaran atas kesusahan yang dialami oleh petani.

“Padahal Wanga dan Petawang adalah salah satu lumbung beras tertua di Pulau Sumba” tulis Walhi NTT.

Ketiga, petani di Desa Wanga dan Petawang tidak mau beralih profesi dari Petani menjadi buruh perusahan dengan istilah daerah setempat Nda Atajawa akama la tana wuaka dangu padangu wiki ma ( Kami bukan budak orang luar di tanah kebun dan padang kami sendiri)

BACA; Ini Alasan Walhi Tolak Pembangunan Waduk PT. MSM

Keempat, telah terjadi penebangan pohon di kawasan hulu oleh PT. Muria Sumba Manis padahal Sumba Timur sedang mengalami krisis hutan.

Atas aktivitas perusahaan tersebut, petani meminta untuk menghentikan aktivitas perusahan di kawasan hulu karena telah mengganggu sumber produksi rakyat. (UW/VoN)

Komentar

comments

VOX Share Button

Check Also

Anggota PPK Riung Barat Diduga Jadi Tim Sukses Marhaen

Bajawa, Vox NTT- Sengketa pemilu tidak saja ditimbulkan karena ketidakcermatan tim sukses atau pelanggaran bakal …