Home / Berita Terkini / Gelar Seminar dan Buka Puasa Bersama, Pdt. Merry: Jadikan NTT Rumah Bersama
Narasumber seminar melawan radikalisme di Indonesia, Wakapolda NTT, Brigjen Pol. Drs. Sumartono Johanan, Wakil Ketua MUI Jamaludin Betan,Vikjen Keuskupan Agung Kupang, Rm.Geradus Duka Pr, Pdt. Sinode GMIT, Merry Kolimon dan moderator Pdt. Emil Hauteas.

Gelar Seminar dan Buka Puasa Bersama, Pdt. Merry: Jadikan NTT Rumah Bersama

Kota Kupang, Vox NTT-Majelis Sinode (MS)GMIT menggelar seminar yang demi merawat NTT sebagai rumah kita bersama melawan radikalisme di Indonesia. Seminar ini berlangsung di Aula Lantai III Kantor MS GMIT, Selasa (13/06/2017).

Seminar ini menghadirkan beberapa narasumber yakni, Wakapolda NTT, Brigjen Pol. Drs. Sumartono Johanan, Wakil Ketua MUI Jamaludin Betan,Vikjen Keuskupan Agung Kupang, Rm.Geradus Duka Pr, Pdt. Sinode GMIT, Merry Kolimon dan moderator Pdt. Emil Hauteas.

Pdt. Sinode GMIT, Merry Kolimon, dalam pemaparan materinya mengatakan, sebagai warga NTT, kita patut berbangga bahwa di tengah gerakan-gerakan intoleransi dan radikalisme yang kian marak, provinsi NTT justru mendapat penghargaan dari pemerintah pusat sebagai provinsi paling toleran yang menjaga dan meramu keberagaman dalam kehidupan bersama.

“NTT menjadi rumah bersama yang nyaman bagi semua anak bangsa dari berbagai suku, etnis,golongan dan agama,”ungkapnya.

Penghargaan sebagai provinsi paling toleransi, lanjut Merry hendaknya menginspirasi dan menyemangati kita untuk terus marajut kehidupan yang toleran bukan saja di level elit tetapi juga membumi didalam masyarakat luas.

“Kita perlu bergandengan tangan sebagai anak bangsa yang beragam dan duduk bersama dalam kepelbagaian etnis dan agama untuk merawat keberagaman ini,”paparnya.

Para peserta seminar yang hadir dalam acara seminar yang digagas oleh Sinode GMIT Kupang di lantai III Kantor Sinode GMIT Kupang.

Sementara itu Vikjen Keuskupan Agung Kupang, Rm.Geradus Duka Pr, dalam pemaparan materinya mengatakan, fenomena radikalisme di Indonesia tidak hanya mempunyai pengaruh di provinsi lain, namun Provinsi NTT yang sebagai bagian dari negara kesatuan RI.

Faktanya bahwa paham ini pun telah masuk dan mulai mempengaruhi kesadaran masyarakat NTT.

Radikalisme, lanjut Geradus jika tetap pada pikiran ideologi tentu kurang memberi dampak negatif, tetapi radikalisme yang mengambil bentuk pada aksi kekerasan perlu diambil sikap demi kehidupan yang damai.

“Paham radikalisme yang mengutamakan kekerasan bahkan karakter dari orang NTT, bahkan bukan menjadi karakter orang Indonesia,”tandasnya.

Upaya melawan radikalisme, kata dia, dengan menghadirkan kembali kearifan lokal orang NTT yang menjadi dasar tumbuhnya Pancasila.

Kearifan lokal itu kini mulai tercabut/ hilang oleh modernisasi dan semangat hidup pragmatisme yang mengutamakan diri sendiri.

“Untuk melawan faham radikalisme, pendidikan insklusif perlu dihadirkan kembali di lembaga-lembaga dan institusi moral seperti keluarga,lembaga adat,pendidikan dan masyarakat secara terus menerus salah satunya kearifan lokal,”jelasnya.

Hal senada disampaikan pula Wakil Ketua MUI NTT, Jamaludin Betan. Dia mengatakan, agama dan Pancasila tidak bisa dibeda-bedakan sesuai dengan nilai-nilai yang telah diatur oleh Undang-undang 45.

Jamaludin menambahkan, radikalisme itu sebagai musuh bersama dan agama jangan dijadikan aspiriasi tetapi sebagai inspirasi.

“”Radikalisme dan terorisme muaranya untuk menghancurkan NKRI. NKRI harus dijaga, dipelihara dengan berbagai cara dan metode,”imbuhnya.

Jamaludin menambahkan, Indonesia adalah negara dengan berbagai agama dan suku sehingga tidak boleh muslim memusuhi non muslim. Indonesia adalah negara damai.

“Saat ini dunia maya menjadi alat paling efektif bagi kelompok radikal menyebarkan pahamnya. Dunia maya juga pintu yang digunakan kalangan radikalisme untuk meracuni masyarakat,”tandasnya.

Sementara itu Wakapolda NTT, Brigjen Pol. Drs. Sumartono Johanan, mengatakan, radikalisme itu perubahan yang diinginkan tetapi dengan cara yang keras sedangkan terorisme itu sebuah tindakan yang ditakutkan oleh semua masyarakat.

Itu semua terjadi, lanjut Sumartono karena ada intoleransi. Faktor penyebab radikalisme ini juga lemahnya pada pemahaman Pancasila, pemahaman agama yang keliru, kurangnya dialog diantara lintas  agama serta tahapan identifikasi diri pada setiap toko-toko agama.

Sumartono berharap, selalu bersama-sama mengsosialisasikan bahaya gerakan radikal intoleransi, anti pancasila maupun yang mengarah kepada teror kepada masyarakat di lingkungan masing-masing.

Wakapolda juga meminta agar permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan tidak sekali-kali main hakim sendiri karena sangat merugikan kita semua.

Pantauan VoxNTT usai acara seminar dilanjutkan acara buka puasa bersama di lantai III Kantor Sinode GMIT Kupang.

Acara buka puasa bersama tersebut diawali dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh H. Jafar. (Mou/ VoN).

Komentar

comments

VOX Share Button

Check Also

Warga Desa Tengatiba Konsumsi Air Keruh dan Bau

Mbay, Vox NTT-Warga desa Tengatiba, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo terpaksa harus mengonsumsi air kali …