Home / Berita Terkini / Anggota DPRD Matim Geram dengan Kepala UPTD Pendidikan Lamba Leda
Frumensius Frederik Anam, anggota DPRD Matim (Foto: WhatsApp)

Anggota DPRD Matim Geram dengan Kepala UPTD Pendidikan Lamba Leda

Ruteng, Vox NTT- Anggota DPRD Manggarai Timur (Matim), Mensi Anam geram dengan Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan Kecamatan Lamba Leda.

Ia geram lantaran Kepala UPTD itu membiarkan Kepala SDI Maki tidak mengembalikan uang potongan Dana PIP siswa di sekolah itu.

Padahal, menurut informasi yang diterimanya Kepala UPTD sudah turun langsung di SDI Maki dan melakukan klarifikasi atas informasi potongan tersebut.

“Hasil klarifikasi tersebut yakni; Pertama, potongan 50 ribu per siswa itu benar-benar terjadi dan dipungut oleh Kepala SDI Maki. Kedua, katanya orang tua siswa bersepakat untuk tidak perlu dikembalikan kepada mereka,” katanya melalui pesan WhatsApp Sabtu (9/7/2017).

Mestinya, kata Anam, Kepala UPTD tidak perlu lagi memberi ruang bagi Kepala Sekolah dan orang tua siswa untuk membuat kesepakatan di luar aturan yang ada.

“Tapi langsung perintahkan Kepala SDI Maki segera mengembalikan uang pungutan tersebut,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Lamba Leda, Bernadus Salis yang dikonfirmasi melalui teleponya Rabu (5/7/2017) membenarkan bahwa ia bersama dua orang pengawas UPTD sudah turun langsung di SDI Maki.

“Dalam pengarahan, saya sampaikan dana itu tidak dapat dibagi-bagi atau tidak dapat dibuat kebijakan oleh pihak sekolah,” tegasnya.

Namun, dalam pelaksanaan ternyata Kepala SDI Maki mengambil kebijakan memotong jatah PIP siswa. Siswa kelas satu yang menerima dana PIP sebanyak 16 orang. Tiap siswa dipotong Rp 25.000. Dari pemotongan itu terkumpul Rp 400.000.

Baca: Kepsek SDI Maki Lamba Leda Diduga Lakukan Pungli

Sedangkan, kelas dua, tiga, empat dan lima yang menerima dana PIP berjumlah 75 orang. Tiap siswa dipotong Rp 50.000. Uang yang berhasil dipotong dari 75 orang itu sebanyak Rp 3.750.000. Jadi, total pemotongan dari kelas satu sampai kelas lima sebanyak Rp 4.150.000.

“Uang yang dipotong itu dibagi kepada 26 siswa yang tidak dapat PIP, kali 100 ribu jadi Rp. 2.600.000.  Sedangkan, yang lain dana itu untuk biaya administrasi, jasa operator sekolah dan transpor kepala sekolah, totalnya Rp 1.550.000,” jelasnya.

“Para guru meminta uang 100 ribu yang dibagikan kepada 26 siswa itu dikembalikan lagi, tapi orang tua siswa penerima PIP tidak mempermasalahkanya. Jadi, pihak sekolah mengakui ada potongan tapi tidak sepihak. Karena mereka sudah lakukan kesepakatan ini, maka kami lapor ini saja ke dinas,” imbuhnya. (Ferdiano Sutarto Parman/VoN)

Komentar

comments

VOX Share Button

Check Also

Warga Desa Tengatiba Konsumsi Air Keruh dan Bau

Mbay, Vox NTT-Warga desa Tengatiba, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo terpaksa harus mengonsumsi air kali …