Anggota Komunitas NgoPi bersama tokoh masyarakat dan warga dusun Leda (Foto: Tomo Habe/NgoPi)

Labuan Bajo, Vox NTT- Komunitas Ngobrol Pintar (NgoPi) Malang menggelar kegiatan “Tour Akademik” di Desa Pangga, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) pada 2-6 Agustus 2017.

Kegiatan yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa Manggarai Raya yang mengenyam pendidikan di Kota Malang Provinsi Jawa Timur itu dalam rangka mengisi waktu liburan tahun 2017.

Mereka mengusung tema liburan edukatif itu, yakni ‘Belajar dari desa dan memberdayakan desa’.  Berpijak pada tema tersebut NgoPi Malang mendalami kehidupan sosial kemasyarakatan di Desa Pangga.

Pada Selasa, 2 Agustus, mereka bertolak menuju Desa Pangga di bawah pimpinan Ketua Pelaksana Kegiatan Aris Maal. Dia adalah mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Merdeka Malang.

Sesampai di Pangga mereka diterima dengan ‘tuak kapu’ (acara penerimaan tamu secara adat Manggarai) oleh tetua dan perangkat desa.

Pada, Kamis, 3 Agustus, Komunitas NgoPi Malang turun ke lokasi pembangunan gereja yang terletak di Dusun Leda. Di sana, mereka ikut bersama masyarakat mengeruk tanah cadas.

Selain itu, Komunitas NgoPi juga mengadakan diskusi bersama kelompok muda dari seputaran Desa Pangga.

Kegiatan diskusi dipandu langsung oleh Robby Wirawan, Pendiri Komunitas NgoPi. Nuansa diskusi pada malam hari itu berlangsung santai dengan saling membagikan pengalaman kepada masyarakat setempat.

Sebagai bentuk tambahan pengetahuan untuk kaum muda, ditampilkan beberapa slide tentang kreativitas-kreativitas yang Komunitas NgoPi dapatkan selama belajar di desa-desa di sekitar Kota Malang.

Diskusi ini dilakukan untuk mendorong kaum muda bersikap kreatif dan mengembangkan potensi-potensi alam yang ada.

Diskusi berkembang dan menghasilkan pemikiran yakni konsep ‘desa membangun’ bertitik tolak dari masyarakat dan di dalam mereka ada kaum muda.

Salah satu masukan untuk kaum muda dalam diskusi tersebut adalah menciptakan Dusun Leda atau Desa Pangga sebagai wisata ‘gola dereng’ (Gula Merah Kolang).

Selain itu, mendorong kaum muda untuk membuat kelompok pelestari ‘tanaman enau’. Tanaman Enau perlu dilestarikan karena sudah punah.

Pada, Jumat, 4 Agustus, Komunitas NgoPi membuat papan-papan nama dari kulit kayu untuk semua dusun yang berada di Desa Pangga.

Mereka merancang papan-papan tersebut sedemikian indah dan halus, kemudian diukir dengan cat sehingga menghasilkan lukisan yang indah.

Selanjutnya, mereka bersama aparat desa mengadakan penanaman papan-papan tersebut di setiap dusun.

Proses ini membutuhkan waktu yang cukup lama karena keberadaan dusun-dusun tersebut berjauhan.

Selain itu Komunitas NgoPi juga mengadakan diskusi bersama warga dusun Leda pada 4 Agustus.

Dalam kesempatan itu, Dr. Yustina Ndung, M.Si, yang adalah salah satu penasihat Komunitas NgoPi hadir sebagai pemateri.

Yustina Ndung menyampaikan gagasan-gagasan tentang pendidikan dan kebudayaan di hadapan ratusan warga di Dusun Leda dan sekitarnya.

Diskusi ini berjalan dengan penuh gembira dan sukacita karena masyarakat sangat antusias.

Lagu-lagu adat dengan “go’et” Manggarai dilantunkan dengan sangat indah oleh salah satu tetua setempat.

Yustina Ndung dalam peyampaian materinya pun menggunakan go’et (ungkapan) Manggarai yang sangat indah.

Kepala Desa Pangga, Adrianus Jehanur menyampaikan terima kasih untuk kedatangan Komunitas NgoPi.

Dalam sambutannya, Adrianus mengatakan Komunitas NgoPi sudah membawa gerak (terang) kepada masyarakat.

“Ada banyak pengetahuan dan pengalaman kalian yang sudah diberikan kepada kami. Motivasi yang kalian berikan menjadi kekuatan untuk kami di sini,’ terang Kades Pangga.

Kontributor: Nano Bantrang

Editor: Ardy Abba/VoN

alterntif text