Ilustrasi (Foto: Andreas160578)

Catatan Redaksi Oleh Hengky Ola Sura

ROHINGYA

Rohingya….
Seperti apa Idul Adha mu..?
Sedang tanahmu kini menjadi merah..!!
Syair – syair agung tak lagi bergema…

Duh ,
Rohingya..
Aku tak sanggup melanjutkan ceritamu
Sebab tenggorokanku tercekik bilah – bilah pedang yang berdarah, amarah !
Mataku menjadi rabun melihatmu berpeluh air mata dan darah…
Di manakah letaknya Cinta… ?
Adakah sedikit kasih sayang untukmu…?
Atau kah semuanya sudah punah…?

Hari ini…
Dan tiap – tiap harimu adalah ratap dan tangis yang memilukan,
Menyayat hati…
Seberat apa dosamu, Rohingya…?
Hingga jantungmu dikoyak,
Nadimu dirobek tanpa rasa ….!!

Mereka,
Orang – orang itu menumpahkan darahmu ke atas tanah,
Atas nama apa dan siapa ?
Rohingya…
Saudaraku..
Adakah yang mendengar jeritanmu…?
Getir….
Dan ini bukan remeh – temeh,
Ini bukan tontonan…
Terbata ,,,
Aku mengirim doa buatmu, Rohingya,..
Aku ‘Mencintaimu’ ..

Lewoleba 1/9/17

SIAPAKAH ENGKAU

Ketika musim hujan berlalu pergi menggendong semua ingatan tentangmu, Aku masih bertengkar dengan tanyaku, Siapakah engkau..?

Di manakah engkau…?

Berhembus kabar engkau sedang berperih melawan siksa

Ribuan jiwa terbakar sia – sia…

Wanita dan anak – anak terkubur hidup – hidup…

Lelaki muda dan rentah, berpasrah..

Dihunuskan pedangnya dengan keji..

Oh Nurani jiwa.. Kembalilah.. Kembalikan nurani yang suci…

Jiwa yang menyayangi sesama…

Bumimu membadai,badai yang kejam memporak – poranda hidupmu,

Bahkan isi perutmu,terburai… Astaga…!!

Lupakah kita, akan Tuhan yang menciptakan kita …?

Satu darah , darah Sang Adam..? Lalu mengapa kini kau reguk sendiri darah saudaramu..? Rohingya…!! Kapankah berakhir…?

Batas Kota 1/9/17

Lidia Tokan, penikmat seni, saat ini tinggal di Lewoleba-Lembata. Buku kumpulan puisinya yang telah terbit adalah Keluh Senja Mengejar Cakrawal (Antologi Bersama Empat Penyair)-Penerbit Kandil Semesta 2016

 

Puisi yang Berempati

Catatan Redaksi Oleh Hengky Ola Sura-Redaksi Seni Budaya Voxntt

Membaca dua puisi dari Lidia Tokan pekan ini adalah membaca hidup yang teralienasi. Kisah tentang Rohingya jadi moment puitis untuk ikut bersuara. Maka dua puisi kali ini adalah puisi yang berempati.

Mendalami Rohingya dan Kapankah Berakhir kita digiring untuk merasakan secara intim duka derita orang-orang Rohingya yang tercerabut dari sesama yang adalah bangsa mereka sendiri. Kisah orang-orang Rohingya adalah kisah tentang ketidakadaban dari sesama yang menyebut kesatuan hidup berbangsa  dan bernegara mereka dengan sebutan Burma atau Myanmar. Myanmar berarti tanah emas karena mulanya adalah tanah yang kelimpahan sumber daya alam. Sayangnya tanah emas yang jadi arti dari Myanmar itu sendiri tak lagi tampak dalam perlakuan terhadap Rohingya.

Rohingya….
Seperti apa Idul Adha mu..?
Sedang tanahmu kini menjadi merah..!!
Syair – syair agung tak lagi bergema…

Deret kata dari puisi Lidia di atas sungguh menohok rasa kemanusiaan kita tentang betapa hancur hatinya warga Rohingya yang tidak dapat merayakan Idul Kurban mereka. Lidia, penyair kita lagi-lagi mengajak pembaca untuk merasakan secara intim duka mereka, harapan-harapan mereka, cara berpikir mereka juga masalah-masalah mereka.

Ketika musim hujan berlalu pergi menggendong semua ingatan tentangmu, Aku masih bertengkar dengan tanyaku, Siapakah engkau..?

Di manakah engkau…?

Berhembus kabar engkau sedang berperih melawan siksa

Pada penggalan puisi Kapankah Berakhir di atas Lidia mengajak kita untuk sadar bahwa hidup damai, rukun dan berelasi dengan semua orang tanpa memandang suku, agama, ras dan kebudayaan adalah  satu kewajiban. Sikap macam ini menunjukkan bentuk panggilan moral dan spiritual kita.

Sastra (puisi) juga punya kemuliaannya sendiri. Membaca sastra adalah bertemu manusia dalam situasi khas mereka. Kisah tentang orang-orang Rohingya harusnya menjadikan mata nurani kita semua yang bergumul bersama dua puisi pekan ini untuk juga memperlakukan sesama di sekitar kita dengan lebih beradab.

alterntif text