Air terjun tingkat pertama (Foto: Eman)

Kefamenanu,Vox NTT-Wilayah kabupaten TTU sejak dahulu dikenal sebagai daerah yang kering dan warganya sering mengalami kekurangan air.

Namun siapa sangka di salah satu desa terpencil di wilayah kabupaten tersebut terdapat air terjun 3 tingkat yang mampu memberikan kesegaran kepada setiap pengunjungnya.

Air terjun 3 tingkat tersebut terdapat di Boni, desa Loeram, Kecamatan Insana dengan tinggi tingkat yang pertama kurang lebih 5 meter dari permukaan tanah dan lebarnya 4 meter serta kedalamannya  sekitar 1 meter sehingga cocok buat anak – anak.

Air terjun tingkat dua (Foto: eman)

Sedangkan tingkat yang kedua tinggi air terjun kurang lebih 5 meter dengan lebar 6 meter dan kedalaman hingga 2 meter.

Tingkat ketiga tingginya bahkan mencapai 7 meter dan lebarnya hanya 3 meter serta kedalaman mencapai 3 meter.

Untuk mencapai setiap tingkatan, pengunjung harus berhati-hati lantaran harus berjalan di atas bebatuan yang licin serta harus menuruni tangga yang dibuat oleh warga setempat.

Bagi pengunjung yang lupa membawa bekal atau berkeinginan mencicipi pangan lokal, di sekitar lokasi air terjun terdapat jualan pangan lokal dan kelapa muda yang disiapkan warga.

Lokasi air terjun tersebut berjarak sekitar 50 km dari kota Kefamenanu dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat selama kurang lebih 90 menit.  Akses jalan ke lokasi objek wisata yang berada di tengah hutan tersebut masih berupa jalan yang berbatu.

Gita Moy, salah seorang warga setempat yang sering berjualan di lokasi air terjun tersebut mengungkapkan bahwa lokasi wisata tersebut baru mulai ramai dikunjungi sejak bulan april 2017 lalu.

Air terjun tingkat tiga (Foto: Eman)

“Waktu itu OMK (Orang Muda Katolik ) dari Kiupukan  datang sini. Saat itu baru kami pikir untuk buka jalan masuk ke sini (lokasi air terjun)”jelas Gita.

Ia menambahkan semenjak kunjungan dari orang muda katolik, pengunjung terus berdatangan, bukan saja dari TTU tetapi juga dari Kupang, Soe, Malaka dan Belu.

Bertambahnya pengunjung secara otomatis menambah pemasukan dirinya dan warga sekitar yang menjual pangan lokal bagi pengunjung.

“Biasanya ramai dengan hari sabtu dan minggu, kalau ramai saya bisa dapat sampai Rp 200 ribu”ungkap Gita.

Sementara itu,Yanto warga lainnya berharap agar pemerintah setempat dapat memperhatikan akses transportasi ke lokasi air terjun tersebut.

Selain itu di sekitar lokasi juga dibangun lopo-lopo kecil sehingga pengunjung dapat bersantai ataupun melepas lelah usai mandi di air terjun.

“Kalau sediakan fasilitas penunjang yang cukup maka pastinya pengunjung pun tidak akan keberatan jika ada retribusi dan hal itu kan bisa untuk menambah pemasukan daerah”tegasnya.(Eman/VoN).

alterntif text