Syuting film G30S/PKI (Foto: Dokumentasi Tempo/Maman Samanhudi)

Maumere, Vox NTT- Pengajar filsafat dan Hak Asasi Manusia pada Kampus STFK Ledalero, Pastor Otto Gusti Madung, SVD menilai pemuataran ulang film G30S/PKI sebagai upaya pembodohan terhadap rakyat.

Pasalnya terdapat banyak kebohongan dalam film tersebut.

“Contoh sederhana saja dalam film tersebut diceritakan bahwa para jendral disiksa dan alat kelamin dipotong padahal hasil autopsi menunjukkan mereka mati karena ditembak,” ungkapnya saat dihubungi VoxNtt.com, Sabtu (23/9/2017).

Oleh karenanya, dirinya menyarankan agar rakyat menonton juga film-film lain dari perspektif yang berbeda seperti ‘Jagal’ dan ‘Senyap’.

Tujuannya agar terbangun diskurus tentang tafsir sejarah peristiwa 65.

Kebenaran sejarah dan memori kolektif bangsa harus dibangun atas komunikasi yang demokratis dan bebas represi.

“Jagal mendapat apresiasi internasional jadi mengapa harus ditolak di Indonesia. Sudah saatnya rakyat bangkit melawan militerisme dan otoritarianisme,” ungkap Pastor Otto.

Perlu diketahui pada Jumad (22/9/2017) lalu Kodim 1306 Sikka melakukan pemutaran film G30S/PKI di halaman Kantor Lurah Nangalimang, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.

Otto menilai hal tersebut bukanlah merupakan masalah.

“Sah-sah saja kalau mau putar film itu tetapi tentara tidak punya hak paksa rakyat untuk menonton. Selain itu perlu juga dibuka ruang untuk film lain berdasarkan riset sejarah yang ilmiah dan rasional serta dapat dipertanggungjawabkan menurut metodologi penelitian sejarah,” imbuhnya.

Salah satu editor buku Berani ‘Berhenti Berbohong; 50 Tahun Pasca Peristiwa 65-66’ menghimbau Gereja Katolik dan komunitas umat agar melakukan pemutaran film ‘Jagal’ dan ‘Senyap’.

Hal itu perlu dilakukan sebagai bagian dari misi gereja mewartakan kebenaran serta membebaskan umat dari kebodohan serta manipulasi idielogi kekuasaan. (Are De Peskim/AA/VoN)

alterntif text