Ilustrasi Pilgub NTT

Redaksi, Vox NTT-Tahapan pemilihan gubernur (Pilgub) NTT sudah resmi dibuka oleh KPUD setempat sejak 10 Oktober 2017 lalu.

Gegap gempita wacana Pilgub pun sudah marak di kalangan masyarakat di provinsi itu.

Bahkan, hingar bingar para bakal calon gubernur dan wakil gubernur mengadu strategi politik dalam rangka meraup dukungan sudah marak di kalangan masyarakat.

Kotak-kotakan masyarakat NTT mendukung bakal calon gubernur masing-masing hingga kini sudah mulai terbangun.

Provinsi NTT adalah sub pemerintahan Negara Indonesia. Rakyatnya pun sadar bahwa tahun depan mereka akan menyelenggarakan pemilihan gubernur dan wakil gubernur untuk periode 2018-2023.

Karena sadar, tidak heran jika hajatan demokrasi itu menjadi buah bibir di kalangan masyarakat akar rumput.

Masyarakat pemilih sadar bahwa mereka sedang berdiri di atas fondasi pemerintahan, di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka.

Warga NTT sangat sadar bahwa mereka diizinkan berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.

Rakyat juga sadar bahwa kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di NTT memungkinkan adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.

Kendati para bakal calon gubernur selalu mengajak rakyat NTT agar lebih rasional melihat figur pemimpin, namun tak terbantahkan sisi emosional masih menonjol dalam pilihan politiknya.

Rakyat masih berkutat dalam pusaran emosional untuk memilih pemimpinnya. Artinya mereka yang memilih karena hubungan-hubungan emosi tertentu, misalnya, saudara, keluarga, keterikatan sesama suku, etnis, agaman, dan lain-lain.

Mereka jarang melihat konsep pembangunan dan visi misi para calon pemimpin.

Sejauh konsep dan visi misi itu belum menyentuh sisi emosi, jangan kaget ketika rakyatnya apatis akan janji-janji politik itu. Apalagi, adanya fenomena banyak calon pemimpin yang suka obral janji, minim implementasi.

Hasil proyeksi liputan VoxNtt.com terkait harapan petani untuk gubernur NTT 5 tahun ke depan, misalnya, telah membuktikan betapa rakyat di provinsi yang sedang dipimpin Frans Lebu Raya itu masih berkutat pada perasaan.

Baca:

Para petani di beberapa kabupaten di NTT masih melihat pemimpinnya dengan kaca mata emosional. Kompleksitas indikator pilihan masih dalam pusaran kehidupan keseharian mereka, belum jauh ke depan.

Bagi petani, pemimpin adalah mereka yang selalu hadir di saat mereka susah. Mereka yang dengan gaya bertuturnya memuaskan hati rakyatnya. Bahkan rajin senyum saja yang terpenting menyentuh perasaan, masyarakat akan suka dan kemudian memilih figur tersebut.

Selanjutnya, aspek emosional lain yakni pemimpin adalah mereka yang sudah berbuat sesuatu dalam rangka menjawab kebutuhan dasar masyarakat. Bagi petani, pemimpin tidak perlu banyak bicara namun banyak berbuat.

Sebut saja misalnya pemimpin harus merakyat dan secara nyata memperbaiki infrastruktur, air minum bersih, ketersediaan sarana dan prasarana pertanian, dan lain-lain.

Artinya, tindak-tanduk pemimpin itu sudah masuk dalam ranah emosi rakyatnya. Ketika mereka mengeluh, pemimpin hadir dengan kebijakan pembangunan.

Kendati pemilih rasional memandang tindak tanduk calon pemimpin irasional dan perubahan di balik sikap tersebut cendrung stagnan, namun keadaan demokrasi NTT cakupannya masih belum meluas hingga ke arah perbaikan kesejahteraan masyarakatnya.

Keberadaan pemilih emosional yang masih begitu banyak di provinsi NTT yang masih miskin ini, tentu saja melahirkan tantangan tersendiri bagi calon pemimpin.

Sebab, mereka hanya memilih karena suka dengan dengan calon pemimpin.

Mereka bahkan tak peduli untuk mendapatkan informasi akurat tentang sosok seseorang ditinjau dari kompetensi, kesiapan program dan kemampuan melaksanakan tugas dengan baik.

Karena itu, kepada para calon gubernur NTT, kemaslah metode penawaran konsep, program kerja, dan visi-misi yang tidak melulu merebut aspek emosi masyarakat, tetapi juga memberikan pendidikan politik dan pencerahan agar masyarakat mampu mengaktifkan tombol rasio rakyat dalam memilih.

Penulis: Adrianus Aba

alterntif text