Salah satu permainan tradisional yang diperagakan saat festival Wai Humba (Foto: Dok Walhi NTT)

Kupang, Vox NTT-Kegiatan Festival Wai Humba VI yang berlangsung di Kampung Tabera, Desa Doka Kaka, Kabupaten Sumba Barat (SB), Nusa Tenggara Timur (NTT), pada tanggal 1- 3 Desember 2017 lalu, memberi pesan penting bagi kehidupan orang Sumba dan NTT pada zaman ini.

Kearifan lokal yang telah dihasilkan orang tua zaman dulu ternyata masih mampu menjawab berbagai tantangan sosial ekonomi dan lingkungan yang semakin hari semakin tidak terkendali akibat berbagai aktivitas produksi manusia.

Direktur Walhi NTT, Umbu Wulang (Berkacamata dan rambut panjang)

“Kita patut bersyukur dengan apa yang telah dibangun oleh masyarakat saat ini dengan mengedepankan nilai luhur budaya untuk menjaga keseimbangan” demikian ungkapan kesenangan Dinamisator Waihumba, Umbu Wulang Tanaamahu, kepada Voxntt.com, melalui pesan WhatsApp, Selasa (5/12/2017) siang.

Kegiatan Festival Wai Humba VI tersebut kata Umbu Wulang, merupakan salah satu jembatan baru untuk mendekatkan kembali manusia dengan sang Pencipta dan alam sekitarnya.

“Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk berdialog dengan budaya Humba dalam konteks meningkatkan perlindungan dan keberlanjutan alam dari kegiatan yang tidak ramah terhadap lingkungan dan budaya,” ujarnya.

Kegiatan festival Wai Humba VI yang dilakukan selama tiga hari ini digelar dalam berbagai rangkaian kegiatan seperti ikrar persaudaraan, pentas seni budaya, pengkeramatan sumber mata air, diskusi kampung dan pernghargaan Wai.

Berikut adalah penjelasan Umbu Wulang mengenai makna rangkaian kegiatan tersebut.

Ikrar Persaudaraan

Dalam festival Wai Humba VI dibangun sebuah kesadaran bersama dengan Ikrar Persaudaraan. Ini menjadi pergumulan besar yang selama ini menjadi agenda besar bagaimana membentuk sebuah hubungan yang terhubung (tapanuag) baik di lihat dari sejarah, wilayah, kebudayaan dan karakter masyarakat.

Dalam kegiatan ikrar persaudaraan dibangun pula sebuah komitmen bersama bahwa kita adalah satu kesatuan. Salah satu yang menarik ketika Rato (Puru Nombu) mengatakan Marapu menjadi landasan kokoh dalam kehidupan hidup masyrakat Sumba, oleh karena itu apapun yang terjadi kami tetap mempertahankannya.

Ikrar persaudaraan ini ditandai dengan semangat kekeluargaan dari berbagai suku yang ada di pulau Sumba untuk secara bersama-sama merawat budaya Humba.

Satu dari sekian banyak kegiatan yang jarang kita jumpai adalah ketika semua para Rato  dari kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya duduk bersama membentuk sebuah lingkaran untuk memberikan pandangan terkait dengan kegiatan Festival Wai Humba VI.

Tema di atas menjadi kunci utama mengapa ikrar persaudaraan ini menjadi penting untuk diperkuat. Kami Bukan Humba yang Menuju kemusnahan adalah sebuah penegasan kepada diri sendiri dan dunia bahwa hari ini kami masih ada dan terus ada untuk mempertahankan apa yang sudah diwariskan kepada kami sebagai generasi penerus.

Kegiatan diskusi kampung

Tantangan lain yakni lahirnya mental pengkotak-kotakan berdasarkan daerah administrasi. Saat ini seringkali kita mendengar dengan mudahnya ada yang berkata, “kau kan orang Sumba Tengah, kau kan orang Sumba Barat, Orang Sumba Timur, Orang Sumba Barat Daya; buat apa kau di sini !”.

Kita lupa bahwa sesungguhnya kita berasal dari nenek moyang yang sama yakni apa yang kami sebut dengan Komunalitas Humba/Hubba. Harapannya, Festival ini sekiranya mampu menghilangkan sekat egoisme daerah administrasi.

 

Pentas Seni dan Budaya Se-Sumba

Pentas seni dan budaya menjadi bagian dari ciri khas masyarakat Humba yang tidak bisa terlepas dari nilai-nilai dan tradisinya. Pada kegiatan Festival Wai Humba VI yang menjadi nilai budaya dalam kegiatan ini adalah ketika masing-masing perwakilan wilayah memberikan tarian khas, dimana tarian ini memberikan pesan yang  sama kepada masyarakat Humba bahwa sesungguhnya budaya kita masih tetap terjaga dengan baik.

Tarian ini memberikan pencerahan kepada kita, pertama yang ingin mereka sampaikan dalam wujud traian adalah sifat dan tatanan kehiduapan yang senantiasa dekat dengan alam dan leluhur dengan wujud inilah mereka memberikan ucapan syukur kepada sang Pencipta.

Suguhan tarian Humba tentu saja membuat kita sadar bahwa peghormatan terdap budaya dan alam menjadi simbol penghormatan kepada leluhur, ini tidak berdiri secara sendiri-sendiri, namun memiliki hubungan yang erat seperti tarian saat melakukan proses tanam, prose panen dan lain sebagainya. Ucapan syukur yang  dilakuan dalam konteks budaya masyarkat Humba seluruhnya menjadi pertanda bahwa “kita satu kesatuan yang utuh”

Selain itu juga dalam Festival Wai Humba VI disuguhkan drama musikal, cerita rakyat, permainan tradisonal (lomba gasing) dari berbagai komunitas masyarakat adat dan  pelajar di pulau Sumba, ini sebagai bentuk kontribusi generasi muda untuk tidak melupakan sejarah dan nilai budaya Sumba, serta memberikan pasan kepada masyarakat bahwa budaya Sumba bukan sekedar “topeng monyet”.

Pa Eri Wee atau Kalarat Wai (Pengkeramatan Sumber Mata Air)

Dalam konteks budaya Marapu Kalarat Wai merupakan proses ibadah untuk meminta restu kepada sang leluhur, ini dilakukan agar setiap kegitan berjalan dengan lancar dan baik tanpa ada halangan. Kalarat Wai dalam Festival Wai Humba ditandai dengan adanya dialog antara para Rato untuk memastikan tata cara pelaksanaan ritual sejalan dengan budaya.

Dialog yang dilakukan oleh para Rato akan menghasilkan sebuah keputusan dengan melihat hati ayam dimana masing-masing Rato menterjemahkan hati ayam tersebut sesuai dengan konteks kegiatan apakah dilanjutkan atau tidak tergantung  dari hasil penglihatan secara ritual oleh para Rato.

Pada kegiatan Wai Humba kali ini hasil yang diterjemahkan oleh para Rato menunjukan ada dukungan leluhur sehingga kegiatan terus dilakukan sampai pada proses akhir. Kalarat Wai atau Pengkeramatan Air sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian alam terhadap sumber-sumber mata air yang selama ini mendapat ancaman serius.

Kalarat Wai merupakan aktivitas religus aliran kepercayaan Marapu dengan melakukan persembahan di sumber mata air, selain merupakan ibadah ucapan syukur, kegiatan ini sekaligus sebagai ibadah permohonan kepada sang pencipta agar senantiasa melimpahkan karunia air buat orang Humba.

Samapi saat ini, masyarakat adat di kawasan tempat persembayangan masih mengkeramatkan/melarang aktivitas pengerusakan di tempat mata air. Air dipercaya bersumber dari keberadaan hutan yang terbentang luas membukus gunung di pulau Sumba.

Diskusi Kampung Humba

Diskusi kampung Humba merupakan bagian dari kegiatan Festival Wai Humba VI tahun ini, tujuan diskusi ini untuk menguatkan kapasitas masyarakat desa tentang budaya dan lingkungan. Di atas telah dijelaskan secara umum bagaimana budaya dan lingkungan menjadi satu kesatuan utuh bagi masyarakat Sumba. Pada kesempatan ini, diskusi dilakukan secara bersama dan di bagi dalam beberapa kelompok dengan topik yang berbeda-beda seperti topik perhutanan sosial, hak ulayat, Hukum dan Kebijakan pengakuan terhadap Marapu, perubahan iklim, dan lain sebagainya.  

Hasil dikusi ini akan menjadi rekomendasi kepada pemerintah untuk bagaimana menyelesaikan berbagai persoalan yang selama ini dihadapi oleh masyarakat adat. Penguatan kapasitas masyarakat adat menjadi agenda besar kegiatan Wai Humba, tidak saja menyadarkan mereka soal budaya dan alam tetapi juga memberikan edukasi terkait dengan perkembangan yang ada saat ini.

Permainan tradisional Sumba

Diskusi kampung Humba sekaligus untuk mematahkan stigma luar bahwa masyarakat desa adalah masyarakat yang tidak memiliki pendidikan yang baik atau “bodoh.

Untuk menjawab tantangan ini, Festival Wai Humba memberikan edukasi terkait masyarakat adat. Dialog budaya yang berlandas pada kesadaran bersama akan pentingnya nilai-nilai budaya dan alam sebagai sumber kehidupan masyarakat.

Dalam diskusi kampug Humba masyarakat adat juga di ajak untuk mengnjungi kampung-kampung tua di mana tersimpan banyak nilai dan sejarahnya, ini sebagai upaya Wai Humba untuk mengajak masyarakat desa mempertahankan keaslian kampung sehingga sejarah dan nilainya tidak luntur mengingat saat ini perkembangan semakin cepat mempengaruhi budaya. Mempertahankan keaslian kampung tentu saja ada hubungannya dengan alam, di mana masyarakat adat selalu mengandalkan alam untuk memenuhi kebutuhan rumah adat.

Saat ini banyak kampung yang sudah tidak lagi menggunakan bahan dari alam seperti atap yang sering kita lihat sudah menggunakan seng hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan sumber daya alam seperti alang-alang sebagai bahan utama yang hari ini semakin langka. Wai Humba melihat bahwa ini ancaman yang sangat serius ketika ketersediaan bahan di alam sudah tidak ada akibat dari adanya alih fungsi lahan di pulau Sumba.

Penghargaan Wai dan Tana Humba

Pada proses penghargaan malam Festival Wai Humba VI  merupakan bagian terpenting untuk mngajak masyarakat luas agar “melawan lupa” di mana melawan lupa memberikan makna bagi kita semua untuk mengingat perjungan tiga Umbu yang di penjara karena mempertahankan tanah leluhurnya dari aktivitas perusahaan tambang Minerba di pulau Sumba.

Penghargaan Wai dan Tana Humba juga sebagai bentuk konsolidasi untuk membangun komitmen dan partisiapasi masyarakat Humba untuk merawat dan melindungi. Penghargaan ini sebagai wujud dedikasi mereka terhadap tanah Humba dimana demi martabat dan leluhur mereka mengorbankan diri dan kelurga untuk terus mempertahankan tanah.

Dedikasi dan loyalitas mereka terhadap tanah Humba tidak sebanding dengan penghargaan dalam Festival Wai Humba, namun yang sangat mendalam adalah ketika penghargaan ini melahirkan banyak pejunag-pejuang budaya dan lingkungan untuk terus bertumbuh dengan karakter yang kokoh dalam menghadapi tantangan global.

Penghargaan Wai Humba VI  ini diberikan kepada tokoh-tokoh pejuang lingkungan dan buday Humba. Proses Ini untuk memberikan pembelajaran bagi generasi muda Humba untuk merawat tanah dan air dari praktek-praktek penghancuran. Artinya ini merupakan refleksi perjuangan bukan festival wisata sebagaimana yang marak dilakukan di tanah Humba.

Sudah sepantasnya sebagai genarasi penerus Wai Humba terus mengingatkan perjuangan masyarakat menolak tambang masuk dan menghancurkan tanah Humba. Festival Wai Humba VI sengaja di gelar di Kampung Tabera desa Doka Kaka di mana memiliki gunung Pura Nobbu sebagai sumber kehidupan masyarakat.

Penulis: Tarsi Salmon

Editor: Irvan K

alterntif text