Home / Berita Terkini / Pengrajin Tenun di TTU Keluhkan Pemasaran
Rosalinda Abuk sementara menenun kain futus (Foto: eman)

Pengrajin Tenun di TTU Keluhkan Pemasaran

Kefamenanu,Vox NTT-Pengrajin tenun kain tradisional di kabupaten TTU khususnya di Desa Fatu’Ana, Kecamatan Insana mengeluhkan sulitnya pemasaran produk yang mereka hasilkan.

Padahal kain tradisional jenis bete (kain untuk laki-laki) dan tais (kain untuk perempuan) yang biasa mereka produksi diharapkan mampu menopang kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Akibat sulitnya pemasaran kain tersebut, sering kali hasil produksi kain mereka dijual dengan harga yang sangat murah.

“Kami biasanya jual di pasar Maubesi, kalau datang cari di rumah untuk kain jenis futus harga per lembar Rp 300 ribu tapi kalau kami bawa sampai pasar ini harganya bisa jadi Rp 200 ribu bahkan Rp 150 ribu tapi terpaksa kami jual karena mau pakai untuk kebutuhan dalam rumah” ungkap Esi Neno, salah seorang pengrajin kain tenun saat ditemui VoxNtt.com di kediamannya di desa Fatu’Ana pada Minggu (17/12/2017).

Esi kepada media ini menjelaskan tak menentunya harga kain tenun yang dihasilkan, disesuaikan dengan jenis dan tingkat kesulitan dalam proses pengerjaannya.

Selain itu lama waktu proses pengerjaan juga menentukan tinggi rendahnya harga kain per lembar.

“Jenis kain yang dihasilkan itu ada 3 ,yang paling mahal itu jenis buna karena memang kerjanya cukup sulit dan lama, harganya bisa sampai Rp2,5 juta, jenis tenun ikat atau futus itu harganya Rp 1 juta per lembar dan yang paling murah itu jenis sotis yakni Rp 300 ribu/lembar”jelas Esi.

Sementara itu, pengrajin kain tenun lainnya, Rosalinda Abuk menjelaskan bahwa keterampilan menenun diperolehnya secara turun temurun dari orang tuanya.

Ia pun menjelaskan bahwa sejauh ini pihaknya belum pernah mendapatkan pelatihan khusus terkait keterampilan menenun.

Terkait kesulitan pihaknya untuk menjual kain tenun yang dihasilkan, Rosalinda berharap agar pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat mencari jalan keluarnya.

“Menenun ini keterampilan yang kami dapat turun temurun dari orang tua, di sini anak perempuan wajib tahu menenun, kami berharap pemerintah bisa bantu kami biar kami bisa jual dengan harga yang sesuai dengan kecapaian kami” ungkapnya penuh harap.

Penulis:Eman Tabean

Editor: Irvan K

Komentar

comments

VOX Share Button

Check Also

Calon DPRD Ende Belum Memenuhi Syarat Kesehatan Rohani

Ende, Vox NTT- Komisioner KPU Kabupaten Ende, Djamal Umar menyebutkan, calon legislatif (caleg) dari masing-masing …