Cerpen Fian Watu*

Siang belum pamit ketika kejadian itu tiba. Tangisan demi tangisan memecahkan siang yang keras itu. Tidak hanya siang, lantai rumah dan kain-kain ikut basah karena air mata itu. Sekelompok ibu menggerumuni seorang gadis yang sedari tadi berteriak ketakutan. Gadis itu membanting-banting tubuhnya sendiri. Dia berteriak dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Belum lagi kekuatannya seperti bertambah. Gadis ini merusakkan segala perabotan rumah tangga. Pecahan piring dan gelas berserakkan di lantai rumah semipermanen itu. Padahal yang kami tahu gadis ini adalah gadis yang pandai merawat segala sesuatu. Dia terlalu pendiam bagi warga kampung. Melihat perilakunya ini, timbul banyak pertanyaan.

Aku duduk tak jauh dari tempat gadis itu. Sudah dua jam dia berteriak dan membanting tubuhnya. Selama dua jam itu ibunya juga menangis. Aku tak menangis karena itu membuat seseorang dalam tubuh gadis itu akan tertawa. Aku hanya berdoa satu kalimat: bebaskanlah kami dari yang jahat Tuhan dan ditutup dengan doa Santo Mikhael.

Entah berapa kali doa ini jatuh dari mulutku, aku tak mau menghitungnya. Setiap kali aku berdoa dalam hatiku, gadis itu semakin berteriak. Sebelumnya aku berdoa dengan suara namun gadis itu menghentikannya. Dia menyuruhku berhenti berdoa karena itu membuatnya kesakitan. Aku jadi bingung, doa mana yang membuat orang menderita. Bukankah doa selalu membuat orang bahagia?

Kejadiannya dimulai sehari setelah syukuran wisuda gadis ini. Ya, Prada lulus cum laude di salah satu universitas ternama di Pulau Jawa. Sebagai rasa syukur, orang tuanpya mengadakan acara setelah Prada pulang ke rumah. Banyak warga kampung yang diundang saat itu. Orang makan sampai kenyang dan ber-gawi* ria untuk kesuksesan sarjana muda itu. Pagi hari setelah melewati malam kebahagiaan itu, Prada bangun dalam ketakutan. Dia berteriak histeris dengan bahasa yang gagal kami paham. Aku yang sedang menyeruput kopi segera pergi ke rumah tetanggaku itu. Di sana, di wajah ayu Prada tergambar amarah yang sangat besar. Amarah yang belum pernah aku temukan pada diri seorang Prada sebelumnya. Dia mulai melempar segala barang yang ada di dekatnya. Ibunya menangis, ayahnya langsung pergi ke rumah Ata Mbe’o*. Aku dan ibunya memegang Prada agar tidak memberontak. Ibu-ibu yang lain juga membantu kami. Dengan sedikit gerakkan, Prada menghempaskan kami ke lantai. Kepalaku membentur dinding papan. Ibunya tersungkur di lantai. Teriakan ketakutan kini berubah jadi tawa. Prada tertawa keras melihat kami terjatuh. Tapi dengan tawa itupun wajahnya tetap saja seram. Aku hendak menempelkan rosarioku ke telapak tangan Prada namun terhenti karena Ayah Prada datang dengan cepat untuk menghentikan. Di belakangnya Ata Mbe’o itu berdiri tegap. Dia meminta semua kami keluar dari kamar Prada. Hanya dia, ayah, dan ibu Prada yang boleh masuk. Dari arah kamar aku hanya mendengar beberapa potong kalimat tidak jelas dari Ata Mbe’o itu. Tidak sampai lima menit teriakan Prada lenyap. Entah apa yang membawa teriakan pergi, yang kami tahu Prada keluar dengan sadar. Hanya rambut dan bajunya yang berantakan.

“ Untung kalian cepat memanggilku.” Ata Mbe’o itu bergumam.

“ Memangnya apa yang terjadi pada Prada?” Kata Ibu Prada cemas.

“ Dia dirasuki Ata Pozo*.” Kata Ata Mbe’o itu singkat.

Sudah kuduga pasti ini ulah Ata Pozo. Kejadian seperti ini sudah biasa di kampungku, sedetik saja kau bahagia, kau harus siap menderita berkali-kali. Itulah yang membuat kampungku tidak maju-maju. Sampai-sampai barang mewah pun enggan kami beli. Bila seseorang membeli barang baru, anggota keluarganya pasti akan sakit tanpa sebab. Mungkin ini juga yang menimpa Prada. Dia menjadi orang pertama bergelar sarjana di kampungku dan itu tidak disukai.

“Siapa Ata Pozo itu?” Tanya Ayah Prada saat Prada dirasuki untuk kedua kalinya. Dua hari setelah kejadian pertama, Prada kembali menggila. Kali ini dia sempat memukul ibunya. Pelukan ibunya dibalas dengan sebuah tamparan. Ibunya hanya bisa menangis sambil memeluk kaki anak semata sayangnya itu. Aku dan ibuku selalu datang ke rumah Prada karena kejadian itu. Berdoa dan berdoa, itulah yang kulakukan. Sesekali aku berusaha membantu menghentikan tingkah aneh Prada.

“Nanti akan aku beritahu. Aku sudah tahu siapa yang merasuki Prada.” Kata Ata Mbe’o itu sambil menghabiskan kopinya. Kami yang ingin tahu pelakunya kembali dibuat penasaran. Bagi kami, bagian yang paling seru ialah mengetahui siapa yang merasuki Prada. Orang kampung seperti kami akan cepat memvonis penyakit seseorang sebagai sebab dari Ata Pozo. Bukan tanpa sebab, saat seorang sudah sakit berat dan didiagnosa dokter tidak ada penyakit, pikiran kami langsung terarah pada Ata Pozo.

Doaku belum putus ketika Ayah Prada dan Ata Mbe’o itu datang. Ayah dan ibu Prada percaya pada Ata Mbe’o ini. Banyak uang telah mereka bayar untuk Ata Mbe’o ini. Kehebatannya menyembuhkan patut dihargai. Sekali mengucapkan kalimat seperti mantra Prada langsung rebah. Roh jahat seperti takut kepadanya. Tapi aku masih heran mengapa roh Ata Pozo itu masih saja merasuki Prada.

Sama seperti kejadian sebelumnya, kali ini kami diminta keluar dari kamar Prada. Ayah dan ibu Prada terus menangis. Ini pertama kali kulihat Ayah Prada menangis. Dia rupanya sudah tak tahan lagi dengan kejadian yang menimpa anaknya. Dua hari lalu dia sempat memukul Prada yang sedang kerasukan. Bahkan dia berencana memasung anak gadisnya itu. Rencana itu gagal karena istrinya tidak tegah. Ketiga orang itu masuk kamar Prada. Aku dan beberapa ibu menunggu di luar. Suara Prada menggelegar di siang bolong itu. Bunyi perabotan yang pecah masih terdengar. Ata Mbe’o itu kembali mengucapkan kalimat yang gagal kami paham. Teriakan Prada semakin keras. Aku penasaran. Aku mengintip lewat sebuah celah di dinding kayu kamar Prada. Tangan dan kaki Prada dipegang oleh kedua orangtuanya. Ata Mbe’o itu berdiri di depan Prada.

“Siapa kamu? Keluar dari tubuh anak ini.” Kata Ata Mbe’o itu.

Jawaban hanya teriakan demi teriakan dari Prada. Mulutku tak pernah berhenti berdoa dan mataku tak pernah beralih dari tubuh Prada.

“Cepat jawab atau kubuat kau menderita.” Ata Mbe’o itu memaksa.

“Aku Tinus. Hahahahaha.”

Ayah dan ibu Prada kaget. Tidak mungkin. Tinus adalah Paman Prada, adik dari kandung dari ayah Prada.Tidak mungkin Tinus menyakiti keponakannya sendiri. Langit-langit rumah seperti runtuh menimpa kami. Aku yakin pasti orang dekat pelakunya. Namun aku masih heran mengapa selalu keluarga dekat. Ya, kasus seperti ini juga pernah terjadi. Temanku Ina pernah dirasuki dan pelakunya adalah bibinya sendiri. Sepengetahuanku hubungan mereka baik-baik saja selama ini. Hati seseorang tidak ada yang tahu. Tapi aku yakin, kekuatan jahat sedang memecah-belah keluarga itu.

“Keluar dari tubuhnya.” Di kalimat terakhir Ata Mbe’o itu, Prada rebah tak sadarkan diri. Bersamaan dengan itu, Ayah Prada keluar dari kamar, mengambil parang di dinding rumah dan berlari keluar rumah.

“Kubunuh kau Tinus.” Teriak lelaki itu.

Amarah tergambar jelas di wajah lelaki itu. Aku bisa mencegahnya kalau mataku tidak menangkap sesosok roh di dalam kamar itu. Kuusap mataku berkali-kali tapi masih kutemukan roh Ata Pozo itu di sana. Roh itu keluar dari tubuh Prada dan berdiri di dekat tubuh itu. Roh itu tersenyum pada Ata Mbe’o. Ata Mbe’o itupun tersenyum kepadanya.

Senyuman itu lebih mirip senyuman kemenangan bukan senyuman sinis. Ata Mbe’o itu tertawa puas begitu juga roh perempuan itu. Keduanya berpelukan lebih sebagai sepasang kekasih bukan musuh. Kuusap lagi mataku dan kini kulihat dengan jelas. Roh itu berambut panjang. Tidak mungkin, pikirku. Roh itu roh istri Ata Mbe’o. Dalam ketidakpercayaan, aku langsung berlari hendak mencegah ayah Prada. Sebelum mencapai pintu, ayah Prada telah berdiri di depan rumah dengan tangan berlumur darah. Di tangan kanannya dia memegang sebuah kepala. Kepala istri Ata Mbe’o itu. Darimana dia tahu?

*Mahasiswa STFK Ledalero, anggota Teater Tanya Ritapiret.

Daftar Istilah

*Ata Pozo: sebutan untuk orang yang mempunyai kekuatan jahat dan sering mencelakakan orang dalam budaya orang Lio

*gawi: tarian adat masyarakat Ende Lio

*Ata Mbe’o: ‘sebutan untuk orang pintar’ atau dukun yang punya kekuatan supranatural dalam budaya Lio.

(Catatan) Cerpen Yang Hidup Dalam Sukma
Oleh Hengky Ola Sura
Redaksi Seni Budaya VOX NTT

Membaca Kematian Ata Pozo adalah membaca kisah yang khas dan hidup dalam hampir kebanyakan cara pandang masyarakat kita. Kisah tentang Prada yang kerasukan dan merusakan semua barang di sekitarnya, juga memukul orang di dekatnya adalah kisah-kidah penuturan yang juga lekat dengan keseharian. Cerpen ini hadir menukik sukma pembaca. Detail penceritaannya hingga pada titik tertentu stagnan dan membuat pembaca teralienasi dengan pikirannya masing-masing usai membaca cerpen ini. Maka keseluruhan kisah dalam cerpen ini adalah jejer kisah yang hidup dalam sukma pembaca.
Belum banyak cerpenis/penulis cerpen di NTT yang khas menggarap cerpen dengan tema yang unik dan berhasil. Dan untuk cerpen Fian Watu kali ini boleh dibilang cerpen yang berhasil dan merangsek daya imaginasi pembaca untuk berpikir lebih dalam tentang kisah-kisah seperti teror ilmu supranatural, tentang praktik klenik dan perdukunan yang tak masuk akal sehat. Belum habis semua jalan cerita terurai dan Fian menutup ceritanya dengan kepala dari istri Ata Mbeo yang terpenggal oleh Ayah Prada. Selesai dan pembaca seperti ingin membaca lagi. Ini salah satu karakter khas dan berhasil yang dimainkan oleh Fian Watu sebagai pengatur gerak cerita. Terlepas dari banyak tanda tanya yang menghantui sukma pembaca cerpen ini saya pribadi kagum dengan keberanian Fian mengangkat kisah macam ini dengan sangat berkelas.

alterntif text