Home / Berita Terkini / “Sang Ngkiong” Kole Beo
BKH berpose dengan warga Ngkiong, Pocoranaka Timur, Matim (Foto; Boni)

“Sang Ngkiong” Kole Beo

Borong, Vox NTT-Usai mengelilingi wilayah di Kecamatan Sambi Rampas pada Sabtu (24/03/2018), pada hari yang sama BKH dan rombongan menuju ke titik selanjutnya yakni Desa Ngkiong, Kecamatan Poco Ranaka Timur.

Di sana BKH diterima dengan ramah. Suasana kekeluargaannya begitu hangat. Dia kembali disambuti dengan tuak reis dan manuk kapu (Tuak dan ayam yang dipakai sebagai simbol penerimaan).

Di Ngkiong, BKH disambut sebagai anak kandung sebab dari sana lahir seorang tokoh yang dianggap BKH sebagai orang tuanya.

Tokoh yang dimaksud adalah Belasius Palus, seorang mantan Jaksa yang selama hidupnya memberikan banyak pelajaran untuk BKH.

Palus kata BKH, juga seperti bapaknya sendiri. Hal itu pulalah yang membuat BKH sangat menghormati sosok tersebut. Dalam pertemuan kemarin, Sabtu (24/03/2018) BKH mengajak seluruh warga di situ untuk mengheningkan cipta, mengenang sosok kebanggaan Kampung Ngkiong yang telah berpulang itu.

Usai pertemuan BKH melantunkan sebuah nyanyian bahasa Manggarai yang berjudul Ngkiong. Lagu yang sering dibawakan BKH ini memang terdengar biasa saja karena sudah sering dinyanyikan. Namun kali ini rasanya agak berbeda karena dari kampung Ngkiong, burung Ngkiong dulunya banyak bersarang.

Bagi BKH sendiri, lagu ini sarat makna karena mengandung ajakan untuk kembali membangun kampung.

“Tadi saya menyanyikan lagu ‘ngkiong ngkiong neka oke kuni agu kalo’. Itulah jawaban mengapa saya kembali ke NTT. Banyak orang bertanya, mengapa Pa BKH ingin kembali ke NTT? Sudah hidup mapan di tingkat Nasional ko mau hidup susah-susah dengan masyarakat di NTT. Jawabannya ada dalam lagu ‘Ngkiong’ tadi, ” jelas BKH.

Tokoh masyarakat Ngkiong, Nobert Rades, usai pertemuan menyampaikan nasib NTT dan masa depan generasi muda ditipkan kepada BKH.

Kehadiran BKH, kata dia, seperti kembalinya burung Ngkiong ke tengah kampung untuk mengingatkan anak muda sekarang pentingnya membangun daerah sendiri.

Ai ite anak dami Pa Benny, ata kut lonto siri bongkok NTT ho’o. One ites lami serah empo-empo dami so’o ngger olon,(Kepada Pak Benny kami titipkan masa depan cucu-cucu kami)” katanya.

Selain itu dia juga meminta leluhur Ngkiong agar selalu bersama BKH, kapanpun dan ke manapun BKH melangkah.

Kepada Voxntt.com, ketika ditanya tentang hubungan historis burung Ngkiong dengan Kampung Ngkiong, Nobert menjelaskan berdasarkan cerita leluhur yang dibawa secara turun temurun, kampung itu diberi nama Ngkiong karena pada saat kampung itu mau diberi nama, burung Ngkiong berkicau tanpa henti.

Hebatnya, Ngkiong ini bisa mengikuti bunyi (suara) sesama binatang lainnya, misalnya mengikuti kambing, kerbau dan kuda mampu dilakukan Ngkiong. Kepada BKH Nobert menegaskn masyarakat di kampung Ngkiong total untuk kemenangan Harmoni di Pilgub NTT.

Penulis: Boni J

Komentar

comments

VOX Share Button

Check Also

Warga Desa Tengatiba Konsumsi Air Keruh dan Bau

Mbay, Vox NTT-Warga desa Tengatiba, Kecamatan Aesesa Selatan, Kabupaten Nagekeo terpaksa harus mengonsumsi air kali …