Gubuk Kober Tunas Baru Mabhalese di Desa Selalejo Selatan, Kecamatan Mauponggo. Gambar diambil Senin (14/05/2018). (Foto: Arkadius Togo/Vox NTT)

Mbay, Vox NTT- Tempat belajar Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Tunas Baru  di Desa Persiapan Selalejo Selatan, Kecamatan Mauponggo, Kabupaten Nagekeo mirip kandang ayam.

Gubuk kecil sebagai tempat belajar anak PAUD Tunas Baru ini letaknya persis di samping  Sekolah Dasar Mabhlese.

Kondisinya memang memperihatinkan. Betapa tidak, seluruh bangunan berdindingkan anyaman bambu.

Tiang dan konstruksinya lainnya juga hanya ditopang dengan menggunakan bamboo, meski beratapkan sink.

Ukuran ruangannya tak lebih dari 2,5 kali 5 meter dan menampung sekitar 21 orang anak  kelompok belajar (Kober).

Siang hari, gubuk itu digunakan sebagai tempat belajar anak PAUD. Malam hari kerap disulap menjadi kandang ayam.

Dindingnya dirancang persis kandang ayam yang memiliki banyak cela.

Mirisnya, jika musim hujan tiba aktivitas belajar mengajar tidak bisa dilakukan karena air masuk ke dalam gubuk.

Selain itu, tak ada fasilitas istimewa di gubuk belajar ini. Ruangan guru juga berfungsi sebagai tempat belajar.

Tak ada sarana permainan untuk anak-anak. Perpustakaan, komputer, dan lain-lain sebagai media belajar selayaknya anak PAUD di daerah lain tampak tak dijumpai di tempat belajar anak-anak PAUD Tunas Baru.

Pengelola Kober Tunas Baru Mabhasele, Kritoforus Sare kepada wartawan, Senin (14/05/2018), mengatakan, PAUD tersebut berdiri sejak satu tahun yang lalu.

Ia didirikan secara bergotong-royong oleh masyarakat setempat.

Kata Kristoforus, gedung sekolah berdinding bambu dan beralas tanah ini belum pernah tersentuh bantuan renovasi dari Pemda Nagekeo. Padahal, di tempat ini terdapat 21 anak menuntut ilmu.

“Kober Tunas Baru memiliki tiga orang pengajar dan jumlah anak Kober 21 orang,” ujarnya.

Ia mengatakan, gubuk Kober Tunas Baru didirikan oleh masyarakat karena peduli dengan pendidikan. Kober setara dengan PAUD.

“Di sini rata-rata yang ikut Kober ada usia 3 hingga 5 tahun. Ini swadaya masyarakat. Tidak ada bantuan dari pihak lain,” kata Kristoforus.

Meskipun kondisinya seperti kandang ayam, namun pihak Kristoforus tetap semangat mengajar dan membimbing anak-anak.

“Banyak orang datang melihat Kober ini seperti kandang ayam. Memang sedih sekali tapi mau bagaimana lagi. Kita tetap semangat mengajar,” tandasnya.

 

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Adrianus Aba

alterntif text