Bupati Matim, Yoseph Tote saat memberikan benih jagung kepada salah satu petani yang mewakili masyarakat desa Mbengan (Foto: Nansianus Taris/Vox NTT)

Borong, Vox NTT-Bupati Manggarai Timur (Matim) Yoseph Tote memuji Yohanes Tobi, Kepala Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, karena mengelola Dana Desa secara transparan.

“Kita patut mencontohi Desa Mbengan yang sukses membangun desa dengan mengelola keuangan desa yang transparan,” kata Bupati Tote dalam sambutannya saat acara Puncak Kegiatan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BB-GRM), Hari kesatuan Gerakan PKK (HGK) ke-46 dan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-25 tingkat Kabupaten Matim di Desa Mbengan Kecamatan Kota Komba, Kamis, 31 Mei lalu.

“Kita lewat tadi, di sekitar jalan terpampang jelas papan informasi Dana Desa dan item kegiatan kerja desa. Di papan besar itu juga tadi foto bapak Kades yang gagah dan ganteng. Ini jadi contoh bagi desa lain di Manggarai Timur,” sambung dia.

Bupati Tote mengatakan, mengelola keuangan desa bukan untuk memperkaya diri sendiri, tetapi untuk kesejahteran masyarakat desa.

Adanya Dana Desa dan Alokasi Dana Desa, ujar dia, bertujuan untuk menata desa dengan baik. Apalagi kuncuran dana setiap desa sangat besar.

Bahkan pada kesempatan itu Bupati Tote meminta wartawan yang hadir di kegiatan untuk menulis tentang keberhasilan Kepala Desa Mbengan dalam membangun desa.

“Saya minta teman-teman wartawan menulis tentang Kades Mbengan yang dinilai sukses membangun desa. Beliau sudah memberi contoh pengelolaan Dana Desa yang transparan dan akuntabel. Tulis ini. Biar segala kesuksesan Desa Mbengan bisa diketahui untuk dijadikan contoh desa lain. Ini perlu juga diketahui oleh orang luar termasuk desa-desa di Manggarai Timur,” pinta Bupati Matim dua periode itu.

Menurutnya, di tengah kehidupan bersama tidak adalagi yang harus disembunyikan. Seluruh rancangan, alokasi dana, lokasi dan jenis kegiatan di desa harus diketahui semua orang.

Bupati yang berpasangan dengan Agas Andreas itu menambahkan, seluruh pembangunan di desa harus melibatkan semua masyarakat.

Sebab, Dana Desa hadir untuk menciptakan lapangan kerja dan membantu ekonomi masyarakat desa.

Sementara itu, Kepala Desa Mbengan Yohanes Tobi saat ditemui VoxNtt.com di sela-sela kegiatan mengungkapkan, jumlah Dana Desa dan Alokasi Dana Desa untuk desanya tahun 2018 sebesar Rp 1,5 Miliar.

Dana tersebut digunakan untuk kegiatan fisik pembangunan air minum bersih, rabat 1.032 meter, banguan posyandu, panggung hiburan, bantauan 10 unit rumah dengan anggaran setiap rumah sebesar Rp 10 juta.

Kades Mbengan, Yohanes Tobi (Foto: Nansianus Taris/Vox NTT)

Yohenes menjelaskan, sebelum proses pembangunan dimulai musyawarah mulai dari tingkat RT. Musyawarah itu bertujuan untuk menentukan program prioritas di tingkat RT.

Di tingkat TPK juga demikian. TPK bekerja sama dengan kepala desa dan jajarannya, sehingga tidak ada lagi masalah ketika mulai bekerja.

Selain itu, masyarakat di Desa Mbengan juga bekerja sama dengan tokoh pendidikan, tokoh adat, tokoh masyarakat. Mereka semua ikut ambil bagian dalam berbagai pertemuan untuk menentukan kegiatan apa yang baik untuk desa.

Yohanes mengatakan, pihaknya berusaha untuk selalu transparan dalam mengelola Dana Desa agar masyarakat melihat secara langsung program pembangunan yang harus dikerjakan dalam setahun. Tidak ada hal yang ditutup-tutupi.

Pihak Yohanes juga memajang seluruh program desa di setiap RT, sudut jalan, tempat umum agar masyarakat tidak lagi bertanya tentang alokasi dana di desa.

Tak hanya itu, lanjut dia, seluruh pekerjaan juga melibatkan semua masyarakat Desa Mbengan tanpa kecuali.

Keterlibatan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan ekonomi mereka.

Yohanes mengaku, saat ini tidak ada lagi masyarakat yang menjadi TKI.

Kendati memang masih ada warga yang merantau antar daerah, namun Kades Yohanes mengaku, mereka ada keluarga yang sudah lebih dahulu tinggal di tempat itu. Tempat rantauan seperti Kalimantan dan daerah lainnya. Itu pun jumlah perantau dari Desa Mbengan sangat sedikit.

Dia menambahkan, jumlah kepala keluarga Desa Mbengan sebanyak 500 dari 2.500 jiwa.

Sebagian besar bermata pencaharian petani dengan penghasilan utama cengkih, kakao dan tanaman komoditi lainnya.

 

 

Penulis: Nansianus Taris
Editor: Adrianus Aba

alterntif text