Dua Kandidat yakni Wangge-Munawar dan Marsel-Djafar berpose bersama Moderator Prita Laura usai debat Part 2 (Foto: Ian Bala/Vox NTT)

Ende, Vox NTT-Politisi perempuan Megy Sigasare membantah pernyataan calon Bupati Ende Don Bosko M. Wangge saat Debat Part 2 di Aula BBK Ende pada Sabtu (9/6/2018).

Bantahan Megy terkait ungkapan Don Wangge soal tidak beraninya perempuan dalam kancah politik dan posisi perempuan dalam kestrataan sosial dengan kedudukan paling belakang.

Megy menilai bahwa sebagai calon bupati mestinya tidak merendahkan harkat dan martabat perempuan.

Politisi Golkar ini juga menguraikan tentang kestrataan sosial dan posisi laki-laki yang selalu mengedepankan egosentrisme. Salah satu dibuktikan dalam kegiatan budaya maupun hajatan tertentu.

“Kami (perempuan) bukan lemah, bukan juga kami tidak berani. Ini menurut saya sangat merendahkan perempuan,”katanya usai debat, Sabtu siang.

“Hanya, ruang yang berikan kepada kami tidak seluasnya. Laki-laki hanya menunjukan egonya,” kata Megy.

Ia bahkan mengkritisi solusi calon bupati Don Wangge soal pemberdayaan perempuan yang dianggap sangat tidak solutif.

“Kalau saya simak itu hanya datar-datar saja. Loh, kan sama nanti nasib perempuan begitu juga. Mestinya, calon bupati memberi solusi yang solutif. Bukan datar-datar saja,” katanya.

Pada sisi lain, Megy juga memberikan beberapa pokok pikiran soal gender terutama pada bidang politik. Menurutnya, pemerintah perlu adakan pendidikan politik yang memiliki agenda untuk mendorong perempuan aktif dalam berpolitik.

Pendidikan politik ini dimaksud, jelas Megy, untuk membangun pola pikir, pola sikap dan pola tindak perempuan terhadap politik.

“Perempuan juga mempunyai peranan dan kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk berkarir di bidang politik. Sehingga menurut saya perlu adanya penyamaan persepsi antarlembaga baik eksekutif, legislatif dan yudikatif terkait kuota perempuan ini sehingga ada upaya memaksimalkan keterwakilan perempuan yang 30 persen tersebut,” ungkap Megy.

Sebelumnya, Calon Bupati Ende Don Wangge mengatakan, perwakilan perempuan di lembaga DPR yang tidak mencapai 30 persen disebabkan keterlibatan perempuan dalam urusan politik masih rendah. Bahkan, kestrataan sosial kemasyarakatan dianggap tidak nampak sama sekali.

“Kendala utama adalah keberanian, peminat perempuan yang belum nampak. Begitu pula posisi perempuan di parpol (partai politik) yang ditempatkan di bagian yang tidak penting. Sehingga saya katakan bahwa perempuan sangat tidak berani,” ungkap Don Wangge.

Ia pun mengungkit soal tradisi perempuan Ende Lio yang hanya berurusan dengan dapur dan keluarga. Bahkan, Don Wangge memposisikan kaum perempuan terbelakang dengan kebiasaan mengurus dapur.

Ketika Moderator Preti menanyakan solusi dan sistem pemberdayaan perempuan jika ia terpilih menjadi Bupati, Don Wangge tak punya pemikiran solutif. Ia hanya berkomentar datar dengan mengajak kaum perempuan berpolitik.

“Ya, (kami, red) mengajak perempuan untuk berpolitik, itu saja mbak,” katanya datar.

 

Penulis: Ian Bala
Editor: Adrianus Aba

alterntif text