Pius Rengka

Oleh Pius Rengka

Sebagaimana umumnya semua jenis pertandingan, tak kecuali sepakbola, selalu ada akhir. Perancis menang, Kroasia kalah. Pertandingan politik, begitu juga. Selalu ada ujung  meruncing jelas di situ. Siapa unggul siapa buntung. Yang unggul bersorak, yang buntung berunding berulang kali.

Namun, satu hal telah jelas. Pertandingan (apa pun itu) mempertontonkan segala daya dan gaya. Bahkan merenggut biaya. Bagi saya, penonton sepakbola, representasi masyarakat kerumunan. Pada awal mula jelas. Jelas karena kostumnya, jelas karena etnisitasnya, jelas karena negaranya, dan juga jelas karena agamanya.

Ada yang berkata, tiga besar piala dunia merupakan representasi tanding lintas paroki antarnegara. Tetapi, syarat kesamaan itu tak selalu menjamin imajinasi pilihan mereka serupa. Mereka berubah crowded. Baju boleh sama, pilihan club yang dibela berubah.

Crowded karena suasana dan nuansa menonton bola selalu membuncah keramaian, teriakan, caci maki, sumpah serapah. Penonton tak dapat dikendalikan untuk hanya berseru-seru untuk satu jenis teks, semisal koor di gereja atau di lomba paduan suara. Mereka hanya jelas karena punya blok politik bola. Baju boleh seragam, pilihan berbeda. Ornamen yang dikenakan di kepala tak selalu merepresentasikan isi kepala sama.  Pada puncaknya dan terutama pada prosesnya, penonton terbelah dalam tiga blok utama.

Blok pertama kaum radikalis extrimis. Mereka  tak pusing dengan klub lain. Bagi mereka, klubnya sajalah yang terbaik, yang lain tidak lain dari peserta peramai suasana. Karena itu, teriakannya serba provokatif, spekulatif dan kadang nyinyir, nyindir. Jika toh clubnya menang, dan mungkin serba kebetulan, bagi mereka kemenangan itu semacam  keniscayaan kodrati. Tidak perlu dibahas bertele-tele.

Jika club yang dibelanya kalah di babak pengisian, mereka selalu menaruh kepastian akan menang di putaran depan seolah-olah merekalah pemeluk teguh kebenaran nasib sejarah dan kendali waktu. Tak ada kata mungkin di kaum ini. Kaum radikalis extrimis ini, bukan saja gila bola, tetapi bola juga diajak gila untuk menafsir jenis wasit, lapangan, pemain lawan dan bahkan menyalahkan cuaca dan asal usul para pemain.

Mereka bahkan caci maki pemain lawan hanya karena pemain lawan terampil menendang bola dan goal. Mbape diolok, dicaci maki. Pogba diancam dan kadang dihujat. Mbape tak salah, Pogba tak keliru. Griezmann tak berdosa. Dia cuma menendang bola ke arah lubang gawang sambil mengakali kipper, itu saja.  “Cukaminyak Griezmann,” kira-kira begitu teriak mereka di tepi lapangan.

Blok jenis ini banyak beredar di dekat kita, termasuk urusan politik. Kaum inilah sesungguhnya perusak suasana. Mereka radikalis karena ruang bacanya terbatas. Mereka gemar mengolok-olok lawan tanding karena mereka keterbatasan diksi sosial. Kita yang lain tak perlu sesali. Yang patut kita sadari ialah orang sejenis ini selalu akan hidup dan masih hidup di sini dan kini. Jumlah mereka pun tak sedikit. Banyak sekali.

Luka Modric dan pemain muda top Kylian Mbappe berpose dengan piala pribadi mereka setelah final hari Minggu di Moskow (Foto: www.thestar.com)

Blok kedua, adalah kaum serba boleh. Kita sebut kaum permisif. Kelompok ini selalu menamakan dirinya pengamat sepakbola handal.  Analisisnya selalu salah. Karena sering salah analisa, pada puncak analisisnya sangat sering berseberangan dengan pendapatnya sendiri sebelumnya.

Kaum permisif ini, umumnya dari Indonesia. Kita sering mendengar komentar mereka tiap malam di  televisi. Tetapi mereka hafal para pemain satu-satu dan bahkan karakter permainannya.

Mereka juga menghujani penilaian kepada masing-masing pemain, sambil membenarkan kesalahan yang dibuatnya sendiri berkali-kali. Bagian ini, sesungguhnya, tak patut didengar. Tetapi karena kita penonton sama berhasrat untuk tahu apa kata orang, maka kita pun tekun saja di depan tivi dan kadang ikut angguk-angguk entah untuk apa.

Blok ketiga, kaum moderat. Bagi mereka, bola itu memang bundar dan bergulir menurut kemampuan penendang. Club yang  diandalkan khalayak, mungkin saja, tumbang di tengah jalan. Justru ditumbangkan oleh club yang sama sekali tidak atau belum diunggulkan. Akibatnya, club kesayangannya tidak melaju ke partai final. Tetapi mereka terima dengan lapang dada. Mereka  cukup obyektif melihat permainannya. Blok jenis ini, masuk di dalamnya pembela Argentina, Spanyol, Portugal, Jerman dan Brazil.

Club yang tidak diunggulkan sejak awal adalah Kroasia. Tetapi, lihatlah. Sejarah sepakbola mencatat, Kroasia didaulat nasib sejarah masuk babak final. Nyaris menang atas Perancis. Kita boleh saja berujar, Perancis memang kuat. Atau kita berkata, Kroasia kalah karena kekuatannya belum imbangi kekuatan Perancis. Dalam diksi lain, Perancis unggul karena Kroasia sial (bukan lemah).

Dua sial Kroasia. Pertama, gol bunuh diri. Kedua, handsball di ruang penalty.  Untuk urusan tarung taktik, tampaknya, Kroasia mengepung Perancis. Andaikan tak ada gol bunuh diri dan tak ada handsball di daerah penalty, skor obyektif 2 – 2. Maka pada perpanjangan waktu peluang Kroasia menang sangat tinggi dibanding Perancis. Mengapa? Karena Kroasia mengatur serangan dari rusuk kiri lapangan sangat teratur dan tajam. Sesekali serangan dibangun melalui sayap kanan dan menusuk langsung ke jantung titik rawan Perancis. Penjaga gawang Perancis bahkan dipaksa kerja keras menghalau badai bola yang datang beruntun.

Lalu, kaum takluk akal sehat berkata: Dewi Fortuna memang berpihak ke Perancis. Pada puncaknya, ketika Perancis dinyatakan juara dunia, dua presiden dari dua negara saling rangkul dalam spirit yang sama, sportivitas  elegan dan mesra nian dalam selimut persaudaraan Eropa. Kaum moderat menerima ini sebagai bagian dari perjalanan sejarah panjang piala dunia.

Pelajaran Penting

Lalu apa maknanya untuk sepakbola kita di negeri ini?  Apa pelajaran penting bagi dunia sepakbola kita di sini? Kita sama tahu, bola di sini memang sudah sering disepak entah mulai usia berapa.

Bola itu pun disepak oleh siapa saja, termasuk para pejabat yang menjadikan bola sepak sebagai media politik. Bola itu pun disepak-sepak oleh para gubernur dan bupati, meski tak pernah sekalipun tahu bermain bola sepak. Tetapi bol itu telah disepak.

Para pemain bola sepak kita pun gemar tak hanya mengejar bola dan bola disepak-sepak. Para pemian bola sepak kita berbakat sekali menyepak tukang sepak bola yang lain.  Bahkan bukan saja lawan main yang disepak-sepak, wasit pun ikut disepak. Mungkin terlalu banyak makan daging sapi.

Akibatnya, mereka tidak hanya sibuk sepak bola untuk kemudian disepak masuk gawang lawan, malah sibuk urus sepak lawan dan sepak wasit. Lalu, lupa sepak bola yang mesti disepak. Sepak-sepakan seperti ini hanya menggambarkan barbarisme olahraga di wilayah kita.  

Sepakbola belum menjadi pantulan perdaban tinggi. Sepak bola yang telah disepak hanya memantulkan peradaban kita yang masih serba belum. Serba belum itu apa?

Belum makmur, belum beradab, belum fair, belum sportif, belum sabar, dan masih banyak deretan belum lain. Sehingga saya selalu berkata: Untuk dunia olahraga dan juga pembangunan di sini, hanya ada dua hal yang tampak jelas. Hal membelum dan menyudah.

Hal yang membelum masih sangat banyak. Tetapi, yang menyudah selalu untuk urusan pribadi. Pemimpin sudah memperkaya diri sendiri, sudah menggemukkan keluarga sendiri, sudah korupsi, sudah masuk penjara, tetapi belum memakmurkan rakyat yang dipimpinnya.

Kali lain disalahkan, biasanya anggaran. Anggaran terbatas. Pemerintah sibuk  KKN. Kolusi, korupsi, nepotisme. Opsinya jelas, urus diri sendiri sebelum urusan yang lain. Rumusannya jelas. K+N=K. Kolusi plus nepotisme sama dengan korupsi.

Karena itu, mutu sepakbola di tanah air merupakan pantulan dari kelakuan negara, kelakuan aparatur pengurus tanah air.

Hal berbeda dengan Jepang. Jauh 50 tahun silam mereka sudah buat proyeksi. Bahwa satu saat, Jepang harus masuk dalam club yang diperhitungkan di dunia. Hal yang sama dengan Korea Selatan. Begitu pun Kroasia.

Kroasia, jauh sebelum  merdeka dililit krisis relasi sosial yang menggetirkan dan konflik politik bekepanjangan sampai pecahnya negara-negara Balkan. Negara-negara Balkan penuh darah. Begitu pun Kroasia. Bahkan sebagian para pemainnya pernah menjadi pelarian karena krisis politik dan konflik berdarah.

Presiden Kroasia Kolinda Grabar-Kitarovic dan Presiden Perancis Emmanuel Macron (Foto: Tribunnews.com)

Jumlah penduduk Kroasia  juga tak banyak. Tak lebih dari 4 juta jiwa. Dari jumlah penduduk itu, mereka sanggup merekrut 30 pesepakbola handal yang kemudian membuka mata dunia. Luca Modric adalah satu dari sedikit contoh penting  untuk Kroasia. Modric alami kesulitan hidup. Tetapi dia bangkit lalu menjadi satu pemain yang diperhitungkan di skala global.

Dialah juga pengatur permainan Kroasia. Dia tidak berambisi mencetak gol. Luca Modric memberi ruang bagi para sahabatnya mencetak gol. Dia berfungsi menciptakan ruang tembak. Hampir semua gol Kroasia lahir dari ruang tembak yang dibuka Luca Modric.

Halnya pemain Perancis. Griezmann lahir dari ayah Jerman ibu Portugis. Kaum extrimis malah mulai menghitung Kylian Mbepe dari Cameroon/Nigeria, Samuel Umtiti dari Cameroon, Paul Pogba dari Guinea, Ousmane  Dembele dari Senegal/Mali.

Umumnya pemain Perancis dari blok Afrika yang bermukim lama di Perancis, negeri para model dunia itu. Perancis adalah negara yang amat terbuka dengan imigran, tak sebagaimana negara ini.  Negeri ini hanya berbeda agama sudah jadi soal besar. Team sepakbola Perancis adalah manifestasi dari multikulturalisme, liberte, egalite dan fraternite.

Pada puncak ekstasi sepakbola, di depan presiden Perancis Macron, Presiden Kroasia memeluk dan membelai mesra Luca Modric. Presiden nan shyantik dan elok ini memeluk Luca Modric dengan cukup hangat nan mesra. Mungkin saja dia berujar setengah berbisik begini: “Modric, saya suka permainanmu. Aku senang melihatmu selalu di situ. Amor vincit omnia  Modric = kasih mengalahkan segalanya Modric”.

alterntif text