Penulis bersama keluarga saat berpose di Grand Canyon (Foto: Dok Pribadi)

Oleh: Marsel Rengka

Catatan Redaksi: Tulisan ini adalah lanjutan dari kisah perjalanan penulis yang telah dituangkan dalam bagian pertama, silakan baca tulisannya pada link berikut Sekeping Kisah dari West-Coast, USA (Part 1).

Dari Phoenix Melewati Page Menuju Las Vegas

….So long, Bye-bye Phoenix! Anggota rombongan kelompok pria dewasa, tidak terkecuali Narator, tampak semangat membara mengawali hari, bahkan sudah terbangun sebelum wake up call pukul 06.00 dan sudah rapi berbaris antri masuk bis pukul 07.45, lima belas menit lebih awal dari jadwal.

Setelah bertanya-jawab saat breakfast dengan Kakanda Chandra, baru saya pahami alasan yang melatari suasana cerah hari ini.

“Saatnya segera tiba,” pungkasnya. Nanti petang menjadi momentum merasakan langsung dinamika the city never sleep and the entertainment capital of the World, Las Vegas.

Las Vegas kota terbesar di negara bagian Nevada, dihuni 550.000 penduduk pada tahun 2005. Kata Las Vegas berasal dari bahasa Spanyol yang bermakna Padang Rumput.

Tempat ini ditemukan pertama kali tahun 1855 ketika 30 misionaris Spanyol datang untuk mengajari orang Indian bercocok-tanam.

Las Vegas mulai dibangun tahun 1905 dan resmi menjadi sebuah kota tahun 1911. Kota Las Vegas menjadi unik karena judi yang dilegalkan sejak 19 Maret 1931 dan ketika Bugsy Siegel, Pengusaha kondang Nevada, mendirikan Flamingo Hotel beraroma Resort dengan fasilitas Casino pertama yang resmi dibuka tahun 1946.

Saat rombongan menelusuri Freemont street di down town dalam agenda Las Vegas by night, dengan Limousine ukuran jumbo berkapasitas 20 seat, sungguh benar dan nyata betul-betul: This is the real city of never sleep!

Para pelancong berbagai negeri, laki-perempuan, tua-muda, kulit putih, kulit hitam, kulit kuning dan sawo matang bercampur baur, hilir-mudik dalam aneka perangai khas pemuda-pemudi yang sedang saling jatuh hati.

Sejauh-jauh mata memandang, ke blok kiri atau kanan, depan atau belakang, hanya pusat entertainment dan amusement yang mencolok, lengkap dengan warna-warni lampu LED  yang menggoda pria dewasa oleh para puteri dalam kostum serba minimalis.

Para wisatawan Nusantara yang ingin berpose dengan sekelompok gadis keturunan Milano-Puertoriko  dalam busana lingeries tembus pandang, siap diabadikan dengan imbal minimal 25 US-dollar untuk sekali sesi pemotretan.

Narator ikut terpana dan terbawa suasana untuk masuk barisan agar tidak kehilangan momentum, sebagaimana nasehat Dale Carnige dalam buku “How to Win Friend and Influence People” bahwa hakekatnya ada tiga hal dalam hidup yang sekali berlalu tidak bisa kembali : Waktu, Ucapan dan Kesempatan.

Penulis di dalam helicopter menuju Sungai Colorado di Grand Caniyon (Foto: Dok Pribadi)

Penjelasan Guest Relation Manager Hotel Venetian dengan kapasitas 4.049 kamar, menarik perhatian pengunjung dan merangsang takjub. Bagaimana tidak, di Las Vegas, paparnya, lebih dari 86.000 surat nikah dikeluarkan setiap tahun oleh instansi terkait. Setara 2.867 surat per bulan atau 236 surat per hari.

Empat hari menjelang Valentine Day, lanjutnya, bisa mencapai 2000 surat nikah dikeluarkan. Jadi, setiap 6 menit ada satu pasangan yang lantang berjanji di hadapan kekasih hati : Yes  I do !

Hotel Venetian, satu dari 16 hotel super jumbo di kawasan Strip Las Vegas, tampak unik oleh atap dalam gedung menyerupai langit biru, memberi kesan siang hari tidak bertepi selama 24 jam.

Sedangkan hotel LUXOR, kompetitior VENETIAN, memiliki 4.407 kamar, berbentuk Pyramid Mesir dengan kemiringan 39 derajat. Luas lobby-nya  bisa dipakai untuk parkir empat pesawat terbang Boeing 747.

Di Puncak Pyramid terlihat lampu sorot yang mencapai 15 km, dapat terlihat dari jarak 440 km dari atas kota Las Vegas bila dilihat dari Pesawat Udara.

Sebaliknya, GRAND MGM hotel yang dibuka sejak 18 Desember 1993 menjadi hotel terbesar di dunia dengan 5.044 kamar. Sedemikian jumbo dan akbarnya, sehingga biaya pembangunan MGM membutuhkan dana USD 1.03 miliar atau Rp 14.42 triliun.

Las Vegas menyajikan hiburan dunia tidak berujung sepanjang waktu. Sejumlah pelancong negeri jiran lantang memberinya gelar khusus : The Sin City, oleh karena menggoda pelacong bikin dosa dari yang ringan-ringan jenaka hingga kelas wahid.

Berpulang kepada justifikasi setiap pribadi karena menjadi pilihan bebas setiap insan.  Oleh karena itu, lebih elegan bertamasya ke Ngarai Raksasa agar merasakan sensasi dan misteri alam dengan latar ke-Maha-Kuasa-an Pencipta Semesta.

Grand Canyon (Ngarai Raksasa) terletak di negara bagian Arizona dan merupakan salah satu keajaiban dunia. Terjadi karena erosi sungai Colorado selama jutaan tahun. Air sungai ini yang mengikis batuan sedimen di dasar sungai, sementara Dataran Colorado sendiri menjulang  naik ke atas  karena pergeseran dan pergerakan dari Perut Bumi.

Sungai Colorado dengan panjang 2.334 KM dan lebar berkisar 400 meter – 24 km dan dengan kedalaman mencapai 1.600 meter, mengalir dari Pegunungan Rocky melintasi Penara Colorado, Grand Canyon, perbatasan Arizona-Nevada dan berakhir di Teluk Kalifornia.

Gracia Lopez de Cardenas, Penjelajah asal Spanyol,  adalah penemu Grand Canyon pada tahun 1540.

Sedangkan scientific expedition pertama  ke lembah ini dipimpin John Wesley Powel, seorang Walikota Amerika tahun 1860. Risetnya membuktikan batuan sedimen yang terlihat pada dinding Grand Canyon berlatar sejarah panjang ribuan tahun.

Pada mulanya, Grand Canyon dihuni penduduk asli Amerika (Indian). Sekarang menjadi destinasi wisata favourit dengan fasilitas helicopter untuk memobilisasi para pelancong menuju ngarai hingga sungai.

Kedalaman ngarai mencapai 250 meter. Hanya decak kagum dan rasa haru saat melihat langsung misteri alam raya ini. Hope to come back again someday altogether with brothers and sisters in the community of PFPers!

Dari Las Vegas Via Fresno dan Yosemite Menuju San Francisco

Good bye Las Vegas, till we meet again ! Begitu Grace menyambut hangat saat menjemput para wisatawan Nusantara di lobby hotel TheTreasure Island.

Sebelum melaju, Grace membuka cerdas-cermat mini dengan menguji memori para ibu: Siapakah  John Edmund Andrew Phillips ? Pinta Grace.

Hanya berselang lima detik, spontan Anitya dan Kenny  berpadu dalam duet : If you’re going to San Francisco. Dia Penulis lagu popular ini, jawab Anitya dan Kenny serempak.

Jadilah ketiga trio: Grace, Anitya dan Kenny seolah berpacu dalam melodi dan melantunkan bersama lagu ini dalam versi koor dua bait tanpa refrein diikuti semua anggota rombongan sambil bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan lirik berikut :

If you’re going to San Francisco
Be sure to wear some flowers in your hair
If you’re going to San Francisco
You’re gonna meet some gentle people there

For those who come to San Francisco
Summertime will be a love-in there
In the streets of San Francisco
Gentle people with flowers in their hair

San Fransisco (SFO) termasuk negara bagian California, merupakan kota ke-4 terbesar di California serta ke-14 terbesar di Amerika.

Wilayah ini ditemukan secara tidak sengaja oleh Penjelajah Spanyol tahun 1769 dan diberi nama Yerba Buena yang berarti good herbs.

Yerba Buena, dalam Bahasa Latin disebut Clinopodium douglasii, tumbuhan sejenis teh yang harum, lazim disebut Oregon Tea. Pada tahun 1821 daerah ini diambil-alih Mexico setelah mereka merdeka. Tahun 1847 nama Yerba Buena berganti menjadi San Francisco yang diambil dari nama Sir Francis.

Bangsa Amerika menjadikan SFO sebagai bagian dari USA pada 30 Januari 1847 pada saat perang Mexico. Lambang bendera SFO berupa burung Phoenix menggambarkan  kebangkitan kota SFO  dari gempa dan kebakaran tahun 1906. Di kakinya tertulis motto kota: Oro En Paz, Fierro En Guerra (God in peace & Iron in War).

Pada tahun 1869, James Marshall seorang tukang kayu dari New Jersey menemukan emas sebesar kacang yang disebut Golden Nugget. Sejak itu, banyak orang yang datang ke SFO untuk mencari emas.

Pada tanggal 18 April 1906 pukul 05.00 selama 12,6 menit kota San Francisco diguncang hebat gempa bumi berkekuatan 7,6 skala Richter. 80% kota SFO hancur dan sedikitnya 3.000 orang meninggal dunia.

Gempa besar terakhir terjadi tahun 1989 dengan julukan : Loma Preta Earthquake. Oleh karena SFO terletak di pusat aktivitas gempa negara bagian California maka rumah-rumah warga di-desain dengan karakteristik tremor-anticipatory yaitu di sisi depan tersedia tangga darurat dengan akses langsung ke car-port out-door dengan ukuran cukup luas dan berfungsi sebagai akses emergency exit dan temporary assembly point.

Oleh karena SFO dikelilingi Laut Pacific, temperatur-nya relatif sejuk sepanjang tahun. Selama musim panas suhu rata-rata berkisar 19-22 derajat Celsius, bandingkan dengan Las Vegas atau Anaheim yang mencapai 42 derajat Celsius saat Summer.

Boleh jadi, suhu udara yang bersahabat ini menjadi daya pikat para mahasiswa berprestasi dari seantro negeri dan manca negara datang untuk belajar pada dua kampus tersohor San Fransisco : Stanford University dan Berkeley University.

Golden Gate Bridge (GGB), icon yang tidak terpisahkan dari SFO. Dibangun sejak 5 Januari 1933 dan selesai 4 tahun kemudian pada 27 Mei 1937. Panjang jembatan mencapai 2,7 km, lebar 27,43 meter, tinggi jembatan 67 meter dari permukaan air, dirancang dan dibangun oleh Insinyur kondang : Joseph Strauss, dengan total biaya konstruksi USD 35 juta atau setara Rp 490 milyar.

Jembatan ini merupakan titian gantung  dan dapat bergoyang ke kiri dan ke kanan sejauh 7 meter  tanpa merusak pusat konstruksi. Sisi lain yang membuat bulu kuduk berdiri, GGB acapkali dipakai sebagai lokasi favorit bunuh diri bagi sebahagian orang yang menderita sakit berkepanjangan atau  kebanyakan hutang.

Sejak 1995 angka kematian bunuh diri di SFO mencapaii 1.000 orang/tahun, 24 orang diantaranya terjun bebas dari GGB ini.

Sebut saja Ray Raymond, Pendiri Victoria’s secret, diberitakan media setempat  terkait peristiwa melompatnya dari GGB dan disambut ikan hiu yang banyak berkeliaran di sana.

Icon lain SFO yang unik adalah Castro Street, terletak di Eureka Valley, lokasi favorit para LGBT – Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender.

Di sepanjang Castro street berkibar mencolok Rainblow flag, bendera penanda LGBT exist dengan makna yang semula hanya dipahami komunitas LGBT SFO semata.

Namun setelah ditelusuri melalui Buku Kenangan Politisi Jose Castro, Gubernur SFP periode awal yang memberi keleluasan keberadaan atau existensi LGBT, hot pink berarti sexualityred bermakna lifeorange merujuk pada healingyellow berarti sunlightgreen bermakna natureturquoise berarti magic/artindigo berarti serenit/harmony dan violet artinya spirit.

Usai melihat kota San Fransisco dari Los Pechos De La Choca (Twin Peak), merasakan sensasi  lautan Pacific dengan berlayar bersama Alcatraz Cruise mengitari Isla De Los Alcatraz(Pulau Burung Pelikan), serta mengelilingi pusat pemerintahan (Civic Center), tepat pkl 21.00 Mrs.Grace menghantar rombongan menuju San Fransisco Airport, bandara  tersibuk ke-14 di Amerika dan terbesar ke-23 dunia.

Tidak terasa sembilan hari sudah berlalu dan masih menggumpal rindu dan menjuntai kenangan menyusuri  Yosemite National Park, Hoover dam, Bryce Canyon, horseshoe bend dan masih banyak lagi.

Pesawat Cathay Pacific CX 851 sudah menanti dan siap membawa kami pulang ke tanah air dalam alunan sayup-sayub lagu If you’re going to San Francisco !  Cheerio , ciao San Francisco !***

*Penulis adalah Vice President PT Lippo Bank (2005), General Manager PT Lippo Karawaci, Tbk (2017), Dosen Tamu di Fiabikom Unika Atma Jaya, Jakarta dan Stikes Strata Dua Sint Carolus, Jakarta (2014-2018)

alterntif text