Ilustrasi (Foto: Pixabay.com)

Cerpen Afryantho Keyn

Hujan masih belum reda ketika aku dibangunkan. Ibu telah siap berangkat kerja, lengkap dengan mantel dan payung warna-warni. Ia menyampaikan beberapa kata yang dikalahkan ribut hujan, tak sempat kudengar jelas sebelum menutup pintu. Aku mengerti, ibu meninggalkan sepiring nasi goreng di meja makan dapur umum. Seperti biasa. Namun aku belum lapar. Aku masih ingin berbaring lebih lama lagi di kamar sempit ini. Dari luar, udara dingin menerobos masuk ke dalam selimut, lebih dalam ke pori-pori.

Aku terbangun tengah malam tadi. Hujan tiba lebih cepat sebelum Bapak memikirkan untuk membetulkan atap bocor. Air cepat menerobos ke lantai di tepi tempat tidurku saat hujan belum berlangsung lama. Recikannya memantul dari lantai dan menampar-nampar wajahku. Aku terkejut, berpikir sedang tenggelam dalam laut luas yang memisahkan kami dengan kampung halaman. Teriakanku membangunkan seisi rumah, tetapi hanya Ibu yang menenangkan semuanya.

Ember yang Ibu letakkan semalam hampir penuh. Ember itu seperti menampung air mata yang segar,berisisemacam kesedihan yang bahagia. Dari sekian banyak butir air yang jatuh dari langit semalam, hanya beberapa yang mengalir melewati robekan kecil di atap, kemudian jatuh satu-satu ke dalam ember. Jika air dalam ember ini adalah kesedihan, tentulah ia kesedihan yang bahagia, sebab ia terpilih. Tak semua butir air berhasil masuk ke dalam emberini. Aku sendiri heran mengapa sampai berpikir seperti ini. Mungkin karena aku selalu diam-diam menatap dalam-dalam wajah Bapak dan Ibu.

Dan aku selalu melihat hal serupa pada wajah Bapak dan Ibu. Mereka seperti bersedih, tetapi tak sepenuhnya. Ada celah kecil tempat mereka menyembunyikan bahagia.

***

Aku pertama kali melihat wajah Bapak seperti itu ketika ia berusaha menyempurnakan kamar sempit ini. Aku katakan kamar, karena kali ini, rumah bagi kami hanyalah sebuah kamar. Ukurannya tak seberapa, lebih layak dihuni satu orang, bukan satu kepala keluarga dengan tiga anggota. Namun hanya kamar sekecil itu yang mampu diberikan majikan kepada buruh-buruh di kilang kayunya. Sebuah kilang besar yang dijejali kayu kelas satu dari hutan-hutan Kalimantan.

Hunian kami tak sekecil itu sebelum kilang terbakar. Rumah kami sebelumnya bukanlah sebuah kamar menyedihkan ini, tetapi rumah sesungguhnya. Beranda, ruang tamu, ruang makan, dapur, dan tiga kamar tidur, yang menyatu menjadi sebuah rumah panggung. Itu rumah paling luas yang pernah kami miliki di Malaysia.

Ibu menempel banyak gambar Yesus di dinding rumah itu. Saking banyaknya, aku mengingat betul wajah orang itu. Dan aku kembali melihat wajah laki-laki tampan itu di layar televisi pada suatu malam, tak jelas ia tengah bersedih atau bahagia. Ia membeku dalam bingkai foto dengan nyala lilin benderang di hadapannya. Beberapa perempuan berpakaian serba hitam melingkari sebuah peti jenasah. Ibu bilang orang timur mati lagi disiksa majikan. Jenazahnya akan dikirim pulang ke kampung halaman.

Semua orang akan menempati hunian yang sama sempit, batinku.

Dua hari setelah menyaksikan berita kematian orang timur itu, kilang kayu terbakar. Musibah itu datang menjelang malam. Langit gelap menjadi terang. Aku dan adik dirangkul Ibu dengan tergesa menjauh dari rumah menuju ke tepi jalan raya. Penghuni kilang kalang kabut, antara ingin menyelamatkan diri atau harta benda yang telah dengan susah payah mereka kumpulkan. Hanya beberapa yang sempat menyelamatkan barang mereka. Bapak hanya sempat menyelamatkan televisi, meski sisi belakangnya sudah sedikit meleleh karena panas api. Kaki Ibu bergetar hebat. Ia tak mampu berdiri dan memilih duduk di trotoar. Mata Bapak merah mengikuti warna api. Api berkobar lebih tinggi dari atap kilang dengan sekejap. Jalananpun berwarna merah. Kendaraan-kendaraan pun berwarna merah.

Kami sementara waktu mengungsi ke rumah susun tak jauh dari kilang. Api hanya melahap seperempat bagian kilang. Namun sialnya, bagian kecil itu termasuk rumah-rumah para buruh kilang, termasuk rumah kami. Aku melihat rangka sepedaku telah menghitam dan akan lebih cepat menjadi karat. Rangka sepeda itu menjadi tanda letak rumah kami. Di situ beranda, tempat aku biasa berlama-lama bermain orang-orangan. Kini tersisa hanyalah sebidang tanah liat yang permukaannya miring. Tak jauh dari situ, majikan Bapak tengah meratapi mesin pemotong kayunya yang ikut hangus. Ia seperti lebih mencintai benda mati itu daripada nasib kami.

Pembangunan hunian baru berlangsung sangat cepat, hanya sebulan. Kami tak merasa heran ketika hunian baru kami hanyalah sebuah kamar sempit. Ketika mengalami rugi,si majikan bakal menjadi semakin pelit. Para pekerja telah menghafal tabiatnya itu.Ia hanya memberikan satu keluarga satu kamar. Kosong. Tanpa perabotan. Dapur, kamar mandi dan toilet, dibuat di tempat berbeda untuk digunakan semua orang.

Barang pertama yang menghiasi kamar kami adalah televisi itu. Melihat televisi itu aku kembali teringat wajah Yesus. Ia berada di antara sedih dan bahagia ketika terakhir kali kulihat di dalam televisi. Dan suatu sore, sepulang kerja, aku melihat hal serupa tergambar di wajah Bapak. Ia membawa beberapa balok dan sepotong tripleks dengan wajah sedih yang bahagia. Ia membuat sekat-sekat yang membagi kamar sempit kami menjadi tiga bagian. Ada ruang tamu yang sempit, kamar tidur keluarga yang sedikit luas, dan kamar tidurku yang lebih sempit dari ruang tamu. Di akhir bulan, gaji Bapak habis dipotongkarena ia dilaporkan mencuri beberapa balok dan tripleks dari kilang. Wajah Bapak hanya sedikit bersedih, selebihnya bahagia.

***

Sore hari, sepulang kerja, Ibu mengajak aku dan adik ke kota. Aku menganggap itu ajakan yang setimpal setelah seharian kebingungan ingin berbuat apa selain memelototi televisi. Hujan sialan itu baru saja reda sebelum Ibu tiba.

Ibu singgah sebentar di kantor pengiriman barang antar-negara. Mengecek kiriman dari nenek. Namun yang membuat kami jalan-jalan kali ini adalahtiga kupon makan KFC gratis yang diberikan majikan Ibu. Ibu bekerja di rumah-rumah orang putih, kebanyakan dari Inggris. Menyapu, mengepel, atau mencuci pakaian. Sesekali menyiapkan makan siang.Bapak tak turut serta, bukan karena ia tak kebagian kupon gratis, tetapi ia memang tak suka KFC. Ia lebih suka kedai kecil di selatan kilang yang menyediahkan kopi pahit dan tayangan tinju yang diputar berulang-ulang.

Kami memilih lantai dua dan meja di dekat dinding. Dindingseluruhnya kaca dan kami bisa melihat orang berlalu lalang di bawah, di lantai-lantai pavin. Adik yang paling ahli dalam hal tukan-menukar kupon dengan KFC membawa aroma ayam goreng mendekatke meja makan. Aku melahap tanpa ampun dan lupa sembahyang sebelum makan.Ibu mengeluarkan sebuah paket dari dalam tas yang ia terima dari kantor pengiriman dan membuka ikatan selotip yang mengikat bungkusan itu. Nenek mengirim beberapa lembar foto, ia berpose di depan rumah. Aku melihat satu-satu.

Ibu bilang itu rumah nenek. Nenek memiliki rumah yang besar. Dinding adalah susunan batu merah yang rapi. Atap seng yang terlihat dewasa setelah termakan karat. Jendela dibiarkan terbuka dan kain jendela berwarna merah bergerak ke arah barat. Angin tentu tengah kencang ketika foto ini diambil, dugaku. Halaman rumah juga luas, dihuni bunga-bunga yang sering dipangkas pada waktunya. Melihat rumah nenek, aku tiba-tiba memikirkan sesuatu. Kampung halaman kamitentu luas. Halaman rumah nenek saja luas, bisa dibangun satu atau dua rumah di sampingnya. Mengapa harus bersusah-susah tinggal di negeri orang, bahkan dalam rumah yang hanyalahsebuah kamar sempit? Apalagi Ibu kerap bercerita, dulu sekali, ia dan Bapak tinggal di rumah nenek selepas menikah. Kami tentu bisa pulang dan tinggal bersama nenek.Ingin sekali aku bertanyabanyak pada Ibu.

Aku dan adik dilahirkan di kota ini. Di negeri orang. Jauh dari kampung halaman. Bapak dan Ibu selalu bercerita tentang kampung, tetapi tak pernah mengajak kami pulang. Dan foto-foto dari nenek membuat aku bertambah rindu pada kampung halaman. KFC jadi tak nikmat dilindas banyak pertanyaan dalam kepalaku.

Selesai makan, kami tak langsung pulang. Melintasi lantai pavin membawa kekeyangan sebelum kembali lupa pada aroma ayam goreng dan berharap kupon gratis berikutnya akan lebih cepat datang. Bukankah hidup menunggu seperti itu sangat membosakan? Namun Ibu tak pernah bosan pada satu hal semacam itu. Ia tetap menyisikan uang untuk membeli nomor undian toto dan setia menunggu kapan akan menang.

Kami singgah di gerai penjualan nomor sebelum menahan bus. Ibu memberikanku sepotong kertas yang disiapkan banyak di keranjang, memaksaku menulis empat digit nomor. Aku benci menerka-nerka pikiran orang lain. Di papan elektronik terpampang nomor undian yang menang hari ini. Aku memandang sejenak keluar dan mendapati beberapa nomor kendaraan. Aku menulis dengan tergesa dan mengembalikan pada Ibu. Usai membayar pada kasir, wajah Ibu terlihat berbeda, seperti akan memenangkan undian besok pagi. Selalu seperti itu. Aku sadar, aku mendapat waktu yang tepat untuk bertanya.

Ibu baru menjawab ketika bus mulai bergerak. Di luar, langit kembali mendung. Ibu tak melihat kami. Ia lama menatap kosong keluar jendela dan menarik satu nafas yang dalam sebelum berani melihat ke arah kami. Mata Ibu berubah berkaca-kaca. Aku melihat kali ini wajah Ibu sangat bersedih, tetapi tak sepenuhnya. Ada celah tempat ia letakkan bahagia.

“Kita belum bisa pulang. Setiap keluarga harus punya rumah. Kita belum punya rumah di kampung. Kalau nomor tadi menang, mungkin besok kita bisa langsung pulang.”

Ibu susah payah tersenyum. Aku memandang ke depan, menembus kaca depan bus. Jalan memanjang lurus. Namun kau harus menyadari beberapa kelokan yang memang diciptakan untuk tak dilihat, selain dirasakan. Aku merasa sedih telah nekat bertanya, tetapi aku tetap bahagia mendengar balasan Ibu. Aku tiba-tiba tak bisa memikirkan sebuah rumah tanpa sosok Ibu.

Namun aku takut. Semakin lama, rumah kami semakin menjadi sempit. Berulang kali aku menolak, tetapi tetap saja ingatan buruk ini selalu menyembul. Aku selalu mengingat peti jenazah tenaga kerja dari timur dalam televisi itu. Dikelilingi air mata, dingin, dan sempit.

Nusadani, 2018

Afryantho Keyn, merayakan setiap tanggal 28 Oktober sebagaihari ulang tahun. Kerap menutup pintu kamar dengan dua kata kunci: scorpio dan introvert. Tinggal di afryanthokeyn.wordpress.com.

Konflik yang Tak Selesai
Oleh Hengky Ola Sura
Redaksi Seni Budaya VOXNTT.COM

Rumah yang kian sempit karya Afryanto Kein adalah model cerpen yang hadir dengan keteraturan bercerita. Yanto sudah sejak dari kalimat pertama menunjukan kelasnya bahwa tiap kata juga kalimat tertata apik.

Sebagai penikmat cerpen saya mengakui bahwa Yanto memang sudah paham benar bagaimana jalan cerita yang semestinya ia bangun.
Entah berlebihan tapi saya mengharapkan lebih dari cerpen ini, yakni pada bagian konflik. Kisah tentang rumah sempit terlalu datar. Jarang tampak dialog bisa jadi kesan umum ketika mencoba sudut pandang orang pertama juga campuran membuat hampir kebanyakan penulis cerpen terlalu asyik berkisah. Bagian-bagian yang seharusnya dramatis semisal pada tokoh ayah yang dipotong gaji, ibu yang menukarkan kupon sayang hanya sambil lalu. Konflik dari cerpen ini belum terlalu memukau pembaca.

alterntif text