Hundreds of Stela Maris Parish Parishioners, Atapupu when stepped out of the boat after the march at sea. They march to Atapupu parish church (Photo: Marcel / Vox NTT)

Atambua Vox NTT-Sejak enam tahun lalu (2002), Paroki Stella Maris Atapupu, kabupaten Belu rutin melaksanakan prosesi rohani bersama Naifeto Lale’an. 

Naifeto Lale’an berasal dari tiga kata yakni Nai, Feto dan Lale’an. Nai berarti yang mulia, Feto artinya bunda dan Lale’an berarti surga.

Naifeto Lali’an dapat diartikan Bunda Surgawi.

Prosesi ini berupa perarakan patung Bunda Maria Stella Maris mengelilingi wilayah paroki tertua di pulau Timor tersebut.

Selain untuk memperkokoh iman dan persaudaraan kristiani, Prosesi Naifeto Lale’an dilangsungkan untuk mengenang sejarah Kekatolikan di wilayah Atapupu.

Kala itu para misionaris Jesuit datang ke tanah Atapupu dari arah laut membawa salib, Kitab Suci, Arca Bunda Perawan Maria serta sarana-sarana rohani lainnya.

Tahun ini, prosesi Naifeto Lale’an berlangsung sejak 25 Juli hingga 31 Juli 2018 dimana terdapat dua rute perarakan yakni darat dan laut.

Pada masa prosesi ini,  Naifeto Lale’an atau Bunda Maria Stella Maris diarak mengunjungi umat di setiap kapela di masing-masing stasi paroki itu.

Setelah selesai mengunjungi semua kapela dan stasi, perarakan lewat laut dilangsungkan dari Teluk Gurita menuju Atapupu.

Menjelang senja, perahu pengantar salib dan parung Maria mendarat di Atapupu (Foto: Marsel Manek)

Prosesi yang berlangsung khusuk dan meriah ini dimulai sekitar pukul 13.00 Wita.

Perahu yang mengangkut patung Maria Stella Maris berada paling depan. Diiringi belasan perahu, umat katolik yang mengikuti prosesi itu terus berdoa hingga menepi di tempat pendaratan ikan, dekat dengan pusat Paroki Atapupu.

Patung kemudian ditahtakan kembali di dalam Gereja Stella Maris Atapupu.

Disaksikan VoxNtt.com, ribuan umat Katolik dari Paroki Stela Maris dan daerah sekitar datang mengikuti prosesi laut yang berlangsung Selasa (31/07/2018) siang.

Umat setia mengikuti tahapan prosesi ini hingga puncaknya yang berlangsung hari ini, Rabu (31/08/2018).

Pada perayaan puncak, prosesi ini berkahir dengan misa syukur ulang tahun Paroki Stella Maris Atapupu yang ke-135 di Gereja Atapupu.

Dirintis Jesuit 

Situs resmi keuspukan agung Atambua merilis, sejarah paroki Atapupu berawal dari misi seorang pastor Jesuit bernama Jacobus Kraaijvanger, SJ.

Pater Jacob adalah pastor yang pertama kali bertugas menyelidiki kelayakan pendirian sebuah stasi di Atapupu.

Setelah mematangkan persiapan, beliau menulis surat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia yang isinya memohon untuk mendirikan Stasi Atapupu.

Atas permohonan itu, Gubernur Hindia Belanda menerbitkan surat izin pendirian Stasi Atapupu pada 1 Agustus 1883.

Stasi Atapupu merupakan stasi pertama di Pulau Timor dan menjadi bagian dari Vikariat Apostolik Batavia. Sampai dengan penyerahan misi dari SJ ke SVD tahun 1913, tercatat sebanyak 2.500 umat di sana.

Perahu pembawa salib Yesus (Foto: Humas Pemda Belu)

Selama kepemimpinan Jesuit, tercatat 7 pastor yang bertugas di sana.

Pater Kraaijvanger yang merupakan pastor pertama dibantu oleh dua orang pastor bernama Lammker, SJ (1885) dan Kuijper, SJ (1886-1888).

Setelah Pater Kraaijvanger meninggal, ia diganti oleh Pater Hendrick Janssen, SJ (1889-1896).

Lalu berturut-turut datang dan bertugas di Atapupu, Pater Van Swietten, SJ (1896-1898), Pater Van de Velden, SJ (1898-1899), dan Pater Adrianus Matthijsen, SJ (1899-1913).

Dari data statistik tahun 2014 diketahui bahwa Paroki Atapupu mempunyai jumlah umat Katolik sebanyak 14.638 jiwa yang tersebar dalam 2.957 KK.

Paroki tertua di Pulau Timor ini memiliki 3 stasi yakni Stasi Lakafehan; Stasi Seroja dan Stasi Silawan. Jumlah umat yang besar ini tersebar di 36 lingkungan dan 119 KUB.

Penulis: Marcel Manek

Editor: Irvan K

alterntif text