Kondisi jalan yang dikerjakan PT Agogo Golden di wilayah Desa Tendakinde (Foto: Arkadius Togo/Vox NTT)

Mbay, Vox NTT-Warga Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo mengeluhkan aktivitas pembangunan jalan hotmix di wilayah mereka.

Proyek  yang dikerjakan oleh PT Agogo Golden itu dinilai tidak memperhatikan dampak lingkungan.

Tokoh masyarakat asal Desa Tendakinde, Ferdinandus Gani kepada awak media, Senin (06/08/2018),  mengatakan para pekerja dari PT Agogo Golden tidak bisa mengontrol debu yang ditimbulkan dari pekerjaan hotmix.

Ferdi yang juga mantan Kepala Desa Tendakinde ini mengaku sudah berulang kali komplain warga disampaikan kepada pihak kontraktor, namun tidak direspon.

Tak hanya soal debu, dia juga menduga ada beberapa persoalan dalam proyek pekerjaan jalan hotmix tersebut.

Kata Ferdi,  kontraktor pernah menyampaikan akan mengerjakan jalan hotmix disertai drainase. Namun dalam kenyataannya,  tidak semua titik membuat drainase.

Kemudian, aspal dibangun di luar dari pemukiman warga. Namun material ditumpukkan di rumah warga, sehingga lingkungan beberapa rumah warga pun terganggu.

Saat warga komplain, kata dia, pihak kontraktor merespon bahwa pekerjannya sudah sesuai spek tidak bisa diubah lagi.

Ferdi menambahkan, warga mengusulkan agar material hotmix dipindahkan ke lokasi yang dekat dengan pekerjaan.

Namun, pihak kontraktor menjawab bahwa mobil muatan material tidak bisa melewati jembatan yang terancam ambruk. Padahal,  mobil ekspedisi dan mobil dump truk lainnya masih bisa melewati jembatan tersebut.

Anehnya lagi, lanjut Ferdin, ketika hotmix telah dibangun,  pihak kontraktor tidak menyirami jalan dengan air. Badan jalan malah dibiarkan terus mengeluarkan debu.

“Setiap kali warga komplain serta memberikan saran selalu pihak kontraktor menjawab sudah sesuai spek. Ini pembangunan untuk masyarakat atau untuk kontraktor. Meskipun menggunakan dana APBD Provinsi NTT dari dana DAK, tetapi kami masyarakat butuh kualitas bukan kuantitas, jadi banyak yang diabaikan oleh kontraktor, kami sangat yakin ketika musim hujan turun proyek ini dengan sendirinya hancur dan kami tidak bisa melalui lagi jalan ini,” ujar Ferdi.

Senada dengan Ferdi,  Tokoh masyarkat Desa Tendakinde yang lain Rafael Api, mengaku sangat menayangkan kontraktor yang melakukan pekerjaan di wilayah Kecamatan Wolowae.

Kata Rafael, pekerjaan hotmix tersebut terputus-putus. Dia menyebut, pekerjaan di wilayah Kuru hingga Beli tidak dilanjutkan lagi.

Kemudian, pekerjaan di wilayah Sagongaba juga terputus, lalu sambung lagi di wilayah Raterunu. Di sini pun tak tuntas dan selanjutnya kerja lagi di Kaburea Desa Tendakinde.

“Dari pekerjaan yang dilakukan oleh pihak PT Agogo Golden ini sudah merugikan anggaran Negara yang dipercayakan kepada pihak PT AGogo Golden untuk mengelolanya. Anehnya kerja di pertengahan tahun 2017 hingga berakhir di tahun 2018, tidak ada yang dilakukan hotmix menggunakan aspal,”tegasnya.

Rafael berharap, tim teknis dari Dinas PUPR Provinsi NTT segera mengecek kembali pekerjaan yang dilakukan PT AGogo Golden tersebut.

 

alterntif text