Dirjen VI Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah, Dr. Ir. Budi Situmorang (kedua dari kiri), Bupati Flores Timur, Anton G. Hadjon (Kanan) saat memantau lokasi tambak garam di Solor. (Foto: Sutomo.Hurint)

Larantuka, Vox NTT- Pabrik garam terbesar di Indonesia akan hadir di Solor, Kabupaten Flores Timur, Provinsi NTT.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Flores Timur (Flotim) telah menjalin kerja sama dengan Perseroan Terbatas (PT) Aserra Garam Indonesia untuk membuka industri garam dengan luas lahan sebesar 1.500 hektar di pulau Solor.

Direktur Utama PT Aserra Garam Indonesia, Mahar Simbiring mengatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari perusahaannya, kandungan kadar garam di pulau Solor sangat tinggi dan dapat mengalahkan produktivitas garam Madura di propinsi Jawa Timur.

“Kadar garam yang terkandung di sini sangat tinggi dibandingkan dengan kandungan garam di Madura. Di sini kadar garam dalam 1 liter air laut sebesar 300 gram, sedangkan di Madura kandar garam hanya mencapai berkisaran 250 hingga 270 gram per liter air laut,” ungkap Mahar.

Mahar melanjutkan, kondisi iklim di Solor juga sangat mendukung karena musim kemarau lebih panjang dari pada musim hujan, yakni mencapai 8 bulan musim kemarau.

“Laut di sini juga masih bersih. Hal ini tentunya dapat menghasilkan kualitas garam yang baik”, kata Mahar saat memantau lokasi yang direncanakan untuk membuka industri garam itu.

Saat memantau lokasi, Mahar bersama Direktur Jenderal VI Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah Kementrian Agraria dan Tata Ruang, Dr. Ir. Budi Situmorang dan Bupati Flores Timur, Anton G. Hadjon di Nusadani Solor, Jumat, (03/08/2018).

Terkait target rencana pelaksanaan produksi, ditargetkan pelaksanaan produksi mulai dilaksanakan pada tahun 2020.

“Masa pembangunan sebuah usaha melalui beberapa tahap. Tahap perencanaan desain bisa mencapai beberapa bulan. Proses pembangunan fisik dapat memakan waktu satu hingga satu setengah tahun. Jadi dalam target, proses produksi dapat dimulai pada tahun 2020”, jelas Mahar.

Bebas dari Masalah

Direktur Jenderal VI Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Penguasaan Tanah Kementrian Agraria dan Tata Ruang, Dr. Ir. Budi Situmorang mengatakan secara teknis lahan yang hendak dibuka tambak garam ini tidak mengalami permasalahan.

“Secara teknis tidak bermasalah. Kita sudah cek, tidak ada masalah. Sepanjang lahan tidak masuk dalam kawasan hutan dan sesuai peruntukannya dalam skala industri garam dan pertanian dalam arti luas, maka tidak ada masalah. Tidak ada persoalan, tinggal prosedur dan syarat-syaratnya saja yang dilengkapi” ungkap Situmorang.

Bupati Flores Timur, Anton G. Hadjon mengatakan pihak Pemda Flotim secara rutin telah melakukan pendekatan bersama masyarakat di pulau Solor.

Dikatakannya masyarakat sangat mendukung langkah pemerintah menjadikan pulau Solor sebagai penghasil garam terbesar di Indonesia.

“Sejak setahun yang lalu kita sudah lakukan pendekatan dengan masyarakat di sini. Sejauh ini tidak ada masalah. Masyarakat di sini sangat mensuport langkah pemerintah ini. Dengan dibukanya usaha tambak garam ini dapat mendorong percepatan pembangunan di Pulau Solor”, ungkap Anton.

Penulis: Sutomo Hurint

Editor: Irvan K

alterntif text