Kondisi bak penampung air yang tidak pernah diisi air bersih sejak dibangun (Foto:Marcel/Vox NTT)

Atambua, Vox NTT-Penyediaan kebutuhan air bersih bagi masyarakat kabupaten Belu merupakan salah satu agenda prioritas Bupati  Belu, Wilybrodus Lay.

Hal tersebut dijanjikan saat masa suksesi pada 2016 lalu. Namun demikian, sudah berjalan tiga tahun, usaha pemenuhan air bersih masih terus menjadi persoalan pelik.

Didapati VoxNtt.com, Kamis (09/08/2018), warga masyarakat desa Rinbesi Hat, kecamatan Tasifeto Barat, Belu masih kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Di halaman rumah warga, terdapat bangunan bak penampung air dan jaringan perpipaan yang menghubungkan bak-bak air tersebut, namun ternyata sejak dibangun hingga hari ini, bak-bak tersebut tidak diisi air.

Donatus Bria, warga dusun Bekomean mengakui, bak yang dibangun tidak pernah diisi air. Untuk mendapatkan air bersih, warga terpaksa menggali sumur kecil di bantaran sungai agar bisa menimbah air untuk kebutuhan sehari-hari.

Lanjut Donatus, warga masyarakat yang memiliki pompa air, biasanya sekali seminggu menyedot air dari kali untuk mengisi bak air yang ada.

Sementara, bagi warga yang mampu secara ekonomi lebih memilih untuk membeli air bersih pada tangki mobil penjual air bersih.

“Kami biasa beli air di tengki. Setengah tengki harganya 75.000 -90.000. Kalau pemakaian ful, satu minggu satu kali beli,” demikian kata Selvi Mauk, warga dusun Dinleo.

Warga berharap, bak air dan pipa yang sudah dibangun dapat dialiri air sehingga kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi.

Terpisah, Kepala Desa Rinbesi Hat Gregorius Ulu mengatakan bahwa dirinya kurang mengetahui soal keberadaan bak penampung air tersebut lantaran bak penampung air tersebut dibangun saat dirinya belum menjabat sebagai kepala desa.

“Bak itu dibangun, kalau tidak salah menggunakan APBN dan APBD 2. Hanya saya kurang tau persis karena waktu itu orang kabupaten yang datang kerja” jelas Gregorius.

Penulis:Marcel Manek

Editor: Irvan K

alterntif text