Kedua pemain caci sedang mengadu ketangkasan di halaman rumah adat Karot Curu (Foto: Ardy Abba/Vox NTT)

Ruteng, Vox NTT- Sejumlah pria tidak mengenakan baju menari-nari di halaman kampung adat Karot Curu, Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Jumat (10/08/2018).

Bagian bawah tubuh sekelompok pria itu hanya memakai celana panjang putih. Bagian luar celana diikat kain songke dan selendang kuning pada pinggul.

Kemudian di bagian samping pinggul dipasang sapu tangan dengan warna-warni. Sedangkan bagian punggung memasang ndeki.

Ndeki adalah benda yang berbentuk kuncir kuda. Dia terbuat dari rotan dan dililiti dengan bulu ekor kuda.

Yohanes Laju Syukur, salah seorang pemain caci di halaman gendang Curu (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)

Selain ndeki, adapula nggorong (gemerincing) yang diikat pada bagian belakang pinggang.

Lalu di bagian tubuh pria-pria itu sama sekali tidak mengenakan baju.

Sedangkan di bagian kepala, mereka mengenakan kostum yang masyarakat adat Manggarai menyebutnya panggal.

Ini berupa topeng penutup kepala bagai tanduk kerbau yang terbuat dari kulit kerbau. Panggal dihiasi renda warna-warni dan bagian ujungnya dipasang bulu kuda.

Masih di kepala, di dalam panggal juga terdapat kain destar.

Tak hanya itu aksesoris yang dipakai. Dipasang pula tubi  rapa sebagai manik-manik yang diikat pada bagian bawah dagu.

Perlengkapan lain yang digunakan adalah larik (cambuk yang terbuat dari kulit kerbau) dan nggiling (perisai yang terbuat dari kulit kerbau), serta agang  (terbuat dari bambu Cina yang berbentuk lengkung)

Terik matahari rupanya tak menyurutkan semangat sekolompok pria itu menari mengikuti iringan alat musik tradisional Manggarai, yakni gong dan gendang.

Sekelompok pria itu sedang memainkan tarian caci. Mereka berasal dari dua tempat, yakni dari Karot Curu dan Bengkang Cibal.

Caci adalah tari perang antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai.

Tarian caci di Gendang Karot Curu tersebut dilakukan dalam rangka penti weki peso beo.

Penti adalah sebuah ritus adat warisan leluhur Manggarai sebagai media ugkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diperoleh selama setahun.

Penti ini adalah ritus adat menyampaikan syukur kita kepada Tuhan dan Leluhur setelah panen,” ujar Yohanes Rikardus Madu, Ketua Panitia Penti kepada sejumlah awak media di rumah adat Karot Curu, Jumat siang.

Yohanes Rikardus Madu, Ketua Panitia Penti (Foto: Ardy Abba/Vox NTT)

Menurut Rikar, penti merupakan salah satu bagian adat yang menjadi kekuatan kebersamaan dan persatuan bagi masyarakat Manggarai. Kekuatan adat pula, kata dia, salah satu wujud dukungan untuk pembangunan daerah.

Penti ini juga bisa menumbuhkan rasa persaudaraan di tengah masyarakat. Karena kegiatan penti ini dilakukan secara kolektif dengan nuansa persaudaraan,” kata anggota DPRD Manggarai itu.

Terpisah, Bupati Manggarai Deno Kamelus yang juga hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan, penti adalah salah satu ritus adat yang sangat penting bagi orang Manggarai.

Penti, kata Deno, adalah bentuk ungkapan syukur bagi orang Manggarai kepada Tuhan dan leluhur.

 

Penulis: Ardy Abba

alterntif text