Lamalera fishermen while catching whales (Photo: Oscar Siagian / Getty Images)

Larantuka, Vox NTT-Menyebut Lembata tanpa Lamalera serasa belum lengkap.

Kampung nelayan di selatan pulau Lembata itu berada pada derajat 123,5 bujur timur dan 8,5 lintang selatan ini adalah pintu masuk pertama dimulainya perkembangan kekristenan.

Tanpa data yang jelas sampai hari ini pernah dua imam dari Ordo Dominikan secara kebetulan terdampar di pantai Lamalera. Tentang apa yang mereka lakukan pun tak jelas ceritanya.

Pada 8-9 Juni 1886 barulah sejarah mencatat bahwa ada 125 umat di Lamalera dipermandikan oleh dua imam Jesuit.

Sakramen permandian yang diterima umat di Lamalera pada saat itu menjadi sejarah berdirinya komunitas Kristiani di Pulau Lembata.

1917, ketika para misionaris Jesuit memutuskan untuk menyerahkan misi Kepulauan Sunda Kecil kepada Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD).

Seorang imam yang sebelumnya bertugas di Togo-Afrika lalu beralih misi pewartaan ke Lamalera.

Nama imam ini adalah Pater Bernhard Bode, SVD. Lahir di Bilhausen-Jerman pada 20Agustus 1885.

Bode kecil yang bercita-cita jadi imam lalu terus merajut jalan panggilannya hingga ditahbiskan menjadi imam dalam kongregasi SVD pada 29 September 1910.

Masa bakti di Togo selama lima tahun berakhir karena situasi Perang Dunia I pada 1914. Bode yang semangat misinya lagi berapi-api lalu ditunjuk untuk menjadi misionaris di Flores.

20 Juni 1920 Pater Bernhard Bode tiba di Ende.

Dari Ende, Bode berlayar ke Lela dan selanjutnya dijemput dengan kuda untuk meneruskan perjalanan ke Larantuka.

Bode tiba dan diterima secara resmi oleh Pater Rektor Jhon Bouma SVD pada 1 Agustus 1920.

Di Lamalera sendiri sudah tersiar kabar bahwa akan ada seorang imam tinggal dan menetap di Lamalera.

Sukacita umat pun tak terbendung untuk segera bertemu dengan imamnya setelah ditinggalkan misi Jesuit.

Hari itu 25 September 1920 Bode tiba di Lamalera. Tuan tite, tuan tite, (pastor kita, pastor kita) demikian teriak umat ketika menyambut Pater Bode.

Sekalipun belum mengerti bahasa yang diucapkan oleh umat tapi Bode paham raut kegembiraan dari wajah menandakan bahwa ia diterima.

Pekerjaan pertama pun dimulai. Tuan Bode lalu menginisiasi dibangunnya gereja dan sebuah rumah pastoran.

Tidak hanya di Lamalera tapi merambah hampir ke semua tempat pelayanan misionernya di.Lembata. Ia menaruh hormat pada semua orang. Terlebih juga kepada ata molang (sebutan untuk tetua kampung yang diyakini menjadi dukun, pendoa juga penjaga kampung).

Perkenalannya dengan para ata molang menjadikannya paham bahwa sesungguhnya ata molang adalah juga bagian dari spirit menyatukan ajaran tentang Tuhan Sang Penyelenggara Kehidupan untuk hidup selaras alam.

Kedekatannya ini pulalah yang membuat Bode paham bawa orang Lamalera sudah sejak lampau memiliki tradisi penentuan waktu untuk menangkap ikan paus.

Bode lalu menyimpulkan bahwa Lamalera dan ikan paus tak dapat dipisahkan. Keduanya  adalah tali-temali yang menggambarkan secara nyata relasi antar sesama dan juga wujud tertinggi.

Menurut Pater Bode menangkap ikan paus bagi orang Lamalera sangat tinggi nilai sosialnya serta besar artinya untuk kehidupan masyarakat nelayan di pantai Selatan Pulau Lembata ini.

Menangkap ikan paus bagi orang Lamalera adalah juga tanda berbelarasa untuk menunjukan tanggung jawab khusus dari sesama orang Lamalera untuk membangun penghidupan bersama.

Kepada semua orang Lamalera spirit untuk menagkap ikan paus sebelum ke samudera luas adalah harus dengan hati bersih. Ciri khas Kristiani pun dimasukan dalam tradisi penangkapan ikan paus.

Adanya misa lefa/lautan setiap awal bulan Mei adalah bukti bahwa Bode merajut dengan kuat hidup keberimanan orang-orang Lamalera.

Diri dan seluruh karya pewartaannya hingga ke seluruh pelosok Lembata adalah tanda bahwa ia dengan caranya, sentuhannya, sapaannya dan kerja-kerja misionernya menyentuh model-model teologi kontekstual.

Ia paham bahwa apa pun yang ia ajarkan haruslah menyentuh. Jika kemudian Stephen B. Bevans, menulis bahwa teologi musti kontekstual karena perbedaan-perbedaan budaya sedemkian  erat melekat dengan kodrat manusia maka Pater Bernhard Bode SVD sudah menjalankankan karya misionernya dengan sempurna. Dengan gilang-gemilang.

Ia menjadi pastor seluruh umat di Lembata. Tentang kisah kedekatannya dengan semua orang dan tugas pewartaannya di Lembata Bode menulis begini;

“saya menjadi sahabat penduduk nelayan Lamalera supaya bisa mempertahankan hidup. Jadi saya mendekati mereka untuk berbicara dengan mereka dan mengasihi mereka, dan sebaliknya suapaya mereka dapat membuka hati dan mengasihi saya.

Jika kini Lamalera dan tradisi penangkapan ikan pausnya ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata menjadi Warisan Budaya Tak Benda maka itu juga pasti adalah doa Bernhard Bode dari surga rumah keabadiannya. Ia telah mencintai Lamalera dan Lembata sampai sehabis-habisnya.

Penulis: Engky Ola Sura 

 Sumber bacaan:

  1. Pater Bernhard Bode SVD-Rasul Pulau Lembata karya PaterAlex Beding SVD, Penerbit Lamalera, 2008
  2. Model-Model Teologi Kontekstual karya Stephen B. Bevans
alterntif text