Seminar kebangsaan di Aula Lantai 3 Unika Kupang, Jumat (10/8/2018) (Foto: Tarsius Salmon/Vox NTT)

Kupang, Vox NTT- Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang menggelar road show kebangsaan.

Road show kebangsaan ini yakni dengan menggelar seminar  dengan tema “Meneguhkan Kembali Semangat Kita Indonesia”. Seminar berlangsung di Aula Lantai 3 Unika Kupang, Jumat (10/8/2018).

Seminar ini merupakan rangkaian road show kebangsaan di 15 kota di Indonesia dan Kupang sebagai kota tujuan pertama.

Kegiatan tersebut dilatarbelakangi dengan melihat kondisi bangsa hari ini.

Ketegangan yang ditimbulkan oleh viralnya frasa “tahun politik” begitu dahsyat, sehingga dampak psikologisnya pun dirasakan hingga ke pelosok negeri.

Rasa persaudaraan yang selama ini terbangun begitu apik di atas fondasi kebhinekaan, tergilas oleh pesona primordialisme yang menampilkan wajah SARA demi kepentingan dan tendensi negatif.

Isu-isu atas nama SARA tak lain hanya menegaskan eksklusivitas identitas sektarian dalam bingkai berpikir yang sempit dan picik. Namun dampaknya begitu luas pada kehidupan berbangsa dan bernegara.

Seminar kebangsaan ini dihadiri beberapa narasumber  yakni, Ketua MUI NTTDrs. Abdul Makarim, Rektor UNWIRA Pater Dr. Philipus Tule, SVD,Thomson S. Silalahi Sekjen PP PMKRI, Sekretaris PARISADA Gusti Budiman, Ketua Sinode GMIT Pdt. Niko Lumba, penjabat gubernur Robet Simbolon.

Ketua Presidium PMKRI Cabang Kupang, Engelbertus Tobin  mengatakan, kegiatan gerakan “kita Indonesia” merupakan seruan moral terhadap keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa, terutama bagi generasi muda.

Generasi muda, kata dia, diajak untuk terus menggelorakan semangat nasionalisme dalam bingkai kebihinekaan dan asas semangat Pancasila.

“Semangat kebangsaan perlu ditegakan kembali dengan merajut benang kusut persatuan demi mewujudkan Indonesia yang berkeadilan, supaya generasi muda dan kita semua tidak terjebak dalam isu-isu yang kemudian merongrong persatuan dan kesatuan Indonesia,” kata Engelbertus.

Generasi muda, kata dia, harus bijak dalam dinamika yang terjadi dan senantiasa bisa menepis isu-isu yang dimainkan oleh kelompok kepentingan.

Dikatakan, kegiatan ini diakhiri dengan jalan sehat pada Sabtu, 11 Agustus 2018, orasi kebangsaan dan tarian kebudayaan sekalian deklarasi “kita_Indonesia” di depan Rumah Jabatan Gubernur NTT.

“Dengan menghadiri rekan-rekan Cipayung tokoh agama dan partai politik untuk kembali memberikan testimoni kebangsaan untuk semangat menegukan kita Indonesia,”ujarnya

Rektor Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Pater Philipus Tule, SVD dalam pemaparan materi menyampaikan, konsentrasi umat Islam terbesar di dunia ada di Indonesia.

“Inilah yang membuat bangsa kita diperhitungkan di mata dunia. Di usia Indonesia yang beranjak ke 75 tahun, Indonesia dihantui dengan virus radikalisme. Virus ini berjajak perlahan – lahan masuk ke Indonesia dengan tujuan untuk mengembalikan khilafah yang dulu Soekarno menolaknya,” kata Pater Philipus

Menurut Pater Philipus, untuk memerangi virus radikalisme ada dua senjata. Keduanya, yakni pertama senjata agama, pemahaman, penghayatan, pengamalan akan agama yang dianutnya secara benar.

Kedua, senjata kebudayaan yakni rumah adat merupakan tempat berhimpunannya nenek moyang sebelum agama masuk ke Indonesia.

“Namun bagi kaum muda, untuk menghadapi radikalisme perlu adanya upaya – upaya yakni upaya preventif (pencegahan), upaya persuasif (penyadaran) dan upaya represif (penekanan),” tegas Pater Philipus depan ratusan peserta seminar itu.

Terpisah, Sekretaris Jendral PP PMKRI Thomson Silalahi, dalam paparan materinya mengatakan, latar belakang akan lahirnya Indonesia sosiokultural yakni warisan perjuangan kekayaan beragam identitas, sumpah pemuda dan Pancasila.

“Indonesia hari ini mengalami problem identitas, infiltrasi ideologi dan digitalisasi,”katanya.

Untuk membingkai masa depan, kata dia, perlu adanya koreksi timbal balik. Adanya reduksi dan ekspansi. Mencoba untuk melihat dari mata pihak lain. Melihat kebenaran sebagai sesuatu yang terus bergerak maju.

 

Penulis: Tarsi Salmon
Editor: Ardy Abba

alterntif text