Siprianus Nejang, anggota DPRD Matim Fraksi PKPI (Dok. Sipri Nejang)

Borong, Vox NTT- Anggota Komisi C DPRD Manggarai Timur (Matim), Siprianus Nejang menilai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Matim, Frederika Soch sebagai Kadis pencabut nyawa.

Penilaian itu diutarakan Siprianus karena merasa kesal dengan sikap Sang Kadis yang memecat guru secara sepihak tanpa, memperhatikan prosedur dan dianggap melenceng dari etika pemerintahan.

Kebijakan Kadis Frederika yang memecat guru THL tanpa alasan yang jelas dinilai Siprianus cacat prosedur dan tidak dibenarkan secara aturan.

Politisi PKPI itu menegaskan, pemecatan sepihak terhadap para guru menunjukan sikap Kadis yang gagal dalam menerapkan pendidikan bagi para guru.

Menurutnya, Sang Kadis mesti menjadi contoh bagi para guru dan bawahannya di kantor yang dipimpinnya saat ini. “Bagaiamana jadinya pendidikan daerah ini, jika pemimpinya tidak bisa memberi contoh yang baik bagi masyarakat,” ungkap Siprianus penuh tanya.

Sikap Kadis yang demikian kata Siprianus tak ubahnya malaikat pencabut nyawa para guru. Kadis, demikian kata Siprianus harus menjadi contoh yang baik bukan malah berlaku sebagai perenggut nyawa bagi para guru.

“Menurut saya, kebijakan dia itu kebijakan yang mencabut nyawa. Sehingga dia tampil sebagai Kadis pencabut nyawa untuk guru THL,” ujar anggota DPRD Dapil Poco Rana dan Poco Ranaka Timur itu kepada VoxNtt.com via telepon, Rabu (5/9/2018).

Selain itu, Siprianus juga menanggapi tudingan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (PK), Frederika Soch yang menyebut DPR berperan dalam pengangkatan sejumlah guru THL di dinas yang dipimpin Frederika itu.

Menurutnya, tudingan itu tidak berdasar dan merendahkan perjungan dia dan rekan-rekannya di Komisi C, yang membidangi pendidikan di lembaga tersebut.

“Saya sesal, karena pernyataan Frederika merendahkan kami punya perjuangan yang tinggi sekali orientasinya. Orientasi kemanusiaan kalau dibilang to,” pungkas Siprianus.

Baca: Niko Martin Minta Kadis PK Matim Jangan Pakai Emosi

Sebelumnya, sebagaimana diberitakan Floreseditorial.com, Frederika menyebut anggota Fraksi PKPI itu menitipkan guru THL atas nama YR. Siprianus menepis tudingan tersebut.

Menurutnya, YR sudah menjadi guru THL sebelum Frederika menjabat sebagai Kadis. Usaha dia dan rekannya di Komisi C terkait nasib guru yang dipecat dan dipotong gajinya oleh Frederika karena tengah menjalankan tugas.

“Bukan titipan. Guru-guru dinas pendidikan Manggarai Timur ka yang sudah mengajar bertahun-tahun. Lalu, pada waktunya ketika mereka minta bantuan, mereka depan saya ka, tidak mungkin kita tutup mata. Itu bukan titipan, tetapi perjuangan kami di DPRD,” katanya.

Siprianus menambahkan, hal itu bukan hanya dia lakukan terhadap YR tetapi semua guru yang merasa dirugikan. Baginya, apa yang dia perjuangkan adalah bagian dari tugasnya sebagai pengabdi rakyat.

“Lalu juga, hal yang sama di luar keluarga saya. Begitu kita tau, kita angkat. Asalkan memenuhi syarat mereka sudah lama mengajar di Manggarai Timur,” katanya.

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan hanya ingin guru-guru THL tersebut mendapat perlakuan yang pantas dari Kadis Frederika.

Apalagi, kata dia guru-guru tersebut sudah mengabdi bertahun-tahun. “Kita hanya mau mereka mendapat kelayakan setelah sekian tahun menjadi THL,” ujarnya.

Siprianus pun menilai, pernyataan Frederika tersebut merupakan cerminan kegagalannya dalam mengemban tugas mulia sebagai Kadis PPO.

“Jadi, pada intinya begini, apa yang dia sampaikan itu sebenarnya memamerkan apa yang tersembunyi di dalam diri dia. Karena kerja dia yang rendah kah. Karena orientasi keluarga, dia proyeksikan itu ke orang lain to, termasuk saya, ke pa Mias Dupa,” imbuhnya.

Frederika, terang Siprianus, menjabat sebagai Kadis P&K di saat kondisi pendidikan sudah terang gemerlap. Sementara guru yang diangkat menjadi THL sudah ada sejak pendidikan di wilayah ini masih gelap gulita.

“Frederika itu baru saja jadi Kadis PK. Dia itu melupakan sejarah perjalanan panjang pendidikan daerah ini. Makanya dia suka plin-plan. Perilakunya juga muka belakang seperti itu,” tambahnya.

Penulis: Nansianus Taris

Editor: Boni J

alterntif text