Ketua Yayasan Elang Nusa Bangsa Ruteng, Felix Musa Ahas (Foto: Ronal Tarsan)

Ruteng, Vox NTT- Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Elanus Ruteng, Kabupaten Manggarai mulai menerapkan strategi manajemen pendidikan berbasis lapangan kerja.

Manajemen yang bermuara untuk membangun mental wirausaha tersebut diberlakukan sejak SMK Elanus Ruteng diambil alih oleh Yayasan Elang Nusa Bangsa beberapa waktu lalu.

Ketua Yayasan Elang Nusa Bangsa Ruteng, Felix Musa Ahas mengatakan, para siswa SMK Elanus diarahkan untuk bekerja di minimarket Bandung Utama Group (BUG) miliknya di sore hari, usai pulang sekolah.

Upaya ini, kata dia, merupakan salah satu strategi untuk membangun mental wirausaha bagi para siswa. Selain itu, manajemen ini merupakan salah satu strategi menuju SMK Elanus sebagai salah satu sekolah kejuruan yang berkualitas tinggi di Kabupaten Manggarai.

Ia menguraikan, langkah tahun pertama Yayasan Elang Nusa Bangsa Ruteng menata sistem manajemen keuangan. Tahun kedua; manajemen birokrasi tenaga edukatif. Tahun ketiga; manajemen peserta didik.

“Kalau dikatakan Bandung Utama beli SMK Elanus itu tidak juga. Karena SMK Elanus ini adalah milik kita semua. Bandung Utama Group hanya bertugas mengelolahnya,” ujar Felix dalam sambutannya saat acara hari ulang tahun (HUT) SMK Elanus Ruteng ke-8, Sabtu (15/09/2018).

Ia bahkan berkomitmen untuk mencetak lima pengusaha muda dari sekolah yang beralamat di Jalan Golo Curu, Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong itu.

 “Saya janji kemarin bahwa tahun kedua saya akan menciptakan lima (5) orang pewirausaha dari SMK Elanus ini,” kata Direktur Utama BUG itu.

Sekilas Ambil Alih

Felix sendiri mengaku, telah mempertimbangkan secara matang sejak awal untuk mengambi alih pengelolaan SMK Elanus Ruteng.

Sebelumnya memang, kata dia, sekolah itu memiliki tantangan. Itu antara lain, keterbatasan murid dan masalah financial.

Direktur Utama BUG itu berkisah, setahun yang lalu ia berdiskusi dengan beberapa pihak agar SMK Elanus Ruteng bisa bangkit dan berkembang. Diskusi itu terutama dengan tokoh pemerintah, masyarakat, dan tokoh pemuda.

Setelah berdiskus, ia kemudian menelusuri informasi tentang SMK Elanus. Selanjutnya Felix memutuskan untuk melanjutkan pengelolaan sekolah tersebut.

“Kehadiran bapak Bupati Deno Kamelus, Wakil bupati Viktor Madur dan bapak Rafael Ogur (Kadis Sosial Manggarai)  yang sudah mendukung saya waktu itu. Saya pun optimis untuk melanjutkan manajemen Yayasan Elang Nusa Bangsa ini,” tuturnya.

Felix menyatakan,  keputusan melanjutkan pengelolaan SMK Elanus Ruteng tak membuatnya kecewa. Ia yakin tidak sendiri. Banyak tokoh muda dan tokoh masyarakat yang mendukung perjuangannya.

“Walupun bersedih hati juga, bahwa saya memiliki teman-teman yang mendukung saya dan Tuhan di balik saya. Saya bilang Tuhan apa pun yang terjadi, jika ini yang dikehendaki maka saya akan maju,” imbuh Felix.

Pendidikan Sangat Penting

Rafael Ogur, Perwakilan Pemerintah Kabupaten Manggarai mengatakan, lembaga pendidikan sangat penting dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Sebab, dengan memeroleh ilmu pengetahuan manusia dapat menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi sesamanya.

“Bapa Yayasan bagaimana mempersiapkan guru yang baik dan profesional. Agar kelak dia total melaksanakan tugas mengajar peserta didik,” ujar Rafael.

Dengan begitu kata dia, SMK Elanus dapat mencetak peserta didik yang berkualitas tinggi. Guru yang berkualitas akan menciptakan siswa yang berkualitas pula.

Sementara itu, Ursula Besna Senaru, Kepala Seksi SMK Unit Pelaksana Teknis (UPT) Wilayah VII Dinas Pendidikan Provinsi NTT mengatakan, pasang surut kemajuan SMK Elanus disebabkan banyak faktor. Salah satunya adalah manajemen tata kelola.

“Beralihnya manajemen kepada Bandung Utama Group (BUG) tidak diragukan lagi. Karena lembaga ini telah berhasil membangun sistem manajemen yang baik terhadap berbagai macam usahanya,” kata Ursula saat memberikan sambutan pada acara HUT ke – 8  SMK Elanus Ruteng.

Menurut dia, kehadiran SMK Elanus Ruteng dapat membantu peserta didik yang ingin berkreasi di bidang entrepreneurship.

Ursula melanjutkan, kehadiran SMK Elanus Ruteng telah menambah daftar pendidikan kejuruan di Kabupaten Manggarai. Jika sebelumnya ada 13, sekarang bertambah menjadi 14 sekolah kejuruan.

 “Kami selaku Dinas Pendidikan Provinsi NTT akan menjadi fasilitator kerja sama dunia usaha dan dunia industri. Khususnya lembaga sertifikat profesi pihak pertama SMK 3 Negeri Kupang untuk menjadikan sekolah ini sister school. Untuk membangkitkan jurusan tata busana ini,” janji dia.

Dalam kesempatan tersebut, Ursula menyebutkan ada tiga tujuan utama dalam mendirikan lembaga pendidikan vokasi.

Ketiganya antara lain; mendidik anak siap kerja, melanjutkan kuliah, dan menjadi pewirausaha.

“Berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang revitalisasi SMK, menginstruksikan kepada 15 menteri kabinet kerja, para gubernur dan Kepala Badan BSNP untuk membangun kembali revitalisasi SMK. Di mana SMK hadir dengan begitu banyak program kreatif untuk lebih gigih dan bertanggung jawab memberikan peran terhadap pemberdayaan ekonomi. Khususnya untuk mendukung masyarakat rkonomi ASEAN,” urainya.

Dikatakan, di Manggarai pendidikan vokasi dibagi menjadi tiga bagian. Keempatnya yakni, pertama, SMK Rujukan, dengan jumlah murid 1.000 lebih. Itu meliputi, SMK Karya Ruteng, SMK Sadar Wisata Ruteng dan SMK Swakarsa Ruteng.

Kedua, SMK Aliansi dengan jumlah murid sebanyak 700 ke atas. Itu meliputi SMK Negeri 1 Wae Ri’i, SMK Santu Petrus Ruteng, dan SMK Binakusuma Ruteng.

Ketiga, SMK Kosorsium dan Reguler dengan jumlah murid sebanyak 700 ke bawah. Ini adalah SMK Elanus Ruteng.

Ursula mengungkapkan, Dinas Pendidikan Provinsi NTT sedang menyusun strategi untuk pengembangan SMK Elanus Ruteng.

“Saat ini kami sedang menyusun petunjuk teknis dalam tentang percepatan revitalisasi. Di mana dari petunjuk teknis itu kami mulai mengarahkan SMK hadir untuk mengembangkan paket keahlian mendukung potensi daerah,” aku Ursula.

Kurikulum SMK, kata dia, berbasis industri dan lebih fleksibel. Di SMK ilmu pengetahuan yang diajarkan sangat dibutuhkan oleh industri.

Seba itu, guru tak hanya memiliki keahlian di bidangnya, tetapi juga memiliki kompetensi sertifikasi melalui pendidikan.

Penulis: Ardy Abba

alterntif text