Foto: solopos.com

Jakarta, VoxNtt.com-Tokoh pers Siti Latifah Herawati Diah berpulang di usia 99 tahun di Rumah Sakit Medistra Jakarta, Jumat, 30/09/2016. Siti Latifah Herawati Diah lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 1917, adalah anak ketiga dari antara empat bersaudara.

Sejak bulan Oktober 1954, dia memimpin harian baru berbahasa Inggris, Indonesian Observer, untuk mengkampanyekan aspirasi kemerdekaan RI dan negara-negara masih terjajah, yang makin menggelora sejak penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung.

Apakah jurnalisme itu di mata Herawati Diah? Menurut dia, jurnalisme paling tidak menuntut kecintaan pada pekerjaan dan membutuhkan pengindahan terhadap hati nurani.

“Hati nurani adalah penyuluh dari pekerjaan dan sukses wartawan, justru karena inti dari profesi ini adalah pengabdian kepada kepentingan umum. Inilah yang berulangkali saya sadari ketika melakukan lawatan keliling nusantara dalam rombongan bersama Presiden Sukarno,” ujar ibu dari dua putri dan seorang putra itu.

Khusus mengenai jurnalisme dan perempuan, Herawati menilai ada kesalahan dalam mengembangkan jurnalisme. “Salah satu kesalahan itu adalah pengucilan berita-berita penting bagi umat manusia sebagai sekadar berita wanita. Berarti itu tidak dianggap penting. Padahal, sebenarnya menyangkut lebih dari separuh penduduk dunia. Persoalan wanita adalah persoalan setengah dunia, bukan persoalan sekelompok kecil masyarakat” seperti dikutip antaranews.com, Jumat, 30/09.

Hingga akhir hayatnya, ia tetap rajin menulis dan membaca media massa berbahasa Indonesia maupun asing, bahkan menulis sejumlah buku dalam bahasa Indonesia dan Inggris. “Biar tidak cepat pikun,” demikian Herawati Diah, yang juga penerima Bintang Mahaputra pada 1978. (VoN)