Pastor bersama peserta calon kepala desa berpose usai perayaan ekaristi (Foto: Eman)

Kefamenanu,Vox NTT– Ada yang unik dalam perhelatan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Desa Oenenu Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Tak seperti Pilkades di desa lain yang kerap menimbulkan sekat antar kelompok pendukung, di desa ini sebelum pelaksanaan pilkades sudah ada kesepakatan bahwa yang kalah wajib tanggung koor selama perayaan ekaristi sedangkan yang menang tanggung lagu saat sambut tubuh kristus.

Kesepakatan ini dimediasi oleh pastor pembantu di paroki setempat, Rm. Djanu Mau Kura,Pr dan disampaikan kepada umat selepas misa perayaan ekaristi  di kapela Oenenu pada hari Minggu (19/03/2017).

Menurut Pastor Djanu kesepakatan ini dilatarbelekangi oleh kondisi masyarakat sebelum dan sesudah pilkades dimana sering terjadi perpecahan dan sekat di antar kelompok pendukung.

“Ini adalah strategi yang dibuat oleh pihak gereja dan masyarakat desa agar jangan hanya karena proses demokrasi masyarakat desa Oenenu Utara yang sebetulnya bersaudara harus saling bermusuhan”tegas Romo Djanu.

Lebih lanjut Romo Djanu berharap bahwa apa yang dibuat oleh pihaknya hari ini sebagai langkah baru yang pantas ditiru oleh umat di wilayah lain sehingga dapat mengurangi konflik antara masyarakat yang berbeda pilihan politik.

Sementara itu calon kepala desa (Cakades), Patrisius Nabu yang kalah  dalam Pilkades 11 Maret lalu mengungkapkan bahwa dirinya berkomitmen untuk tidak membuat jurang pemisah dengan kades terpilih.

“Masa kepempinan saya masih sampai tanggal 21 Desember jadi walaupun saya tidak terpilih kembali saya tetap komitmen untuk membangu desa Oenenu Utara”tandas  Kepala Desa Oenenu Utara periode 2011 – 2017 tersebut.

Senada dengan itu  Martinus Naot Kades terpilih desa Oenenu Utara menyatakan bahwa dalam masa pemerintahan yang ia pimpin, tidak akan mendiskriminasikan masyarakat dalam pelayanan karena berbeda pilihan politik.

Pantauan media ini, selepas perayaan ekaristi semua masyarakat desa Oenenenu Utara dan desa sekitarnya tampak berbaur di samping kapela dan bercengkrama seakan tak pernah ada perbedaan apapun di antara mereka.(Eman Tabean/VoN)