Lanny Koroh saat membawakan monolog di Panggung Rakyat WALHI (Foto: Boni/VoN)

Kupang, Vox  NTT-Sajak “Lepaskanlah Senja” menggetarkan Pantai Oesapa, Kota Kupang. Sajak yang ditampilkan dalam kemasan Monolog oleh Komunitas Teater Perempuan Biasa ini dilantunkan di atas ‘Panggung Rakyat’ dalam momentum Konsultasi Nasional Lingkungan Hidup (KNLH) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WAHLI) sekaligus memperingati Hari Bumi  yang diselenggarakan di Pantai Oesapa Kota Kupang Pada, Sabtu (22/4/2017).

Pertunjukan monolog ini mendapatkan apresiasi dari peserta kegiatan dan seluruh masyarakat yang datang dari berbagai Penjuru di Kota Kupang.

Sajak karya Gusti Fahik ini dibawakan oleh Lanny Koroh, Kordinator Teater Perempuan Biasa bersama timnya yang terdiri dari Rian, Citra dan El.

Lanny sendiri adalah Mahasiswa program Doktoral di Udayana Denpasar, Bali yang sengaja datang untuk merayakan hari Kartini bersama timnya dan hari Bumi yang diselenggarakan WAHLI dengan WAHLI NTT sebagai tuan rumah. Sementara ketiga temanmya adalah Guru di SMAN IV Kota Kupang.

Kolaborasi musik tradisional yang dimainkan ketiga temannya dengan didukung oleh kepiawaian Lanny dalam membacakan sajak ini, membuat aura Panggung Rakyat itu menjadi semakin menarik.

Penampilan monolog sajak ini sangat dinikmati oleh seluruh peserta KNLH yang datang dari 28 Propinsi di Indonesia.

Bait demi bait dengan mimik Lanny yang meyakinkan di atas Panggung itu, membuat semua orang seolah-olah sedang berada dalam susana sajak yang dibacakannya. Decak kagum dan riah riuh tepuk tangan pun tak dapat disembunyikan di tempat itu.

Lannya yang ditanyai seusai penampilannya menyampaikan bahwa monolog yang ditampilkan komunitasnya itu menggambarkan tentang fakta yang sedang dihadapi oleh bangsa khususnya NTT saat ini.

Bahwasannya banyak sekali anak-anak yang menjadi korban sebagai pekerja di bawah umur, human traficking yang menimpa Perempuan di NTT.

Selain menggambarkan persoalan kemanusiaan, sajak ini juga bagian dari meratapi kondisi ekologis di NTT yang semakin memprihatinkan dan kurang dilindungi.

“Menurut saya di sajak itu sudah sangat melengkap ya, ia menggambarkan tentang kondisi sosial yang kita hadapi saat ini” ujarnya.

Lanny pun berharap agar, masyarakat dan pemerintah di NTT lebih peka lagi dengan kondisi sosial dan ekologi kita saat ini. 

Di bawah ini adalah Video monolognya…

Lepaskanlah Senja

Suatu waktu pernah kau bilang,

senja akan telalu singkat dilaknati mulut-mulut lapar

menanti malam menurunkan embun

dan bulan yang sekuning mata kucing itu berlalu di atas tubuhmu

yang tak lagi seindah gitar yang dawainya bergetar

dalam perut anak-anak kerempeng kekurangan gizi, dan

anak-anak putus harapan yang saban hari kau jumpai bergentayangan di bawah lampu merah kotamu

Menjajakan koran dengan suara yang kian cempreng akibat polusi dan debu jalanan??

 

Senja akan terlalu singkat, sayang

dan senyummu pun tak akan berarti apa-apa lagi,

seumpama janji-janji hampa para politikus gagah yang posternya bertebaran di seantero kota,

dengan senyum yang dipoles di studio foto demi merayu suara orang-orang kalah yang tak segan menjual haknya demi lembaran seratus ribu rupiah untuk bertahan hidup?

 

Kau lihat?

Poster-poster yang bergelantungan di pohon-pohon itu tetap tersenyum, ketika orang-orangmu digiring seperti sampah yang dipungut untuk dijual tanpa belas kasihan.

Kau lihat? Poster-poster itu tidak meneteskan air mata, meski peti-peti mati terus berdatangan dari penjuru negeri untuk ditanam di rahim bumi pertiwinya. Saudara-saudaramu dijual dan mati seperti budak dari masa lampau,

Sampai kapan kau terus mengatup bibirmu, sayang?

Tak bisakah kau bersuara atas nama mereka?

 

Aku tahu,

Senja yang singkat akan menemukan paginya yang lain

dimana akan kau jumpai lembar koran memuat potret anak-anakmu bermain di antara tumpukan sampah,

tak ada lagi pohon-pohon, air matamu akan berubah menjadi mata air, disengat bumi yang semakin panas,

 

Mungkin kau akan merindukanku dalam diam yang panjang

seperti ceruk lautan yang dalam, menyimpan setiap rahasia bumi dan langit

kau akan merindukan pohon-pohon yang dulu kita tanam bersama, taman bunga yang pernah mekar, dan embun yang membasuh kaki jelatamu.

 

Senja akan berlalu, dan kau ingin mengubur semua keburukan ini bersama malam

Tapi kita akan bersama lagi, merawat ibu bumi dan harapan-harapan baru

Sebab hidup terlalu berharga untuk tenggelam bersama pekat malam,

 

Biarkan senja ini berlalu,

Lepaskanlah senja….

(Boni Jehadin/VoN)

alterntif text