Peserta lomba balap sepeda internasional masuk garis finis di Ende pada tahun 2016. (Foto: Ian Bala)

Ende, Vox NTT-Berbagai tanggapan pelaku pariwisata terkait ajang Tour de Flores (TdF). Perlombahan balap sepeda tingkat internasional ini pada dasarnya bertujuan untuk mempromosi potensi pariwisata yang ada di daratan Flores.

Namun ajang ini kerap dikritisi berbagai elemen masyarakat. Selain disoroti aktivis sosial, ajang bergengsi ini mendapatkan kritikan dan saran dari sejumlah pelaku pariwisata.

Simpli Mbipi, pelaku pariwisata dari Tourism Management Organization (TMO) Ende mengkritisi perlombahan balap sepeda tersebut.

Baca: Soal TdF, Andri Garu: Mesti Belajar dengan Kompas

Menurut dia, Pemerintah mesti mempersiapkan serta mengkaji manfaat TdF untuk masyarakat lokal. Hasil evaluasi, sebut dia, hanya untuk kepentingan masyarakat golongan atas.

Ia menjelaskan hasil promosi pariwisata melalui lomba balap sepeda mesti dapat mendongkrak ekonomi masyarakat kelas bawah.

“Manfaat tour itu untuk apa. Kalau untuk promosi pariwisata seharusnya dampak untuk masyarakat flores sendiri pada kelas bawah. Bukan untuk masyarakat atau golongan elit. Nah, ini yang mesti diperhatikan khusus sebelum tour ini dilakukan,” tegas dia.

Ia mengatakan pada dasarnya tour baik untuk kepentingan promosi potensi pariwisata. Hanya diusulkan harus tepat sasaran.

Selain itu, masing-masing pemerintah daerah diharap agar menyiapkan secara matang sehingga tidak terkesan hanya menghabiskan anggaran daerah. Biaya miliaran rupiah, menurut dia, bukan anggaran sedikit.

“Makanya kita tanya, apakah mereka (peserta lomba) singgah di tempat-tempat wisata, singgah di tempat souviner shop milik masyarakat atau singgah di tempat pangan lokal. Sebelumnya tidak seperti ini,” tutur Simpli.

Sementara pelaku pariwisata lain, Nando Watu menuturkan promosi pariwisata yang dilakukan melalui perlombahan balap sepeda merupakan konsep yang baik untuk ramah lingkungan. Sebab salah satu konsep pariwisata yakni bebas dari gangguan atau ancaman terhadap ekosistem lingkungan alam.

Ia mengusulkan agar pemerintah sedaratan Flores dapat memanfaatkan ajang lomba tersebut untuk mempromosikan pariwisata masing-masing daerah.

Nando menilai dampak TdF hanya untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Sementara peningkatan ekonomi masyarakat masih belum nampak.

“Saya melihat ini untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Mestinya pemerintah harus melihat infrastruktur apa yang perlu dibangun,” katanya.

Baca: DPRD NTT Sebut Kegiatan Tour de Flores Korbankan Rakyat

Alumni Sekolah Tinggi Frateran Ledalero ini mengapresiasi bahwa kegiatan TdF merupakan ajang untuk menyatukan potensi Flores secara umum. Bahwa tidak ada sekat atau egoisme masing-masing sektor atau wilayah.

Namun disarankan agar masing-masing daerah perlu menyiapkan UKM atau kekhasan lokal untuk dipromosikan baik kepada peserta lomba maupun para touring.

“Penyelenggara juga perlu berkoordinasi dengan baik. Tidak sekedar formalitas bahwa tour sudah selesai dilaksanakan. Tetapi perlu melihat dampak ekonomi masyarakat. Kepentingan promosi adalah kepentingan masyarakat,” ungkap Ferdinandus, pelaku pariwisata yang pernah bekerja pada lembaga Destination Management Organization¬†(DMO) Ende. (Ian Bala/VoN)

alterntif text