Demo mahasiswa di Ruteng menuntut kenaikkan upah buruh (Foto: Adrianus Aba)

Ruteng, Vox NTT- Aksi unjuk rasa kelompok mahasiswa di Ruteng dalam rangka mempringati hari buruh sedunia berujung ricuh dengan pihak keamanan di depan kantor bupati Manggarai, Senin (1/5/2017).

Sejumlah elemen mahasiswa tersebut terdiri dari aktivis PMKRI, GMNI, Senat STKIP Ruteng, dan STIE Karya Ruteng. Mereka menuntut pemerintah agar segera menaikan upah buruh di Manggarai sesuai UMP Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2017 yakni Rp 1.525.000.

Kericuhan dengan pihak keamanan dari Polres Manggarai terjadi setelah sejumlah mahasiswa mendorong pintu gerbang kantor bupati hingga jatuh. Akibatnya, saling dorong dan adu mulut dengan polisi kemudian tak terelakan.

Berdasarkan pantauan VoxNtt.com, sebelum pintu gerbang bupati Manggarai didorong mahasiswa, sejumlah anggota polisi tidak berdiri di bagian depannya.  Mereka hanya berjaga di bagian belakang, samping timur, dan barat peserta demo.

Setelah pintu gerbang jatuh, beberapa anggota polisi lari menghampiri mahasiswa dan berdiri di bagian depan pendemo. Polisi kemudian mendorong secara paksa sejumlah mahasiswa dari atas tangga hingga turun di badan jalan.

“Siapa yang buat jatuh gerbang tadi?,” tanya Wakapolres Manggarai Tri Joko Biyantoro yang datang dari sisi timur peserta demo.

Beberapa orator pun menyahut Wakapolres Tri Joko bahwa mereka datang mewakili masyarakat Manggarai, terutama kaum buruh yang selama ini diberi upah jauh di bawah UMP NTT.

Peserta demo tampaknya tak gentar saat didorong polisi. Mereka kemudian lompat-lompat di depan polisi sambil meneriakan yel-yel perjuangan mahasiswa.

Selanjutnya, Wakapolres Tri Joko memerintahkan anggota untuk ke belakang peserta demo.

“Biarkan mereka tidak dijaga, biarkan mereka ke dalam, kalau rusak fasilitas di sini kita tangkap saja mereka,” ujarnya.

Seraya memerintah anggotanya untuk tarik mundur, beberapa mahasiswa tetap melakukan orasi menentang kebijakan pemerintah kabupaten Manggarai yang tidak berpihak pada nasib kaum buruh.

Kericuhan dan saling dorong meredah, setelah elemen mahasiswa menyudahi aksinya. Setelah aksi unjuk rasa mereka kemudian kembali ke sekretariat bersama (Sekber) di Marga Siswa PMKRI Ruteng di belakang Gereja Katedral lama jalan Ruteng-Iteng.

Presidium Germas PMKRI Ruteng Servas Jemorang dalam orasinya menegaskan, masih begitu banyak persoalan yang meliliti buruh di Manggarai, salah satunya ialah upah yang masih rendah.

“Pemerintah selama tuli dengan persoalan upah buruh di Manggarai. Sampai saat ini belum jelas UMK di Manggarai. Kami berjanji akan membawa massa yang lebih banyak lagi, jika pemerintah kabupaten Manggarai tidak segera memperhatikan kesejahteraan buruh di Manggarai,” ujar Servas.

Sementara itu, Ketua GMNI Manggarai Martinus Abar dalam orasinya menyatakan, mahasiswa mendesak pemerintah untuk segera menetapkan UMK untuk kesejahteraan para buruh.

“Wahai para penguasa, kami datang mewakili kaum buruh di Manggarai. Dengarlah keluhan para buruh, sejahterakan mereka dengan member upah yang layak,” ujar Abar. (Adrianus Aba/VoN)