dr. Pina Yanti Pakpahan (Foto: Facebook Vina Pakpahan)

Labuan Bajo, Vox NTT- Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Ruteng mendukung dan mangepresiasi langkah Pina Yanti Pakpahan, dokter yang bertugas di Kantor Kesehatan Pelabuhan wilayah kerja Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar).

Pasalnya, Dokter Vina sudah berusaha menggagalkan praktik pungutan liar (Pungli) di tempat kerjanya.

Sayangnya, niat baik wanita berdarah Batak ini berbuntut buruk. Ia mengaku mendapat kekerasan verbal dan nyaris kena jotos dari pimpinannya.

“PMKRI mengapresiasi dan sepenuhnya mendukung keberanian dan niat mulia Dokter Vina sebagai bentuk profesionalitas kerja memberantaskan pungli,” ujar Ketua Presidium PMKRI Ruteng, Dionisius Upartus Agat kepada VoxNtt.com, Minggu (21/5/2017) malam.

Baca: Dokter Vina Bongkar Dugaan Pungli, DPR Diminta Jangan Tutup Mata

Karena itu, Patris mendesak pihak Polres Mabar dan tim Saber Pungli segera menyelidiki laporan Dokter Vina tersebut. Berharap, polisi dan pihak Saber Pungli bekerja profesional untuk menuntaskan dugaan Pungli di Kantor Kesehatan Pelabuhan wilayah kerja Labuan Bajo.

“Kita juga berharap, ke depan semua instansi pemerintahan bebas Pungli. Hal ini tentu butuh partisipasi masyarakat untuk mengkawal dan melaporkan setiap penyimpangan kepada pihak berwajib,” tukas Patris.

Diberitakan sebelumnya, niat menggagalkan Pungli di kantor tempat kerjanya, Dokter Vina mengaku mendapat kekerasan verbal dan nyaris kena jotos dari pimpinannya.

Kejadian bermula saat Dokter Vina pertama kali melayani para pemilik kapal yang hendak melakukan penerbitan dokumen kesehatan kapal.

Pada saat menerbitkan dokumen kapal tersebut, Dokter Vina merasa ada kejanggalan. Itu karena pemilik kapal menyetor biaya penerbitan dengan uang sebesar Rp 30 ribu.

“Saya kaget saat saya melayani pemilik kapal ukuran 5 GT yang hendak menerbitkan dokumen kesehatan kapal menyerahkan uang Rp 30 ribu,” kata Dokter Vina di Labuan Bajo, Jumat (19/05/2017)

Menurut dia, untuk kapal ukuran di bawah 6 GT sesuai aturan PP 21 tahun 2013 tidak dikenakan biaya. Karena itu dia kembalikan uang pemilik kapal tersebut.

Selanjutnya, usai mengembalikan uang pemilik kapal Dokter Vina pun menanyakan pungutan ini kepada rekan kerjanya. Namun jawaban dari rekannya tersebut malah dengan nada marah-marah.

“Karena hal ini janggal akhirnya saya tanyakan ke teman kerja saya,” tukasnya.

Baca: Niat Gagalkan Pungli, Dokter Pelabuhan Labuan Bajo Nyaris Kena Jotos Atasannya

Karena mempertanyakan hal tersebut rekan kerjanya yang diketahui bernama Efraim malah balik bertanya, “apa kompetensimu mempertanyakan pungutan ini?”.

Atas kejadian tersebut, Dokter Vina dan Efraim pun sempat terlibat adu mulut di ruang kerja mereka. Saat adu mulut berlangsung, koordinator pelayanan kesehatan Marsel Elias membentak keduanya dan mengusir mereka pulang.

Tidak hanya mengusir keduanya dari kantor, Marsel pun sempat mengepalkan tangan ke arah Dokter Vina sebelum dilerai oleh staf kantor lain.

“Saat saya dan Efraim ribut, pak Marsel datang dan mengusir kami dari ruangan, tidak hanya mengusir dia juga hendak menonjok saya dengan tangannya, untung ada teman lain yang menahan,” tuturnya.

Insiden pengancaman ini selanjutnya dilaporkan Dokter Vina ke Polres Mabar dan saat ini sedang dalam tahap pengambilan keterangan oleh polisi.

Koordinator Kantor Pelayanan Kesehatan wilayah kerja Labuan Bajo, Manggarai Barat (Mabar) Marsel Elias menjelaskan insiden dengan  bawahannya dr. Pina Yanti Pakpahan.

Kepada wartawan di Labuan Bajo, Sabtu (20/5/2017), Elias membenarkan dirinya membentak Dokter Vina.

Dia menjelaskan, waktu itu di kantornya ada insiden keributan. Dokter Vina meminta salah satu staf yang sedang menelepon untuk menerbitkan dokumen kesehatan kapal.

“Karena sedang menelepon, staf tersebut tidak melayani permintaan dokter (Vina). Dokter marah-marah dan terjadilan keributan,” jelas Elias.

Baca: Ini Penjelasan Koordinator Terkait Insiden di Kantor Kesehatan Pelabuhan Labuan Bajo

Dia mengaku, apa yang dilakukannya hanya ingin menenangkan situasi dan tidak sedikit pun niat melakukan  kekerasan terhadap bawahannya.

“Saya tidak mungkin melakukan kekerasan terhadap dokter, kami satu rumah, satu pintu, niat saya hanya menenangkan situasi saja,” katanya. (Adrianus Aba/VoN)

alterntif text