Permainan Caci saat upacara Penti dan Congko Lokap di Welo

Ruteng, Vox NTT- Dalam nada syukur, masyarakat adat Kampung Welo, Desa Gulung, Kecamatan Satar Mese Utara, Kabupaten Manggarai menggelar upacara Penti dan Congko Lokap. Penti dilaksanakan pada 28 Juni 2017, sedangkan Congko Lokap dilaksanakan sehari berikutnya.

Sefri Jemandu, Ketua Seksi Humas Panitia Penti dan Congko Lokap Kampung Welo kepada VoxNtt.com Rabu (27/6/2017) mengatakan kedua upacara adat itu didahului oleh tarian Caci yang dilaksanakan selama dua hari berturut-turut yakni 26-27 Juni 2017.

“Yang bertindak sebagai meka landang (tamu) adalah orang dari Pata, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat. Meka landang dari Pata tersebut dijamu oleh pemain Caci Kampung Welo,” ujarnya.

Setelah Caci selesai, kata Jemandu, acara dilanjutkan dengan Barong Wae dan Barong Boa. Upacara Barong Wae dilaksanakan di Wae Welo yang letaknya tak jauh dari Kampung Welo. Sedangkan, Upacara Barong Boa dilaksanakan di Pekuburan Umum Kampung Welo di Welo.

“Istilah Barong Wae itu berasal dari dua kata, yakni “Barong” dan “Wae”. Kata “Barong” berarti mengabarkan, mengundang, memanggil (roh-roh untuk upacara Penti dan Congko Lokap). Kata “Wae” berarti “air”. Istilah Barong Wae berarti mengabarkan kepada roh air bahwa masyarakat adat kampung mengadakan upacara Penti dan Congko Lokap,” jelasnya.

“Sedangkan, istilah Barong Boa berasal dari dua kata, yakni “Barong” berarti mengabarkan, mengundang, memanggil (roh-roh). Kata “Boa” berarti kubur. Jadi, Barong Boa adalah upacara untuk memanggil roh-roh nenek moyang yang sudah meninggal dunia agar bersama-sama dengan kami dalam acara ini,” tukasnya.

Di tempat yang sama, Huber Hamun, tua adat Kampung Welo mengatakan upacara Penti dan Congko Lokap merupakan upacara penting dalam adat istiadat orang Manggarai.

“Penti dilakukan sebagai tanda syukur kepada Mori Jari Agu Dedek (Tuhan Pencipta) dan kepada arwah nenek moyang atas semua hasil jerih payah yang telah diperoleh dan kami nikmati selama ini,” katanya.

Selain itu, Penti juga sebagai tanda celung cekeng wali ntaung (musim yang berganti dan tahun yang beralih). Upacara itu biasa dilakukan setelah semua panenan rampung (sekitar Juni-September). Jika sanggup, acara ini dilakukan setiap tahun tetapi seringkali tak tentu tergantung kesepakatan warga kampung.

“Ada keyakinan kalau acara ini tidak dilakukan, akan membuat Mori Jari Dedek marah. Kalau hal itu terjadi, akan ada bencana-bencana,” tukasnya.

Sedangkan, lanjut Hamu, upacara Congko Lokap merupakan sebuah tradisi Manggarai yang wajib dilakukan untuk meresmikan rumah adat. Secara harafiah, Congko bermakna pembersihan dan Lokap berarti sampah material kayu yang dipakai dalam membangun rumah adat.

“Simbol upacara Congko Lokap yaitu Roba Kaba atau penyembelihan seekor kerbau. Hewan kurban itu disembelih persis di samping Compang (mesbah) yang berada di depan rumah adat,” imbuhnya.

Dengan terlaksananya dua upacara tersebut, Hamu berharap agar Tuhan Sang Pencipta dan arwah nenek moyang orang Welo senantiasa menyertai hidup mereka selanjutnya. (Ferdiano Sutarto Parman/VoN)