Illustrasi (Foto: Istimewa)

Surat Untuk Ibu

Ibu…

Lihat kampung kita

Tanah yang selalu mengirimkan rindu

 

Coba simak berita pada layar kaca

Perpecahan di mana-mana

 

Kini bahkan di depan mata kita Ibu

Mereka saling melampiaskan dendam

Memupuk kebencian yang entah dari mana

 

Ibu kapan kah berakhir ?

Tikung-menikung dalam hujatan

Dan mereka namakan harga diri.


(Ende, Mei 2017
)


Surat Dari Ibu

Anakku tangis pertamamu

Tanda kalau dunia ini penuh kejutan

 

Aku cuma menitipkan jiwa pada ragamu

Sekatup doa-doa ditiap telutku

Lembaran kasih sayang di masa kecilmu

 

Hidup tidak menawarkan kemegahan

Tidak juga memberikan kekekalan

Perjuangan tentu membawa imbalan

 

Tiada untung kau menanam dendam

Atau memecahkan hubungan

 

Belajar berjiwa besar

sebagai satu kehormatan

 

Seperti itulah Matahari

melawan kegelapan

(Kupang, Mei 2017)

_____________________________________

Ketika Puisi Ikut Meletakan Fondasi Kultural

(Catatan atas puisi-puisi Mila Lollong)

Oleh Hengky Ola Sura-Redaksi Seni Budaya Voxntt.com

Secara emotif puisi seharusnya ikut menangisi dan mencatat realitas. Dan dua puisi dari Mila berada pada situasi tersebut.

Dua puisi dari Mila pada edisi kali ini menawarkan satu cara penghayatan untuk memahami konteks dari cara hidup berbangsa dan bernegara yang jauh lebih beradab.

Puisi Surat untuk ibu dan Surat dari ibu adalah luapan kegelisahan sang penyair menyaksikan praktik dari hidup yang gagap budaya.

Pada puisi Surat untuk Ibu, Mila secara amat sederhana membahasakan citraan visual tentang kampung yang selalu mengirimkan rindu tiba-tiba saja kacau-balau karena suasana penuh balas dendam.

Pada puisi Surat untuk ibu Mila menampilkan kepada kita semua bahwa ikatan-ikatan seperti kekerabatan, persahabatan,persaudaraan menjadi luntur karena ketergesaan mempertahankan harga diri.

Hal yang sama juga sama seperti pada puisi Surat dari ibu. Dua puisi dari Mila pada edisi kali ini tampak sangat sederhana toh ia tetap merupakan sebuah kedigdayaan yang mengandung pesan besar dan mulia.

Bahwa manusia yang terjebak dalam kehidupan yang terlalu bersifat artifisal, terjebak dalam ‘kulit’ dan melupakan spirit adalah satu kesalahan yang fatal.

Mila pada dua puisinya pekan ini telah ikut menunjukan daya kreatifnya dalam seni (baca, puisi) yang menggugat keadaan.

Gugatan-gugatan Mila bukanlah sesuatu yang asal bunyi. Ia tetap menyodorkan semacam alternatif, yang bisa saja bersifat kritis, permenungan atau peneguhan bahwa perjuangan harus jadi seperti matahari yang melawan kegelapan.

Secara eksplisit Mila sesungguhnya mau bilang bahwa kegelapan akan melahirkan terang. Dan jalan satu-satunya adalah melawan kegelapan untuk mencapai terang.

Dengan demikian, proses penyadaran dan pencerahan menjadi intensi yang tersembunyi di balik puisi-puisinya.

Dengan cara demikian setiap puisi yang tercipta ikut menghenyakan masyarakat (pendengar dan pembacanya) sekaligus dapat membagikan sikap kritis masyarakat pada umumnya.

Mila dengan puisinya yang hemat saya masih sederhana dalam pengungkapan toh ikut menwarkan satu solusi besar untuk secara responsif saling mengingatkan bahwa ada praktik salah yang harus diterabas dan pada sisi yang lain menggugat, melancarkan protes terhadap tata cara yang buruk dan untuk melwan ketidakadilan.

Surat untuk ibu dan Surat dari ibu sesungguhnya adalah karya berharga yang layak untuk dibaca, dihayati karena karya sastra (baca, puisi) sesungguhnya ikut meletakan fondasi kultural agar hidup senantiasa jadi lebih beradab***