A visitor with the king of Boti (Photo: Boni Jehadin)

(Ole-ole dari Kisah Perjalanan ke Boti-TTS Bagian 1)

Soe,Vox NTT-Ada di Boti seperti ada di alam lain. Astral dan seolah tak bisa diterima dengan akal sehat. Tapi itulah Boti dengan segala spirit hidup selaras alamnya.

Cerita tentang Boti memang terkenal kemana-mana sebagai suku yang menolak tersentuh pengaruh luar. Mereka tetap tinggal dengan segala yang alam berikan kepada mereka.

03 Agustus 2017 cerita tentang Boti memantik rasa penasaran saya untuk berkunjung. Motor Vario-Honda yang jadi teman perjalanan dari Kota Kupang akhirnya menghentakan jejak kaki saya dan seorang kerabat tepat pukul tiga sore, di gerbang masuk kampung Boti.

Lumayan jauh, start pukul sembilan pagi tiba pukul tiga sore. Dengan beberapa kali istirahat sepanjang perjalanan hanya untuk memotret panorama alam yang eksotik.

Tiba di istana sambutan yang hangat dari keluarga kerajaan menambah rasa kagum akan kebersahajaan pada sosok-sosok yang memilih tetap hidup dengan cara mereka. Menutup diri terhadap pengaruh luar bukan berarti tak membangun relasi.

Keluarga kerajaan dan semua rakyatnya tetap menaruh rasa hormat pada tamu yang berkunjung. Suguhan teh manis dan ubi goreng berbalut terigu jadi hidangan pembuka yang menyejukan. Ya, sesejuk alam yang menaungi Boti.

Bersama Kak Pah, seorang anak suku yang menjadi penerjemah raja, iseng saya bertanya apakah hari ini tak ke kebun. Usif atau sebutan untuk sang raja tadi menjawab, hari ini dirinya tak berkebun karena ada informasi kedatangan kami yang diterimanya sehari sebelumnya.

Saya sendiri kaget karena tak pernah memberi kabar tentang kedatangan kami. Usif tahu darimana? Tak perlu, kamu tak perlu tahu. Rasa gugup langsung menghantui diri. Salahkah pertanyaan saya? Tak perlu canggung. Begitu suara kak pah meneguhkan saya.

Banyak orang punya niat datang ke sini tapi hanya yang direstuilah yang bisa sampai di sini. Kamu harus bersyukur bisa sampai. Wauw, hati kecil saya bergetar. Aneh juga ada di sini. Ada semacam banyak pertanyaan berkelebat dalam dada.

Belum hilang rasa gugup, di luar rumah sang Usif tiba-tiba hujan turun. Hanya sekitar belasan menit saja. Cuaca baru saja cerah kok tiba-tiba hujan. Sontak pertanyaan yang hendak saya ajukan itu keburu dijawab. Hujan turun ini karena alam dan seluruh isinya di Boti ini merestui kamu ada di sini. Begitu kata Usif. Mamamia, hati kecil saya bergumam takjub. Aneh bin ajaib.

Semua yang terjadi seperti sudah berada dalam rekaan orang-orang Boti. Malam pun merayap turun. Suasana lengang. Makan malam di rumah Usif pun tersaji.Nasi dari beras, jagung bose, ayam kampung juga telur ayam jadi menu makan malam yang gurih.

Malam pertama di Boti adalah malam yang melenakan imaginasi-imaginasi saya. NTT ini terlalu unik dengan segala keterberian. Ada di Boti dan mengalami semacam aura jiwa yang lebih dahulu datang menyapa sang Usif untuk tidak ke kebun.

Demi bela-belain untuk menyambut kami. Juga hujan yang turun adalah seperti sebuah goncangan bahwa yang astral itu ada di tanah orang-orang yang memasrahkan diri pada kepercayaan asli mereka.

Uis Neno (penguasa langit) dan Uis Pah (penguasa bumi) itu sesungguhnya terpatri dalam seluruh aura yang terpancar dari wajah-wajah mereka. Ya, di Botilah, segala yang tak mungkin itu seperti menembus batas ketakmungkinan. (Boni/HO/VoN)