illustrasi (Foto: Istimewa)

Borong, Vox NTT-Kopi Flores Arabika Manggarai (FAM) memperoleh nilai tertinggi dalam cupping test di Jakarta International Expo (JIEXPO) pada 10-14 November 2015 lalu.

Kopi yang diproduksi oleh Asosiasi Petani Kopi Manggarai (Asnikom) ini berhasil meraih juara dengan nilai 84,32 point. Kopi Flores jenis Arabika ini berhasil mengalahkan kopi-kopi dari daerah lain di seluruh Indonesia.

Empat belas juri dari Specialty Coffee Association Indonesia (SCAI), SCA Jepang, dan SCA Eropa sepakat menempatkan kopi FAM dengan nilai tertinggi.

Kopi lain dari Manggarai yaitu Flores Robusta Manggarai juga mendapatkan nilai tinggi yakni 83,94.

Prestasi ini merupakan secuil kisah dari sekian banyak keberhasilan petani kopi Manggarai yang telah mengharumkan kopi Flores di kancah nasional bahkan internasional.

Jika menoleh lebih jauh ke belakang, nama besar kopi Manggarai telah melegenda sejak zaman pemerintahan Kolonial Belanda.

Pada tahun 1937, petani Colol, Kabupaten Manggarai Timur memenangi sayembara ‘Pertandingan Keboen’ Kopi yang digelar oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Masyarakat adat Colol, Manggarai Timur mendapat nilai tertinggi dalam kesesuaian penanaman dan perawatannya.

Pemerintah Belanda kemudian menganugerahi selembar bendera tiga warna pada para petani atas keberhasilan mereka membudidayakan kopi.

Terancam Punah

Kenangan sejarah memang telah membuktikan kualitas unggul kopi Manggarai, Flores, NTT. Namun, perubahan zaman yang demikian pesat mengancam eksistensi komoditas unggulan ini dari budaya masyarakat setempat.

Salah satu masalah yang paling mendasar adalah minimnya motivasi kaum muda untuk menjadi petani kopi.

Menurut temuan Asosiasi Petani Kopi Manggarai (Asnikom), saat ini rata-rata usia petani kopi di Manggarai yang masih bekerja berkisar 35 tahun ke atas.

“ Jadi kalau 30 tahun lagi tidak ada anak muda yang menjadi petani kopi, maka sudah pasti budidaya kopi Manggarai akan hilang” ungkap Lodovikus Vardiman, Ketua Asnikom Manggarai ketika ditemui VoxNtt.com di kediamannya di Tangkul, Desa Rendenao, Kecamatan Poco Ranaka Timur, Manggarai Timur.

Padahal menurut dia, kopi merupakan kebutuhan nomor urut dua dunia setelah BBM. Itu artinya selama 30 bahkan 100 tahun ke depan kebutuhan dunia akan kopi masih tetap tinggi bahkan saat ini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan.

Salah satu persoalan utama menurut Lodo adalah kebiasaan masyarakat yang gemar merantau alias menjadi tenaga kerja lintas daerah dan luar negeri (TKI).

“Bahkan setelah SMA anak-anak kita itu lebih memilih untuk menjadi TKI di luar negeri dari pada mengerjakan kebun kopi yang luasnya berhektar-hektar” tutur Lodo kepada Vox NTT, Rabu (18/10/2017).

Menurut dia, kalau saja dalam satu tahun seorang petani bisa mendapatkan 700 Kg kopi melalui  standar olahan Asnikom, maka dia sudah mendapatkan 50-an juta.

Hal ini dikarenakan Asnikom yang bekerja sama dengan Veco memiliki pasaran khusus kopi di dalam dan luar negeri dengan harga yang melampui kopi premium saat ini.

Untuk kopi juria misalnya, saat ini harga yang dibeli dari petani  100 ribu per Kg, kopi kolombia kuning dengan harga 75 ribu per Kg, kopi unggul dengan harga 60-70 ribu per Kg, dan kopi Robusta dengan harga 45 ribu per Kg.

“Jadi tidak semua kopi yang mendapat harga seperti ini tapi kopi specialty yang diolah menurut standar Asnikom” ungkapnya.

Tantangan lain menurut dia adalah masuknya otonomi desa dengan alokasi dana desa yang cukup besar.

“Setelah dana desa dialirkan ke desa, banyak anak muda yang lebih fokus merebut kekuasaan di desa dari pada menjadi petani. Akhirnya generasi muda menjadi malas bekerja. Bahkan pada taraf tertentu menjadi miskin bahkan lebih menguntungkan karena akan mendapat porsi bantuan desa yang banyak pula” terang Lodo.

Mengenai malas bekerja, salah satu penyebabnya menurut dia adalah ketika internet masuk ke desa-desa. Fenomena ini turut mempengaruhi budaya kerja di kalangan anak muda karena sebagaian besar pengguna internet adalah kaum muda.

“Masalahnya ketika kehadiran internet bukan menjadi penunjang budaya bertani tapi malah membuat anak muda ketagihan dengan internet khususnya media sosial” kata Lodo.

Menurut dia, jika persoalan ini tidak segera diatasi dengan serius, maka pada 30 tahun yang akan datang budidaya kopi akan hilang dan produktivitas pertanian pada umumnya akan menurun  di Manggarai.

 Sentuhan Kebijakan Desa

Minimnya keterlibatan kaum muda untuk menjadi petani kopi menjadi masalah utama di titik hulu budidaya kopi saat ini.

Karena itu, menurut Lodo dibutuhkan sentuhan kebijakan mulai dari pemerintah desa agar dapat membangkitkan lagi semangat bertani di kalangan kaum muda.

Salah satu contohnya dengan menggunakan dana desa untuk sekolah lapangan kopi. Sekolah lapangan ini bertujuan untuk mendidik masyarakat khususnya kaum muda bagaimana mengolah kopi menurut standar kopi specialty yang kini digemari masyarakat dunia.

Saat ini, menurut Lodo, pemerintah desa yang berani menggelontorkan dana desa per tahun untuk sekolah lapangan kopi ini hanya desa Rende Nao, Kecamatan Pocoranaka Timur, Matim.

“Melalui sekolah lapangan ini, kita dapat mengajarkan petani muda cara mengolah kopi mulai dari persiapan lahan, penanaman, perawatan, pemetikan, sortir sampai pada kemasan kopi. Sebenarnya untuk pasar kita tidak sulit karena dengan bantuan LSM Veco kita sudah memiliki pasaran khusus yang harganya jauh dari pasar premium” tutur Lodo.

Karena itu, pria kelahiran Tangkul ini menghimbau agar pemerintah desa di Manggarai yang di wilayahnya memiliki banyak petani kopi punya kehendak politik agar bisa membangkitkan budidaya kopi yang profesional.

“Kalau bermental proyek ya ini saatnya memperkaya diri, tapi kalau mau membangun, ini saatnya berbenah” pungkasnya.

Sebagai ketua Asnikom Manggarai Raya, Lodo juga berharap agar makin banyak petani yang bergabung dengan organisasi petani kopi ini agar punya posisi tawar yang tinggi di tengah monopoli harga kopi yang dimainkan cukong.

“Saat ini petani kopi yang bergabung dengan Asnikom sebanyak 1.035 orang. Angka ini sebenarnya masih sangat sedikit dari total jumlah petani di Manggarai. Semakin banyak yang bergabung, maka jalan kesejahteraan petani kopi juga makin terbuka” tutup Lodo.

Penulis : Irvan