Andika Tandang

Oleh: Andy Tandang

Sumpah Pemuda adalah salah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Ia hendak memproklamirkan cita-cita akan sebuah tanah air yang satu, bangsa dan bahasa yang satu: Indonesia.

Dalilnya adalah memperkokoh kesatuan dari ancaman disintegrasi dan bersama-sama mempertebal rasa nasionalisme. Nasionalisme, kala itu menjadi spirit yang mampu melumpuhkan ‘gangguan’ imperialisme berkedok ekspansi ekonomi maupun politik. Namun, saat ini kita justru menemukan ada sebuah pergeseran spirit historisitas  dalam embrio pergerakan para pemuda.

Pergeseran Sipiritualitas

Kini, persatuan cenderung diterjemahkan dalam kerangka komplotisme untuk menimbun sejumlah rupiah dari saku pemerintah. Ia hadir dalam skenario konspirasi elitis di balik ruang tawar-menawar harga bersama pemilik modal. Demikianlah, untuk menjaga harmoni bersama para pemangku kekuasaan, persatuan dalam sebuah janji ‘satu kaki’ menggembok nalar kritis yang mengganggu kenyamanan negara.

Pemuda Serakah, adalah diksi yang tepat untuk menggambarkan kenyataan itu. Para Pemuda serakah itu membiarkan diri ditelanjangi demi mempertebal isi dompet. Suara kritis keberpihakan mereka yang kerap bertebaran di ruang publik pada akhirnya hanyalah narasi omong kosong yang menutup segudang kebobrokan. Publik dibikin merinding lantaran seolah-olah getol meneriakkan keberpihakan.

Para pemuda serakah adalah representasi keserakahan elit yang gemar menilep uang rakyat dalam gaya dan cara yang ‘berbeda’. Elit cenderung merampok uang rakyat untuk memuluskan kepentingan pribadi maupun kelompok. Pada gilirannya remah-remah rupiah dari saku para elit itulah yang diincar oleh para pemuda serakah untuk kepentingan pragmatis pula. Jalur koordinasi perampokan itu sama. Sumber rampokannya pun sama. Jadi, mereka semua sama-sama perampok.

Pendapat tersebut bisa saja mendapat bantahan keras. Siapa bilang generasi muda sekarang yang getol meneriakkan keadilan itu adalah ‘Pemuda Serakah’? Atas dasar apa? Untuk menjawab itu, mari kita kaji bersama sebuah even nasional baru-baru ini, yang diselenggarakan para pemuda dengan dana (yang katanya) miliaran rupiah: Jambore Kebangsaan Kewirausahaan.

Para pemuda dari seluruh penjuru negeri berbondong-bondong hijrah ke Jakarta hanya untuk mengambil bagian dalam sebuah perayaan yang hemat penulis hanya seremonial politik belaka. Bayangkan, biaya operasional mereka ‘semuanya’ ditanggung negara melalui tanga-tangan para makelar.

Sulit untuk mendefenisikan misi otentik yang di bawa pemuda dari daerah ini. Sebab, secara kasat mata aktivitas harian mereka yang sering diketahui publik adalah menebar foto-foto kece dengan balutan senyum yang tak tahu malu di ruang media sosial. Barangkali ini terlalu kejam, tetapi kondisi kesejehteraan masyarakat Indonesia saat ini lebih kejam. Semoga saya salah.

Bandingkan dengan data kemiskinan versi Badan Pusat Statistik tahun 2017. Pada bulan Maret 2017, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen), bertambah sebesar 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen). Selama periode September 2016–Maret 2017, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 188,19 ribu orang (dari 10,49 juta orang pada September 2016 menjadi 10,67 juta orang pada Maret 2017).

Di tengah situasi kemiskinan seperti itu, para pemuda justru menyusup dalam lingkaran yang sering saya sebut ‘penghamburan uang’ untuk memuluskan upacara politis para elit. Cukup ngeri; ketika deretan fakta kemiskinan menghiasi wajah kehidupan masyarakat Indonesia, pada saat yang sama para pemuda terlelap dalam arus mata uang yang membuat bulu kuduk merinding.

Generasi Pemuda Jaman Now dan Virus Pragmatisme

Virus pragmatisme memang sudah menjalar kesetiap sendi-sendi kehidupan para pemuda masa kini. Virus tersebut juga mulai menggejala di setiap kalangan organisasi kepemudaan kita pada dewasat ini, terutama organisasi pergerakan mahasiswa. Gelagat pergeseran orientasi tersebut nampak terlihat jelas dalam aktivitas gerakan organisasi yang muncul ke permukaan.

Di saat pergantian kepemimpinan, mereka begitu ramai dan sibuk berlomba-lomba meramaikan kontestasi hajatan seremonial tersebut. Punya kompetensi atau tidak, bukan masalah, asalkan punya modal. Padahal, saat masyarakat sedenag mengalami musibah dan membutuhkan uluran tangan, mereka seringkali absen dari agenda-agenda penting gerakan.

Tepat pada titik inilah, idealisme yang oleh Tan Malaka disebut sebagai kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda telah berhasil ditukar-tambah dengan kepingan mata uang para pemilik modal, atas restu negara. Para pemuda gagal mempertahankan keutuhan rasionalitas untuk tidak terjebak dalam skema permainan para broker.

Tatanan Dunia Baru

Realitas global saat ini tentunya menuntut pemuda untuk bertindak secara tegas. Dalam membangun solidaritas untuk melawan dominasi agen neokolonialisme-imperialisme yang bercokol di kalangan pemerintah. Pemuda memiliki peran yang sangat besar untuk menjadi ujung tombak gerakan tersebut. Hanya dengan solidaritas pemuda yang kuat, neokolonialisme dan imperialisme bisa ditumbangkan dengan segera.

Berhasil atau tidaknya perlawanan terhadap neokolonialisme-imperialisme tentu akan dinilai dari hubungannya dengan gerakan pemuda. Generasi yang lalu, generasi sekarang, maupun generasi yang akan datang akan menjadi aktor-aktor nyata dari perjuangan. Kegagalan atau keberhasilan perjuangan akan sangat tergantung dari gerakan pemuda tersebut.

Selanjutnya, keberhasilan perjuangan pemuda tersebut akan menuntun kita semua menuju terwujudnya tata dunia baru tanpa neokolonialisme dan imperialisme yang sudah lama dicita-citakan rakyat. Hal itu terjadi jika para pemuda tidak dikunci di bawah selangkangan kapitalis.

Perjuangan melawan neokolonialisme-imperialisme ini secara keseluruhan bisa tercapai dengan memperhatikan beberapa konsepsi dan cita-cita rakyat, seperti yang telah dinyatakan oleh Soekarno dalam pidato di depan Sidang Umum PBB Ke-15, 30 September 1960.

Konsepsi dan cita-cita tersebut tertuang dalam Lima Dasar yang merupakan konsepsi universal, yang bisa dijadikan dasar sebagai perjuangan mewujudkan tata dunia baru melawan neokolonialisme dan imperialisme. Semangat ini mestinya dipakai pemuda untuk merombak dominasi neokolonialisme dan imperialisme yang selalu bermain di aras kekuasaan elit.

Pemuda harus mampu bersumpah mempertahankan nasionalisme dengan tidak bersetubuh di ruang konspirasi pragmatis. Pemuda harus mampu bersumpah mempertahankan nasionalisme dengan tidak menjilat ludah pemilik modal. Lebih dari itu, pemuda harus mampu bersumpah mempertahankan nasionalisme dengan rela hidup ‘miskin’ sebagai bentuk keberpihakannya pada kaum tertindas.*

*Penulis adalah pengurus pusat PMKRI