Illustrasi Pemimpin (Foto: Republika)

Kita butuh figur publik yang berani dan tegas dalam setiap kebijakan tanpa perlu dibayang-bayangi oleh ketakutan dan intervensi figur bayangan.

Oleh: Marsel Koka

Catatan kecil ini sebetulnya lahir dari gejolak dan kekacauan bepikir yang selalu menganggu kerja otak saya  dan juga mungkin anda sekalian.

Saya harus bersikap jujur dan sedikit tegas untuk mengatakan bahwa saat ini kita sedang mengahadapi badai kemanusiaan yang begitu masif dan sistematis.

Akhir-akhir ini kita dengan mudah mendengar berbagai kasus kekerasan, kejahatan dan juga hoax yang terus medominasi ruang publik kita.

Relitas hidup kita menjadi tempat yang angker dan runyam dengan keburukan. Sebut saja misalnya dalam bidang politik, di sana kita akan menyaksikan dengan jelas praktek KKN yang diladeni oleh pejabat Negara baik di pusat maupun di daerah dan bahkan hingga ke desa-desa.

Lalu kita hanya mampu menatap mereka dengan mata melotot dan liur yang meleleh jatuh membasahi baju-baju kotor kita. Hukum kita memang sudah sangat tidak bertaring sejak lama.

Dari dulu, kini dan mungkin sampai selama-lamnya kita akan terus mendengar ungkapan klasik ini ‘hukum itu hanya tajam ke bawah namun tumpul ke atas’.

Sudah menjadi pengetahuan umum kalau hukum di negeri ini sarat diskriminatif sebab dia hanya ditegakkan bagi yang kecil dan papa sedangkan yang berkuasa dan berduit disepak dengan seonggok rupiah, kemudian mati.  

Dalam bidang ekonomi pun sama. Kemiskinan masih menjadi trending topik yang menguasai ruang publik kita akhir-akhir ini. Di sana sini kita mendengar berita busung lapar, rakyat miskin dan tingkat perantauan yang terus tinggi akibat tuntutan ekonomi keluarga.

Untuk konteks NTT, saat ini propinsi ini masih menempati peringkat ketiga sebagai propinsi termiskin di Indonesia setelah Papua dan Papua Barat. 

Sejauh ini kemiskinan ibarat satu tulah yang tak pernah habis dibasmi. Kita tidak tau kapan stigma dan kenyataan busuk ini terus memeluk bumi kita ini.

Di lain kesempatan kita juga kadang merasa terbuai oleh sikap pemimpin kita yang kadang dengan gagahnya mempromosikan NTT sebagai daerah dengan SDA yang begitu menjanjikan tetapi rakyat miskin tetap mati dalam kemiskinan.

Ada banyak anak kecil yang kehilangan masa depan yang diakibatkan hilangnya kesempatan mendapat pendidikan. Selain itu, kita masih mendengar kisah miris dari anak-anak usia balita yang mati karena minimnya perawatan, serta mahalnya biaya kesehatan yang sulit dijangkau oleh rakyat miskin dan sederhana.

Ada banyak jiwa yang saat ini sedang dalam bahaya maut akibat virus mematikan yang bernama HIV/AIDS. Dari waktu ke waktu hidup mereka dalam ancaman kematian. Besok atapun lusa mereka juga tidak tahu kapan virus mematikan itu terkubur bersama mereka.   

Dalam konteks ini, saya kira Thomas Hobbes benar ketika ia menilai manusia adalah serigala bagi sesamanya.  Inilah fenomena yang menghantaui peradaban kita akhir-akhir ini.

Dunia kita seakan menjadi dunia yang tak nyaman untuk dihuni sebab kekerasan dan kejahatan menjadi sangat mudah terjadi.

Jika demikian apa yang perlu kita bangun di tengah peradapan yang rapuh ini?

Hidup di zaman ini memang butuh  kebesaran jiwa untuk bisa dan terus bangkit dari dari keterpurukan yang luar biasa ini dan coba menata sebuah hidup baru. Cara hidup yang lebih radikal yang mengedepankan kebersamaan, keadilan, perdamaian, cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama yang lain.

Di tengah badai ketidakpedulian yang masif ini, mau tidak mau kita harus hadir sebagai pribadi yang mampu memberikan keyamanan dan kesejukkan serta merangsang kepedulian bagi korban ketidakadilan dalam ruang publik kita.

Butuh Pemimpin yang Peduli dan Progresif

Di tengah badai kejahatan yang sadis ini, kita harus berani memposisikikan diri sebagai pribadi yang peka terhadap teriakkan kaum lemah dan berani mengatakan kebenaran serta menentang segala bentuk manipulasi, kekejian dan kebobrokkan yang sudah mengurat-akar dalam hidup sebagian masyarakat kita.

Selain itu, sedikit lagi kita akan menghelat pesta akbar demokarsi lima tahunan yakni PILPRES, PILGUB dan PILKADA. Sebuah panggung yang akan mempertontonkan pribadi-prbiadi yang siap tempur, tangguh, kokoh dan mungkin juga berbahaya karena licik memoles diri.

Saya yakin mereka tidak akan pernah segan-segan mengumbar janji entah itu benar atau kosong. Intinya pada saat itu mereka berubah menjadi pria gagah dan wanita cantik yang pasti menarik simpatisan banyak orang.

Di tengah situasi yang semakin mengerikan ini kita butuh seorang pemimpin yang benar-benar komit, tulus, jujur dan berjuang bersama dengan rakyatnya.

Kita butuh figur publik yang berani dan tegas dalam setiap kebijakan tanpa perlu dibayang-bayangi oleh ketakutan dan intervensi figur bayangan.

Kita tidak butuh pemimpin yang suka mengumbar janji lalu mengkhianati rakyat yang sudah mempercayakannya.

Kita butuh seorang pemimpin yang mampu memimpin dan merangkul semua bukan memimpin sebagian orang dan golongan tertentu.

Saya yakin kita akan keluar probelmatika zaman ini kalau mampu memilih pemimpin  yang peduli  dan mau mengambil langkah progresif dan solutif terhadap situasi ini.