Marianus Sae dan Emi Nomlemi, calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur NTT yang diusung PDIP (Foto : Istimewa)

Ende, Vox NTT-Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) resmi mengusung Marianus Sae sebagai calon Gubernur NTT 2018. Sementara posisi wakil ditempati Emi Nomleni yang merupakan kader PDIP.

Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri memberi sejumlah alasan mengusung Marianus-Emi untuk bertarung di Pilkada NTT 2018 nanti.

Alasan Megawati disampaikan saat pengumuman empat calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur empat Provinsi yang digelar di Kantor Pusat DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro 58 Jakarta Pusat pada Minggu, (17/12/2017).

Sosok kepemimpinan Marianus selama tujuh tahun sebagai Bupati Ngada, di mata Megawati menjadi pertimbangan khusus. Marianus disebut memiliki prestasi selama masa kepemimpinan.

BACA: Kader PDIP NTT: Keputusan DPP Sangat Keterlaluan dan Konyol

Megawati menilai, sosok Marianus Sae adalah seorang pekerja keras, mempunyai leadership yang cocok dengan karakter masyarakat NTT yang plural dan keras.

Sementara Emi Nomleni dalam pandangan Megawati adalah seorang ibu sederhana dengan penampilan yang rapih, tekun berbakti untuk masyarakat dan partai.

Megawati juga memperhatikan aspek gender, sehingga berharap Emi akan menjadi representasi kaum perempuan dalam jajaran Pemerintah NTT.

Secara khusus kepada Emi yang pada saat deklarasi berpakaian motif tenun Timor yang indah, Megawati berpesan untuk memperhatikan kerajinan tenun dan UKM masyarakat, serta seni dan budaya NTT yang unik.

Sementara kepada Kader Partai, Ketua Umum tegas menyampaikan bahwa beliau mengetahui adanya perbedaan-perbedaan yang tajam dan pro kontra terhadap pilihan yang diputuskan ini.

Namun, beliau berpesan untuk berhentilah berpolemik dan melihat kedepan, bekerja keras untuk memenangkan pasangan Marianus-Emi.

“Kita berhenti berpolemik, mari bekerja dan beri kesempatan rakyat untuk memilih pasangan ini,” pungkas Megawati.

Kepada kader-kader yang tidak melaksanakan keputusan ini, partai akan memberikan sanksi sesuai dengan peraturan partai dan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PDIP.

Ditolak Kader PDIP

Sebelumnya keputusan Mega mengusung Marianus-Emi menuai penolakan tajam dari kader PDIP NTT. Bahkan diantaranya ada yang menolak untuk tunduk pada keputusan DPP PDIP.

“Saya menolak untuk tunduk pada keputusan partai. Di NTT, PDI Perjuangan adalah partai berkuasa selama kurang lebih 15 tahun. Masa mau kadernya di posisi 2. Ini keputusan paling konyol yang pernah ada,” ungkap Dolvianus Kolo, salah satu kader PDIP NTT saat dikonfirmasi VoxNtt.com, Minggu sesaat setelah keputusan itu diumumkan.

BACA: PDIP Usung Marianus Sae-Emi Nomleni

Penyesalan Dolvi, demikian ia disapa, cukup beralasan. Pasalnya Marianus pada pilkada Ngada kali lalu mengalahkan calon dari PDI Perjuangan. Tapi malah kemudian diusung oleh partai menjadi cagub.

“Ini namanya partai mengangkangi kadernya sendiri. Apa ini yang disebut partai kader? Saya kira tidak,” ungkap anggota DPRD Provinsi dari fraksi PDIP ini.

Selain itu, demikian Dolvi, NTT merupakan basis PDIP. Keputusan DPP dinilainya sudah sangat melukai hati mayoritas rakyat NTT dengan tidak mengusung kader sendiri.

Dikatakan Dolvi, karena partai sudah tidak mendukung kader maka sudah pasti mesin partai akan parkir.

“Yang ada pura-pura terima keputusan DPP agar terlihat loyal. Artinya sudah pasti PDIP akan kalah telak,” tegas mantan ketua GmnI Cabang Kupang ini.

“Saya sebagai kader partai tegas menolak keputusan partai apapun risikonya,” lanjut dia.

Penyesalan paling mendalam, menurut Dolvi ketika ada kader partai yang sudah habis-habisan berjuang membesarkan partai dari sejak masih PDI pro Mega malah dilengserkan. Yang dia maksudkan adalah Raymundus Fernandes, Bupati TTU dua periode.

“Bupati TTU 2 periode dan di periode kedua lawan kotak kosong, hasilkan 8 kursi DPRD Kabupaten dan 2 anggota DPRD provinsi NTT dari dapil TTU-Belu. Apa ini bukan prestasi?” pungkas Dolvi.

PDIP menurut dia, menutup mata terhadap keringat kadernya sendiri maka dari itu keputusan ini dinilai keterlaluan dan paling konyol yang pernah ada.***

Penulis : Ian Bala

Editor: Irvan K

alterntif text