Ceslaus Tele, kepala tukang bangunan

Bajawa, Vox NTT- Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) Lampatahbi, Desa Ngara, Kecamatan Riung Barat, Kabupaten Ngada, Bernabas Sabang diduga membohongi tukang yang mengerjakan dua ruangan kelas baru (RKB).

Pasalnya, prosentasi pekerjaan sudah mencapai 65 persen. Namun hingga kini tak sepeserpun upah kerja diberikan oleh Kepsek Sabang.

“Kita berulang-ulang kali ketemu namun tidak gubris,” kata Ceslaus Tele, kepala tukang bangunan ketika ditemui VoxNtt.com di Bajawa, Rabu (20/12/2017).

Ceslaus menceritakan pada awal bulan Juni 2017 terjadi kesepakatan antara tenaga kerja dan kepala sekolah Bernabas Sabang bahwa upah kerja akan diberikan 50 juta rupiah. Itu dengan sistem pembayaran secara bertahap sesuai kondisi fisik bangunan.

“Sampai saat ini bangunan sudah mencapai 65 persen, tetapi berkali-kali kami minta upah, Kepala Sekolah Bernabas Sabang tidak pernah gubris dan selalu menghindar,” tuturnya.

Cesalus menegaskan, dirinya bersama anggota tukang yang berjumlah 13 orang menjadi korban dari kebijakan Kepala Sekolah Bernabas Sabang. Pasalnya, secara sepihak Kepsek Sabang menyampaikan secara lisan telah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada Ceslaus dan kawan-kawan dengan alasan yang tidak jelas.

PHK yang dilakukan oleh Kepsek Sabang juga tidak melalui surat melainkan penyampaian lisan.

“Apakah dalam juknis mengatur PHK kepada seseorang sebagai tenaga kerja secara lisan memiliki kekuatan hukum?” tanya Ceslaus.

Dia juga merasa kesal dan kecewa dengan sikap Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada terkait persoalan tersebut.

Pasalnya, Ceslaus sudah lima kali mengadu ke dinas itu, tetapi hanya menjawab tidak tahu dan urusan tukang adalah kewenangan kepala sekolah.

Lantaran tak membayar mereka yang sebelumnya sudah melalui berbagai pendekatan, Ceslaus dan kawan-kawan kemudian mengambil pilihan untuk melaporkan persoalan tersebut ke Polres Ngada.

‎Dia menilai perbuatan Kepsek Sabang sebagai bentuk perbuatan pidana penipuan.

‎Pada kesempatan yang sama salah satu tenaga kerja Andereas Rema mengharapkan agar penegak hukum bisa menyelesaikan masalah ini seadil-adilnya.

“Kami ini orang susah dan tidak tau untuk masalah, mohon pak Kapolres bisa bantu kami untuk selesaikan masalah ini,” kata Ande Rema.

‎Semantara itu, hingga berita ini diturunkan Kepsek Sabang belum berhasil dihubungi. Meski berkali-kali dihubungi, namun nomor teleponnya sedang tidak aktif.
‎Penulis: Arkadius Togo
Editor: Adrianus Aba

alterntif text