Marselis bersama istri (Foto: Dok Tim)

Oleh: Cyprian Guntur

Sederhana, orisinal, simpatik dan penuh kewibawan adalah kesan pertama kali saat saat saya bersua dengan Bapak Drs. AKBP Marselis Sarimin, M.Pd (Selanjutnya saya sebutkan Pak Marselis). Saat itu saya berstatus sebagai Frater Fransiskan (Ofm) di Jayapura-Papua. Tepatnya pada bulan Agustus 1995. Saya mengenalnya sejak pertama kali pada acara pertemuan keluarga Manggarai di salah satu rumah keluarga di Jayapura.

Sebagai orang Muda, secara pribadi saya sangat tertarik dengan kepribadiannya dari salah satu sesepuh dari Manggarai ini. Kesan pertama itu semakin terbukti pada perjumpaan-perjumpaan selanjutnya dengan pak Marselis.

Di balik ketegasan, kecerdasan dan kerendahan hatinya sebagai orang tua, saya melihat juga sisi kemanusiaannya yang humanis, ringan tangan dan suka membantu. Juga terlihat tangkas, cerdas dan tegas. Dan dalam setiap pertemuan tampaklah pribadi yang sangat runut, terstuktur dan sistematis dalam penyampaian argumentasi-persuasifnya. Kesan pertama itu membawa saya untuk lebih mengenal siapa sebenarnya Pak Marselis ini dan apa profesinya.

Tidak cukup mencari tahu pada orang-orang yang sudah lama bersama denganya, lalu saya meminta riwayat hidupnya, sejak masa kecil sampai kini beliau menjadi seorang Pamen Polda NTT, setelah hampir setahun mengemban tugas sebagai Kapolres kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.

Berikut saya mencoba menarasikan pribadi beliau. Tentu saja nukilan berikut ini tidak sempurna dan bisa saja pak Marselis menerima atau menolaknya. Karena saya yakin, yang lebih mengenal dirinya secara terperinci adalah orang yang bersangkutan.

Saya hanya mencoba menarasikan apa yang saya dengar dari orang lain, yang saya amati, alami dan rasakan dalam keseharian selama hidup bersama di Papua. Untuk menganal wawasan dan orientasi hidupnya saya mencoba membaca dari sumber-sumber sekunder lainnya.

Selayang Pandang pak Marselis di masa kecilnya

Dari riwayat hidup yang dikirimkannya saya mencoba menyusun narasi ini walaupun seadanya. Dialah Drs. AKBP Marselis Sarimin Karrong, M.Pd atau yang dikenal dengan  sapaan Pak Marselis yang masa kecilnya dihabiskan di Mukun kabupaten Manggarai Timur. Marselis lahir dari keluarga sederhana pada tanggal 15 Februari 1961 di Mukun.

Seperti kita yang lainnya, pada masa kecilnya pak Marselis diasah, diasih dan diasuh oleh kedua orangtua dan kakak-kakaknya. Orangtua membesarkan dan menyekolahkannya di SD 1 Mukun. Menarik untuk kita simak riwayat hidup dari pak Marselis ini.

Mengapa? Sebab tidak biasanya, orang merantau ke tempat jauh dijalankan semenjak masih berusia dini. Lain halnya dengan perantau yang satu ini. Sebab selesai Pendidikan Dasar pak Marselis langsung berkiprah ke Irian Jaya yang kini dikenal dengan Tanah Papua. Bagaimana perjalan hidupnya? Silakan menyimak.

Riwayat Pendidikan umum

Bagi yang pernah mengalami hidup di tanah rantauan, keadaan serba sulit pada masa-masa awal pasti menjadi santapan harian. Demikian juga dengan pak Marselis.

Bayangkan saja, baru tamat Sekolah Dasar dari kampung halamannya di Mukun yaitu pada tahun 1975, Marselis kecil harus bisa menyesuiakan diri di tempat yang sangat jauh dari keluarga dan sanak saudaranya di tanah kelahiran.

Seperti para perantau lainnya, Marselis harus merasakan kesulitan hidup dalam beragam aspek. Ditambah lagi saat-saat itu  masih berkecamuk dengan status Irian Jaya (kini Papua) berintegrasi dengan NKRI.

Marselis yang masih baru saja beranjak  remaja tetap kuat dalam menghadapi kesulitan-kesulitan itu.Terdesak oleh keadaan serba sulit itu, Marselis harus berjuang layaknya seorang dewasa untuk memikirkan banyak hal.

Mulai dari  memikirkan tempat tinggal, makan minum, kebutuhan harian sampai memikirkan pendidikan lanjutannya. Namun sebagaimana para perantauan lainnya kesulitan ini dapat diatasi. Maka pada tahun 1976 Marselis melanjutkan pendidikan SMP-nya di di Sekolah Teknik Negeri Sentani kabupaten Jayapura hingga tamat pada tahun 1978.

Mengingat pentingnya pendidikan, pada tahun 1978 Marselis terus melanjutkan SMA-nya di Sekolah Teknologi Menengah Negeri Jayapura-Papua dan tamat tahun 1981.    

Riwayat Pendidikan dan jenjang kepangkatan di kepolisian

Setelah tamat SMA, Marselis tidak melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi karena sejak saat itu Marselis yang semakin beranjak dewasa mulai memikirkan masa depannya. Maka dia mencoba test menjadi anggota kepolisian Republik Indonesia dan alhasil diterima.  

Pada tanggal 17 November 1984 Marselis menerima SK dari Kapolri No SKEP/Trim-69.G/XI/1984, dengan pangkat Sersan Dua (Serda).

Pangkat Serda dijalankan Marselis selama 4 tahun. Pada tanggal 1 Oktober 1988, Pangkat Marselis dinaikkan menjadi Sersan Satu (Sertu)  dengan SK bernomor : SKEP/04/XI/1988.

Empat tahun kemudian yaitu tanggal 1 Oktober 1992 pangkat Marselis dinaikan lagi menjadi Sersan Kepala (Serka). Pejabat yang memberikan SK adalah Kapolda Irian Jaya pada saat itu.

Kerja keras  Marselis sebagai anggota Polisi Republik Indonesia berbuah hasil. Karena prestasinya itulah maka pada tahun 1992 melalui Kepres nomor 39/ABRI/1995, Polisi Marsel menerima SK dari Presiden RI sebagai Letnan Dua Polisi Republik Indonesa (Letda Pol).

Marselis terus bekerja keras dan hasilnya pada tahun 1995 jenjang kepangkatannya menjadi Letnan Satu (Lettu Pol). Saat menjalankan tugasnya sebagai polisi dengan pangkat Lettu Pol inilah Marselis tidak lupa dengan status pendidiknya.

Sambil menjalankan tugas dan tanggung jawabnya Sebagai Polisi, Marselis mengikuti kuliah di Sekolah Tinggi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial di Yapis Jayapura hingga tamat pada tahun 1994 dan meraih Sarjana.

Selanjutnya secara berturut-turut jenjang kepangkatan Marselis semakin menanjak. Pada tahun 2002 pangkat yang diraihnya adalah APK dan pada tahun 2006 sebagai Kompol.  Pangkat terakhir yang diraihnya adalah sebagai AKBP dengan SK no KEP/364/VI/2011 pada tanggal 27 Juni 2011.

Jenjang Jabatan dan Pekerjaan sebagai POLRI

Prestasi Marselis sebagai anggota Polisi yang sukses terus menanjak. Dengan status sebagai sarjana dan prestasi demi prestasi yang disabetnya di kepolisian, jabatan demi jabatan diraihnya. Secara berturut-turut selama menjadi polisi berikut jenjang kepangkatannya.

Paur Regiden Dislantas Polda Papua dijabatnya pada tahun 1995-1996. Pada tahun 1996 suami Kompol Yulianik ini memegang jabatan sebagai Kaur Regiden Sat Lantas Polres Jayapura. Dan pada akhir 1996 sampai dengan tahun 2000 Marselis menjabat sebagai Kasat Lantas kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat.

Dari Manokwari, Kapolda Papua memindahkan Marselis ke kabupaten Merauke sebagai Kasat Lantas. Selama 3 tahun Marselis memimpin Sat Lantas di Merauke yaitu pada tahun 2000-2003.

Dari Meruke Kapolda Papua kembali mempercayakan Marselis sebagai Kasubbag Remin Dit Lantas Polda Papua pada tahun 2003-2008.

Setelah 5 tahun di Polda Papua, pada tahun 2008-2010, Kapolda Papua kembali mempercayakan Marselis untuk memimpin kepolisian di Kabupaten Puncak Jaya yang terkenal dengan basis OPM-nya itu sebagai Wakil Kapolres.

Dari Puncak Jaya Marselis mendampingi Wakapolres kabupaten Boven Diguel pada tahun 2010-2011. Dari Boven Digoel, Marselis kembali lagi ke Jayapura sebagai Kasubdit Kamsel Ditlantas Polda Papua pada tahun 2011-2012.

Sepulangnya dari Boven Digoel itulah, Marselis mengambil program master di Universitas Cenderawasih (UNCEN) Papua hingga meraih gelar master (M.Pd) di bidang Pendidikan tahun 2014.

Pada tahun 2012-2016 Marselis kembali mengabdikan dirinya di Kabupaten Puncak Jaya. Jika tahun 2008-2010 Marselis sebagai Wakil Kapolres, maka pada periode ini Marselis dipercayakan Kapolda Papua sebagai Kapolres Puncak Jaya.

Semasa sebagai Kapolres, daerah basis OPM di distrik (kecamatan) Tinggi Nambut yang terkenal angker dengan gerakan OPM-nya menjadi aman.

Dengan melakukan pendekatan adat suku-suku di sana, Marselis mampu meredam gejolak kelompok bersenjata itu. Dan pada paruh 2016, Marselis memegang dua jabatan sekaligus yaitu sebagai Kabbag Bekum Rosarpas Polda Papua dan sekaligus sebagai Pamen Polda NTT oleh Kapolri.

Selanjutnya Kapolda NTT mengagkat Marselis untuk mengemban jabatan sebagai  Gadik Madya 9 SPN Polda NTT. Jabatan ini dijalankannya pada tahun 2016-2017.

Dari Kupang NTT, selama tahun 2017, Marselis hijrah ke daerah kelahirannya kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur sebagai Kapolres. Dan akirnya tahun 2018 ini, Kapolda NTT kembali memanggil Marselis untuk memperkuat tim Polda NTT  sebagai Pamen Polda NTT sampai sekarang.

Sukses Meredam gerakan OPM di Puncak Jaya.

Kita semua tahu distrik (kecamatan) Tinggi Nambut kabupaten Puncak Jaya Provinsi Papua adalah basis gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Daerah ini di Papua terkenal dengan daerah merah (red area).

Tidak jarang hampir setiap saat terjadi kontak senjata antara anggota gerakan sipil OPM dengan aparat Keamanan (Polri-TNI). Tak sedikit baik personel TNI-Polri maupun anggota OPM meninggal akibat dari kontak senjata ini.

Pada tahun 2008-2010 Kapolda Papua mengangkat Marselis sebagai Wakil Kapolres di kabupaten Puncak Jaya. Sebagai  orang nomor 2, Marselis belum banyak mengambil keputusan-keputusan strategis terkait dengan gerakan OPM.

Kontak senjata antara kelompok OPM dan TNI-Polri masih terjadi setiap saat. Korban demi korban dari kedua-belah pihak berjatuhan. Namun pada saat Marselis dipercayakan Kapolda Papua sebagai Kapolres kabupaten Puncak Jaya pada periode 2012-2016, Marselis mampu meredam gejolak dari gerakan sipil OPM di sana.

Semasa sebagai Kapolres, inilah daerah basis OPM di distrik Tinggi Nambut yang terkenal angker dengan gerakan OPM-nya menjadi aman. Dengan melakukan pendekatan adat suku-suku di sana, Marselis mampu meredam gejolak kelompok bersenjata itu.

Strategi yang dipakai Marselis adalah “bersaudara melalui pintu orang lokal”. Pendekatan yang dilakukannya adalah dengan mengedepankan pendekatan kemanusiaan. Dimana senjata dilepaskan dan dilakukan beberapa kali negosiasi persuasif antara polisi dengan anggoa OPM. Hasilnya daerah merah ini aman saat Marselis mengemban tanggung jawab sebagai Kapolres.

Orang-orang lokal mengaangkatnya sebagai orang tua mereka dan memanggilnya dengan sapaan “ipar dari Timor yang baik hati”.

Sebagai catatan, untuk semua orang yang berasal dari NTT di Papua disebut sebagai orang Timor. Terlepas dari apakah dia orang Manggarai, Ngada, Ende, Kupang, Sumba, Rote-Sabu, Belu, dll, semuanya disebut sebagai orang Timor.

Pribadi yang tegas, tuntas dan humanis

Sebagai orang yang cukup lama hidup bersama Marselis selama di Papua, saya dapat menarasikan pengalaman saya bersama dengannya berikut ini. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari rekan-rekan polisi yang se kantor dengannya di Jayapura Marselis dikenal sebagai pribadi yang tegas, tuntas dan humanis.

Sebagai pemimpin yang tegas, Marselis menerapkan bawahannya untuk selalu menegakkan peraturan dan kedisiplinan yang tinggi. Dalam menegakkan peraturan dan kedisiplinan di korpsnya, setiap ada bawahannya yang melakukan pelanggaran akan mendapatkan sanksi setimpal dengan pelanggaran yang dilakukannya. Maka banyak bawahan termasuk para pejabat di kepolisian yang hormat dan segan pada cara kepemimpinannya.

Namun di balik ketegasannya, Marselis adalah tipe pribadi yang ramah. Dirangkulnya semua bawahannya dengan pendekatan kepemimpinan yang humoris, santun dan penuh persaudaraan dan kekeluargaan.

Dengan demikian, bawahannya tidak takut kepada Marselis. Mereka sesekali datang bertamu di rumah pimpinannya yaitu Marselis dan pak Marselis pun memperlakukan mereka sebagai saudara dan anggota keluarganya. “Relasi personal karena kekeluaraan harus dibedakan dengan relasi fungsional karena pekerjaan”. Itulah prinsip yang diemban oleh Pak Marselis dalam merajut rasa kekeluargaan dan persaudaraan kepada bawahannya juga sesama pejabat di lingkungan kepolisian di mana dia berbakti.

Di kalangan masyarakat Flobamora yang ada di Jayapura dan sekitarnnya, Marselis dikenal dengan orang tua yang bijaksana dan perangkul. Dihimpunkannya banyak orang dari berbagai suku di Papua dengan rasa persaudaraan dan keakraban.

Orang Flobamora di Papua sangat menghormati pak Marselis sebagai sesepuh dan orang tua  yang sangat rendah hati, ringan tangan dalam membantu mereka yang berkekurangan secara ekonomi dan financial. Juga dengan jaringannya yang begitu luas, beberapa orang dari Flobamora dicarikannya pekerjaan.

Dalam bidang olahraga, Marselis sering menjadi donatur utama dalam setiap perhelatan pertandinngan bola kaki baik di kalangan warga Flobamora maupun Warga Manggarai perantauan di Jayapura.

Marselis membesut beberapa tim sepak bola, khususnya dari Manggarai Timur yang selalu meraih juara 1 dalam pertandingan yang digelar. Marselis kerapkali menyumbangkan piala bergilir, piala bagi sang juara dan uang pembinaan bagi kesebelasan yang juara.

Dalam bidang kerohanian,  beliau juga merupakan orang yang sangat taat beragama. Di tengah kesibukannya sebagai salah satu pimpinan di kepolisian, Marselis selalu hadir di setiap aksi keagamaan, baik doa kelompok, maupun kontribusinya untuk pembangunan gereja di sana.

Dengan demikian banyak tokoh rohaniwan, baik pastor dari kalangan katolik maupun pendeta dari kalangan Protestan mengenalnya. Demikian juga agama-agama lainnya. Marselis adalah tokoh multi-agama dan multi-etnis karena pendekatannya yang meretas sekat-sekat perbedaan karena SARA.

Marselis juga sering membantu pasangan muda yang belum menikah. Marselis  melakukan negosiasi dengan Pastor Paroki untuk menikahkan saudara-saudaranya dari Manggarai di Jayapura dan sekitarnya untuk menerima sakramen pernikahan. Maka suatu saat di Jayapura terjadi pernikahan massal pasutri baru yang belum menerima sakramen perkawinan. Marselis pun bersedia membantu urusan administrasi kegerejaan bagi pasutri itu, sehingga dengan mudah mendapatkan sakramen Perkawinan.  

Dalam keluarganya pun, Pak Marselis patut dijadikan sebagai tokoh panutan bagi keluarga-keluarga yang lain. Dia sangat mencintai keluarganya. Betapa pun sibuknya, Marselis selalu menyediakan waktu untuk bersama keluarga.

Bersama-sama piknik, ke Gereja dan juga jika ada event penting, mereka selalu hadir bahkan lengkap dengan anak-anaknya. Benarlah pernyataan ini bahwa di balik kesuksesan seorang laki-laki ternyata ada perempuan hebat di belakangnya.

Kompol Yulianik adalah sosok istri yang sangat kuat membantu suaminya saat bertugas di daerah-daerah rawan. Kerapkali karena tugas pengabdiannya kepada Negara, Ibunda dari tiga dara cantik ini selalu mendukung suaminya. Demikian juga ketiga dara cantiknya masing-masing bernama yaitu Listiani Kartika Sari, Marselina Ajeng Lukita Rini dan Marselina Ayu Pusparani selalu mendukung dan mendokan ayah mereka di medan laga.  Secara ekonomi dan finansial keluarga ini sudah lebih dari cukup.

Dengan segudang pengalaman di atas dan dibarengi dengan keadaan ekonomi yang kuat saya  yakin, Marselis akan membawa perubahan untuk Kabupaten Manggarai Timur, jika rakyat mempercayainya dan Tuhan mengabulkannya untuk menjadi Bupati Manggarai Timur periode 2018-2023. Semoga.***