Dua siswa SDI Alorawe, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo saat menyebrangi kali Aesesa. Foto diambil Selasa, 20 Februari 2018

Mbay, Vox NTT- Kendati ilmu mahal, namun nyawa lebih penting dari segalanya. Kendati dituntut harus rajin ke sekolah, namun terpaksa kewajiban itu dilawan di kala musim hujan tiba.

Satuasi demikian terpaksa harus dijalani anak-anak yang mengenyam pendidikan dasar di SDI Alorawe, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo.

Sekolah tersebut berada di pegunungan, sekitar 40-an Kilometer dari Kota Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo.

Di musim penghujan, para pelajar terpaksa harus banyak alpa ke sekolah agar nyawa terselamatkan.

Betapa tidak, Kali Aesesa yang begitu besar menjadi momok menakutkan bagi anak-anak SDI Alorawe.

Sungai yang membela Desa Alorawe dan Desa Dhereisa itu kurang lebih berlebar 100 meter dengan kedalaman air sekitar dua meter.

Baca: Derita ke Desa Alorawe Boawae

Sudah puluhan tahun pemerintah belum membangun jembatan permanen di atas Kali Aesesa.

Meski banyak yang alpa, namun sebagian anak-anak SDI Alorawe masih berani melintasi Kali Aesesa di musim penghujan.

Siswa yang berani melintasi kali itu terpaksa harus basah kuyup saat tiba di sekolah. Mereka basah saat melintasi Kali Aesesa.

Tak terkecuali guru-guru SDI Alorawe. Selain mengajar, guru-guru ini juga mengawasi siswa mereka saat menyebrangi Kali Aesesa.

Bahkan, ada guru yang terpaksa menggendong siswa mereka yang kecil karena khawatir terbawa arus kali.

Kisah ini dibenarkan oleh Kepala SDI Alorawe Yohanes Oktaf Molina.

Saat ditemui VoxNtt.com di Alorawe, Selasa (20/o2/2017), Yohanes mengaku, derita pilu seperti itu sudah berlangsung sejak sekolahnya berdiri.

Hingga kini kata dia, jumlah siswa SDI Alorawe keseluruhan 66 orang.

“Saya kasian sama anak-anak setiap hari pergi dan pulang sekolah menyebrangi Kali Aesesa. Saat memasuki musim penghujan seperti saat sekarang‎, kehadiran siswa-siswi di SDI Alorawe alpanya pasti sangat tinggi. Jumlah siswa kita hanya 66 orang. Kalau hujan dan banjir datang hanya 20-an orang. Sehingga kegiatan belajar mengajar kita alihkan untuk membaca saja‎,” kata Yohanes.

Baca: Tidak Ada Jembatan, Petugas Medis Polindes Alorawe Kesulitan Evakuasi Pasien

Ia bercerita, suatu ketika pernah ada kejadian terseret air saat anak-anak menyebrangi Kali Aesesa untuk mengikuti kegiatan O2SN di Kota Kecamatan Boawae.

Yohanes Oktaf Molina

Beruntung kala itu, ada siswa kelas VI dan seorang guru bisa menyelamatkan, meskipun sempat terseret sekitar 200 meter.

Selama ini, kata Yohanes, masyarakat dan Pemerintah Desa Alorawe sudah mengusulkan untuk membangun jembatan di Kali Aesesa.

Berdasarkan informasi yang ia peroleh dari media massa, di tahun 2018 jembatan penghubung akan dikerjakan.

Terpisah, Anton salah seorang wali murid SDI Alorawe mengaku sangat khawatir jika setiap hari anaknya harus menyebrangi Kali Aesesa saat hendak ke sekolah.‎

“Kali Aesesa seringkali airnya tiba-tiba tinggi dan bisa banjir saat musim hujan,” katanya.

Karena itu, Anton berharap agar Pemerintah Kabupaten Nagekeo segera membangun jembatan tersebut.

Menurut dia, jembatan di Kali Aesesa sangat penting untuk memudahkan akses transportasi bagi anak-anak sekolah dan masyarakat .

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Adrianus Aba

alterntif text