Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, Theodorus Suardi (Foto: Adrianus Aba/ Vox NTT)

Labuan Bajo, Vox NTT- Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, Theodorus Suardi merespon adanya kritikan yang menyebut festival komodo tahun 2018 belum efektif dan maksimal.

Menurut Teo, ukuran kurangnya koordinasi dengan para pelaku pariwisata dan keterlibatan masyarakat dalam festival yang berlangsung di Labuan Bajo sejak 5-10 Maret 2018 itu merupakan logika berpikir lurus.

Padahal dia mengklaim, ada begitu banyak masyarakat yang ikut terlibat dalam festival komodo. Saat pawai pembukaan festival, misalnya, ribuan orang ikut terlibat menuju tempat kegiatan di lapangan Kampung Ujung-Labuan Bajo.

Teo menegaskan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan para pelaku pariwisata di Labuan Bajo sebelum menyambut festival dalam rangka mempromosikan binatang raksasa komodo itu. Bahkan, semua pelaku pariwisata sudah dimasukkan ke dalam panitia festival.

“Kemudian pada waktu event ini berjalan setiap hari, menurut kami jauh lebih meningkat daripada tahun 2017,” ujar Teo saat dikonfirmasi VoxNtt.com di ruang kerjanya, Jumat (09/03/2018).

Dikabarkan sebelumnya, Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai Barat Bastian Pandang menilai, hajatan akbar ini belum maksimal dan efektif.

Bastian beralasan, event yang digelar Pemkab Manggarai Barat, Pemprov NTT, dan Kementrian Pariwisata itu belum sepenuhnya meningkatkan partisipasi semua komponen masyarakat.

“Mungkin kendala pada sosialisasi dan anggaran dan yang masih mungkin terbatas untuk mem-backup kegiatan ini. Kemasan dan target festival belum efektif,” katanya saat dihubungi VoxNtt.com, Selasa malam (06/03/2018).

Panitia Festival Komodo lanjut dia, belum efektif melakukan koordinasi dengan pelaku bisnis pariwisata seperti; Asita, HPI, PHR, Dive Operator dan Asosiasi Angkutan Wisata.

Baca: HPI: Festival Komodo Belum Efektif

Padahal koordinasi yang baik sangatlah penting agar kemasan Festival Komodo bisa dimasukan ke dalam program perjalanan untuk mengenalkan obyek-obyek wisata (familiar trip).

Bastian mengatakan, suatu kegiatan pemasaran semisal Festival Komodo tersebut harus mampu menghadirkan semua travel agent atau tour organizer lainnya, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk dapat terjun langsung ke destinasi pariwisata Manggarai Barat.

“Agar bisa tahu persis langsung kualitas atraktif potensi yang ada di Kabupaten Mabar. Tentu selanjutnya akan melakukan pemasaran dan promosi ke wisatawan atau clients dari travel agent atau tour operator,” pungkasnya.

 

Penulis: Adrianus Aba