Om Alexander di lapak dagangannya (Foto: Are de Peskim/Vox NTT)

Maumere, Vox NTT- Che Guevara mengatakan revolusi di mana pun selalu berawal dari cinta.

Itulah yang menjadi dasar keterlibatan pemuda Argentina tersebut dalam perjuangan rakyat melawan penguasa lalim di sejumlah negara di Amerika Latin kala itu.

Ribuan mil dari Kuba dan puluhan tahun dari eksodus Gran Ma, ada sosok lain yang meyakini hal serupa.

Namanya Alexander (51). Dia bukan gerilyawan atau pemikir.

Om Alex, demikian ia biasa disapa, adalah pedagang sayuran di Pasar Tingkat Maumere.

Suami dari Maria Olivia tersebut telah puluhan tahun menekuni profesinya.

Usaha kecilnya tersebut bukan hanya mampu menghidupi keluarga kecilnya namun juga orang lain.

Kepada VoxNtt.com beberapa waktu lalu di lapak dagangannya, Om Alex mengaku telah menekuni aktifitas berdagang selama lebih dari 20 tahun.

“Kita harus setia dengan pekerjaan kita. Saya melakukan ini karena saya cinta keluarga dan saya tidak ingin mereka menderita,” ungkap suami dari Maria Oliva (41) yang telah dikarunia 2 anak tersebut.

Om Alex sesungguhnya adalah petani.

Di masa mudanya Ia menggarap kebun warisan orang tua di Hewokloang, Kabupaten Sikka.

Akan tetapi, tekanan ekonomi memaksanya mencoba peruntungan lain.

“Kalau kebun dan tanaman komoditi kan hasilnya musiman. Kalau berdagang kita bisa dapat uang setiap hari walaupun tidak banyak,” terangnya.

Cinta lah membuat Om Alex berkomitmen dengan pilihannya.

Om Alex muda mulai berdagang sirih.

Selanjutnya ia banting stir berdagang bawang merah dan bawang putih.

Pada akhirnya ia mulai turut menjual sayuran dan bumbu dapur lainnya.

Om Alex pernah berjualan di Kupang dan Larantuka.

Namun sejak dibukanya Pasar Tingkat Maumere, Om Alex menetap di Maumere.

Lapaknya terletak sebelah kiri pintu masuk Utara Pasar Tingkat Maumere.

Ia mengaku dari hasil berjualan dirinya bisa menyekolahkan 3 orang keponakannya sampai ke jenjang pendidikan tinggi.

Dua diantaranya telah meraih sarjana dan sudah bekerja.

Kebutuhan rumah tangganya juga terpenuhi.

“Setiap hari rata-rata pemasukan kotor bisa sampai Rp 500.000,” terangnya.

Banyak kendala sering dihadapi selama berdagang.

Terkadang sayuran tidak habis terjual dalam sehari.

Namun, pengalaman mengajarkannya cara merawat jualan agar tidak rusak meski tidak disimpan dalam freezer.

Terkait kebutuhan modal, Om Alex bersandar ke koperasi.

Pasalnya ia tak berani meminjam ke bank lantaran bank biasanya mewajibkan adanya jaminan.

Ditanya terkait Pilkada Sikka 2018, Om Alex berharap siapa pun yang terpilih benar-benar menunjukkan cintanya pada rakyat dan para pedagang pasar.

Pertama, ia menekankan pentingnya subsidi modal.

Kedua, penataan Pasar Tingkat Maumere.

Ketiga, pentingnya pelatihan dan pendampingan usaha bagi anak-anak muda.

“Kalau benar-benar peduli dengan kami yah bantu kami terutama anak-anak muda dengan membangun tempat pelatihan lalu dibantu dengan modal jadi mereka bisa berusaha. Sebab banyak anak muda yang menganggur karena lapangan kerja tidak sesuai dengan pendidikannya di universitas,” kilahnya.

Om Alex adalah contoh bahwa anak-anak muda tidak perlu merantau ke luar daerah hanya untuk bekerja di perkebunan sawit atau menjadi pembantu rumah tangga.

Setiap orang yang mencintai keluarganya dan Maumere manise bisa tetap berada di Maumere.

Tentunya itu membutuhkan kebijakan yang populis dari para pemimpin untuk memfasilitasi rakyat membangun usahanya.

 

Penulis: Are de Peskim
Editor: Adrianus Aba