BKH Pose bersama masyarakat di Kecamatan Boleng. (Foto: Irvan K)

Labuan Bajo, Vox NTT- Calon Gubernur NTT dari Paket No. 3, Benny K. Harman dan rombongan kembali menjalani kampanye jilid 3 di Manggarai Barat.

Seperti biasa, Paket dengan tagline “Harmoni” (Harman dan Litelnoni) ini menggunakan waktu kampanye untuk belusukan dari kampung ke kampung, bertemu dan berdialog secara langsung dengan masyarakat.

Metode kampanye yang dipilih Paslon ini memang agak berbeda dengan gaya kampanye umumnya, karena harus jalan masuk keluar kampung, tak peduli siang pun malam.

Cara ini memang efektif karena dapat secara langsung, melihat, mendengar dan merasakan keluh kesah rakyat.

Namun di sisi lain, metode ini juga tentu beresiko, sebab untuk menjangkau kampung-kampung Paslon ini membutuhkan waktu yang cukup dan tenaga yang ekstra karena kondisi medan yang buruk, jalan yang rusak parah. Apa lagi didukung topografi NTT yang sangat menantang.

Medan yang demikian parah ini, tentu saja kerap membuat orang Lelah dan jenuh, bahkan putus asa tapi tidak bagi Paslon ini. Mereka begitu setia walau separuh waktunya untuk istirahat hilang begitu saja.

Dalam beberapa kesempatan, ketika rombongan istirahat sejenak di tengah perjalanan ada anggota tim yang entah sengaja atau ekspresi kelelahan, melemparkan pertanyaan. “Mengapa kita tidak undang saja masyarakat, lalu kita dialog di kecamatan?”.

“Masalah rakyat kita saat ini ada di desa, itulah mengapa kita harus datangi desa-desa. Dan kampanye itu bukan sekedar momentum untuk meminta dukungan rakyat, lebih dari itu, hal terpenting saat kampanye adalah kita bisa melihat, mendengar dan merasakan apa (masalah) yang setiap hari dialami masyarkat kita,” sahut BKH.

Menurut sosok yang dikenal tenang tapi tegas ini, menjadi gubernur itu bukan sekedar untuk berkuasa, tetapi bagaimana kekuasan itu dipakai sebagai alat untuk melayani sesama, terutama rakyat, empunya kekuasaan di republik ini.

“Bagaimana kita bisa menjadi pemimpin, kalau kita tidak mengenal apa persoalan rakyat kita? Apa yang bisa dia selesaikan dari masalah rakyat itu, jika dia sendiri saja tak pernah mengalaminya (masalah rakyat),” tegasnya.

Sepanjang perjalanan, untuk mengusuir kelelahan, tim Paslon ini memang kerap memancing mantan pimpinan Komisi III ini untuk berdiskusi tentang persoalan rakyat. Tentang cinta yang membuatnya kembali untuk mengabdi.

Anak Dading

Senin, 23 April 2018, kira-kira pukul 16.00 wita, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh tibalah rombongan ini di Boleng, sambutan penuh hangat betul-betul dirasakan di sana.

Hoo gi cain anak dading dami (Anak kandung kami telah datang)” begitulah kata yang sempat terucap dari seorang ibu sambil menggengam erat tangan BKH.

Pernyataan Ibu ini adalah symbol kecintaan terbesar terhadap BKH, seolah tak ada jarak di sana selain kedekatan yang melekat, bagai anak dan ibu kandung.

Semangat dan kegembiraan akan kedatangan BKH Bersama rombongan di tempat ini nampak semakin kuat ketika dari kejauhan saat memasuki Pa’ang Beo (Gerbang Kampung) lantunan lagu yang menggambarkan semangat perjuangan Paket ini menyapa pendengaran warga setempat.

“Mantap ta Benny Harman ta, Benny Litelnoni tambang pande mantap ta…Tau cau landuk NTT” demikian sepenggal syair lagu yang terdengar akrab bagi warga Manggarai Raya itu.

Kalau mobil tim di atas bukit, lagu ini terdengar jelas di lembah kampung. Warga tampak penasaran dengan sosok putra asli Manggarai yang namanya disebut dalam lagu tersebut.

Raut wajah mereka terlihat girang saat BKH turun dari mobil dan menyapa mereka dengan bahasa Manggarai.

Tabe mane ende, aku Benny Harman, asa sehat meu? (Selamat sore mama, saya Benny Harman, apa mama sehat-sehat?” Begitulah cara BKH menyapa.

Ta nana, bo ita lami selama hoo tapi one foto kanang, hoo keta cumang lami di (Pa Benny selama ini kami hanya lihat di foto. Ini baru kami ketemu langsung” jawab seorang ibu sambil memeluk erat BKH.

Satu per satu warga kemudian bersalaman tangan dengan BKH.

Semangat warga bertemu langsung dengan cagub asal Manggarai dan Flores ini dirasakan di setiap jalan lintas kampung yang dilalui tim Harmoni.

Tak hanya kalangan orang dewasa. Antusias yang sama juga datang dari orang muda yang sedang nongkrong sambil minum kopi, bahkan anak sekolah dasar yang sedang menikmati waktu istirahat.

Mereka melambaikan tangan sambil mengangkat tiga jari simbol dukungan terhadap cagub nomor tiga ini.

Melihat aksi dukungan spontan masyarakat ini, BKH yang didampingi juru kampanyenya, Ferdi Pantas semakin merasa dikuatkan.

“Ende-ema, ase-kae (bapa mama, adik kakak), terima kasih dukungannya. Ini yang menguatkan saya untuk mengubah NTT,” ungkap BKH.

Penulis: Irvan K