Siswa SMA, SMK, Madrasah Aliyah di Kabupaten Nagekeo sedang mengikuti lomba pidato konsensus dasar berbangsa di Aula Sekda Nagekeo. Gambar diambil Selasa, 31 Juli 2018 (Foto: Arkadius Togo/ Vox NTT)

Mbay, Vox NTT- 75 siswa SMA, SMK, Madrasah Aliyah di Kabupaten Nagekeo mengikuti lomba pidato empat konsensus dasar berbangsa.

Perlombaan yang digelar oleh Dinas Kesatuan Bangsa dan Politik ini berlangsung di Aula Sekda Nagekeo, Selasa (31/07/2018).

Kegiatan perlombaan pidato tersebut langsung dibuka oleh Wakil Bupati Nagekeo Paulinus Yohanes Nuwa Veto.

Dalam laporannya, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Nagekeo Ali Donatus mengatakan, lomba pidato empat konsensus dasar berbangsa bertujuan untuk meningkatkan pemahaman yang utuh dan menyeluruh, serta terpadu bagi anak-anak SMA.

Dalam diri anak-anak SMA diharapkan mampu menanamkan kembali tentang makna nilai-nilai empat konsensus dasar berbangsa.

Keempat konsensus dasar berbangsa, jelas Ali, meliputi Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Dia menambahkan, tujuan lain dari perlombaan tersebut, yakni untuk mengingatkan kembali kepada seluruh komponen, agar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mesti tetap mengacu kepada tujuan negara itu sendiri.

Tujuan tersebut tentu saja sudah tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Selanjutnya, masyarakat mesti bersatu padu melaksanakan pembangunan nasional dan daerah demi meningkatkan kesejahteraan dan keamanan.

Tak hanya sampai di situ goal dari lomba pidato tersebut. Menurut Ali, di balik perlombaan diharapkan mampu meningkatkan pendidikan wawasan kebangsaan, dan harkat martabat bangsa.

Lalu, anak-anak SMA juga diharapkan memiliki semangat nasionalisme, patriotisme dan heroisme dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan negara.

Wakil Bupati Nagekeo, Paulinus Yohanes Nuwa Veto dalam sambutan mengatakan, keempat konsensus dasar berbangsa merupakan penyangga kekuatan akan berdirikokohnya NKRI.

Oleh karena itu, kata dia, sebagai warga negara dituntut untuk senantiasa mengedepankan keempat konsesus dasar tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Pembangunan karakter haruslah sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945 dan wadah NKRI demi terjaminnya keanekaragaman ras, suku budaya dan agama. Terutama kepada generasi muda yang adalah generasi penerus, pemegang tongkat estafet bangsa ini,” ujar Wabup Paul.

Menurut dia, saat ini Indonesia sedang mengalami krisis multidimensi akibat perubahan dalam kehidupan berbangsa bernegara.

Berbagai fenomena bermunculan saat ini tentu saja semakin melunturkan nilai-nilai yang terkandung dalam empat konsensus dasar bangsa Indonesia.

“Apalagi pada akhir-akhir ini kita semua mengetahui adanya kelompok radikal yang melakukan kekerasan dan intoleransi, niat makar terhadap NKRI dan Pancasila, korupsi dan perdagangan Narkoba yang kian merajalela, pertikaian antar etnis, suku dan agama serta bentuk teror dan gerakan lainnya yang mengancam keutuhan NKRI,” katanya.

Paul menegaskan, salah satu yang perlu dilakukan saat ini adalah revitalitas dan reaktualisasi empat pilar penting ini. Keempatnya harus selalu dijaga dan dilaksanakan dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Karena kehidupan kita senantiasa berkembang, dinamis, sehingga pemhaman kita juga harus senantiasa kontekstual,” ujarnya.

 

Penulis: Arkadius Togo
Editor: Adrianus Aba