Sebuah makam bertuliskan RIP NTT terpajang di hadapan Kantor Gubernur NTT (Foto: Boni)

Kupang, Vox NTT- Halaman di Gedung bermotif Sasando itu tampak menggulita. Hanya beberapa sorotan lampu dan cahaya lilin yang mengitari sebuah makam bertuliskan ‘RIP NTT’.

Di sekeliling makam itu, terpajang doa dan foto-foto korban perdagangan orang dalam raut wajah duka, penuh luka dan tampak kehilangan asa. Beberapa korban yang masih selamat juga turut hadir dan fotonya terpajang dalam acara itu.

Suasana peringatan hari Human Trafficking Internasional yang digelar Senin, (30/07/2018) di halaman kanto Gubernur NTT ini, menghantar setiap insan untuk meresapi prahara kemanusiaan yang terus datang. Menghantam provinsi yang terkenal dengan wewangian Cendana ini.

NONTON JUGA VIDEO: Orasi Direktur IRSGC di Hari Anti Human Trafficking

Cahaya penuh warna dan musik dugem yang terdengar dari arah Trans Mart, bagian timur kantor Gubernur NTT, seperti tak mampu mengusik hening dan selimut duka setiap insan yang datang.

Aura gemerlap yang terpancar dari tetangga kantor gubernur NTT itu, tak mampu membasuh wajah mereka yang terlanjur basah bermandikan darah dan air mata.  

Seorang korban yang masih selamat,  Mariance Kabu tampak terpaku dengan wajah lesu. Raut wajahnya seperti kembali mengenang penyiksaan sadis yang menimpanya tahun 2014 silam.

Foto salah satu korban penyiksaan, Ibu Mariance

Tubuh Mama Mariance bergetar ketika saya menggenggam tangannya kala doa lintas umat dikumandangkan masing-masing tokoh agama.

Dia mengenang kisah tragis yang tak mampu diingatnya lagi satu per satu.

Narasi pahlawan devisa yang sering dikumandangkan pemerintah sama sekali tak mampu menyumbang penghiburan untuk hatinya yang terlanjur tersayat.

BACA JUGA: Kematian TKI Masalah Akut di NTT

Nyatanya, mayat para pahlawan devisa itu terus gugur berdatangan. Sejumlah relawan yang setia menghitung kiriman peti jenazah TKI, mencatat 69 kiriman jenazah sepanjang tahun 2018.

Ada yang pulang dengan tubuh penuh jahitan. Pergi dengan tubuh sempurna dan pulang kehilangan organ. Wajah nan cantik dan ganteng berubah muram penuh bekas sayatan luka.

Mimpi membangun rumah layak saat pulang, hanya mampu membangun rumah abadi dalam makam kenangan mereka.

Dalam kegiatan yang mengusung thema: “Perdangan Orang adalah Dosa” itu beragam kegiatan dilakukan, diantaranya membacakan puisi, orasi dan doa bersama.

BACA JUGA: Perdagangan Orang Adalah Dosa

Ketua Sinode Gereja Masehi Injili Timor (GMIT), Mery Kolimon yang membawakan orasi mewakili tokoh agama Kristen mengajak seluruh tokoh agama khususnya gereja di NTT untuk melawan perdagangan orang secara bersama.

Pendeta Mery Kolimon saat berorasi di depan Kantor Gubernur NTT (Foto: Boni)

Gereja, kata dia, harus terlibat secara aktif. Perdagangan orang harus diletakan dalam jantung pelayanan Gereja dan agama.

“Kita bersyukur bahwa di tempat ini masih ada orang-orang yang peduli pada isu kemanusiaan untuk merayakan sebuah hari penting, hari yang menjadi komitmen bersama untuk melawan kejahatan kemanusiaan,” demikian Pendeta Mery mengawali orasinya di hadapan ratusan hadirin.

BACA JUGA: Peta Kasus Kematian TKI per Kabupaten-Kota di NTT

Mery sendiri mengungkapkan kesedihannya yang mendalam ketika tiba di tempat peringatan ‘makam’ kemanusiaan itu.

“Ketika tadi tiba di sini, saya merasa terharu. Di sana ada Transmart yang berceritra tentang kemajuan daerah ini dan di sini ada Kantor Gubernur dimana kita berkumpul di pinggiran kuburan ini mengenang 60 lebih orang yang telah meninggal tahun ini dan ratuasan yang telah meninggal sebelumnya” pungkas Mery.

Lembaran doa untuk korban perdagangan orang

Bagi pendeta Mery, perdagangan orang adalah uka dalam tubuh bangsa, sebuah luka yang berbau busuk dalam masyarakat NTT. Sayangnya, lanjut dia, kita sering kali menutup hidung dan mengatakan luka itu tidak ada. Padahal, setiap hari tubuh yang berbau dan terluka itu pulang dalam keranda, pulang ke kampung-kampung mereka, pulang ke dalam gereja-gereja kita, ke dalam Mesjid kita, dan pulang ke dalam komunitas masyarakat kita.

“Masalah ini begitu kompleks. Siapa bisa mencegah orang muda pergi dari kampungnya? Siapa bisa memberikan harapan bahwa kalau mereka pergi ada perkejaan di seberang sana? Siapa bisa tahu bahwa saudara saya, tetangga saya, kakak saya bukan bagian dari mafia perdagangan orang di daerah ini? Siapa bisa menjamin bahwa polisi, tentara, petugas di Bandara, di Pelabuahan, di Duspenduk bukan bagian dari masalah ini” ungkapnya.

Sebagai tokoh agama, pendeta feminis dari pulau Timor ini, mengajak agama-agama di NTT untuk melakukan pendidikan, pencegahan, tindakan penanganan dan pemulihan terhadap korban human trafficking dan keluarganya.

BACA JUGA: Ini Hasil Kajian IRGSC Terhadap Kasus Perdagangan Orang di TTS

GMIT sendiri kata dia, melalui berbagai upayanya telah melakukan pengajaran, aksi, komunikasi, informasi dan edukasi bagi jemaat-jemaatnya.

“Kami berusaha memberi pesan ini bahwa perdagangan orang adalah sebuah kejahatan, adalah sebuah dosa dan tugas kita semua untuk melawan kuasa dosa itu, melawan kuasa yang merendahkan, merampok, merampas harkat dan martabat manusia” ungkapnya.

Sementara Koordinator aksi, Dhebyy Soro dalam orasinya mengatakan, data yang dirangkum Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) dan Jaringan Kemanusiaan Solidaritas Korban Perdagangan orang (JKSKPO) mengungkapkan, dari awal tahun sampai dengan Juli 2018 tercatat 69 orang pulang dengan peti jenazah.

“Ada juga orang-orang kita yang pulang dengan trauma fisik dan psikis. Tentu kejadian seperti ini menimbulkan duka bagi kita semua,” kata Dhebyy.

Momentum hari Anti Human Traficking lanjut dia, mengingatkan kita pada penderitaan mereka yang menjadi korban perdagangan orang.

Kerisauan ini juga ditegaskan Pendeta Emmy Sartian, dari Jaringan Kemanusiaan Solidaritas Korban Perdagangan orang (JKSKPO).

Pendeta Emmy saat membawakan orasi di hadapan hadirin (Foto: Boni)

Emmy menerangkan, pada waktu yang akan datang kemungkinan NTT akan terus dikirimi peti jenazah dari luar negeri.

“Kemungkinan besar kita akan tetap menerima jenazah pekerja migrant Indonesia (PMI) karena mereka sementara tersebar di berbagai tempat persembunyian akibat kebijakan pemerintah Negara tujuan untuk rehairing,” katanya.

BACA JUGA: Catatan Kritis Atas Kebijakan Buruh Migran di Malaysia

Putu Winata yang mewakili agama Hindu juga menyampaikan orasi. Setiap manusia, terang Putu, memiliki kedudukan yang sama di hadapan Tuhan .

“Tidak peduli apapun suku, agama, ras. Kita adalah sama di mata Tuhan. Kita harus bersama pula melawan segala bentuk penindasan terhadap manusia” kata Putu.

Mengakhiri acara, pemandu mengajak semua orang untuk menyalakan lilin-lilin harapan pada Makam di depan kantor Gubernur NTT tersebut.

Lilin-lilin itu pasti akan mati selekas acara selesai. Namun nyalanya tetap membara dalam hati setiap insan yang peduli pada kemanusiaan.

Di balik cahaya lilin-lilin itu tersirat pesan untuk terus menyalakan cahaya harapan menerangi kelamnya makam di kantor orang nomor satu NTT itu.

Penulis:  Boni Jehadin